bukan “lelah” ini namanya…

huaaahemmmm. . .

Lagi-lagi aku terpaku dalam lamunan. Membangun sebuah alur cerita yang hanya aku dan ilusiku yang ada. Jauh…nun jauh di sana, tak seorangpun dapat mengejarku bahkan untuk menemukanku di sana.

Aku..

Lagi-lagi aku yang hidup dengan penuh keluhan.

( Padahal aku tahu tak seharusnya hidupku tercoreng-moreng dengan segala keluh, kesah yang selalu melanda hati, menebarkan benih-benih kegalauan.)

Aku..

Tak pernah terpikir dalam lamunanku hal seperti yang baru saja aku temukan ini.

Seorang ibu muda, dengan seluruh peluh, keringat membasah dari ujung rambut yang kusam, menetes..mengalir menuju arah yang pasti lebih rendah dari awal dia muncul. Lihatlah kemeja putih yang dikenakannya. Ada beberapa bekas lubang, entah sobekan karena apa. Tangannya tak lagi menenteng sesuatu nyang biasa. Yang kanan menengadah, yang kiri sibuk merapatkan lengan memegang suatu yang bukan biasa. Kakinya tak lagi mulus, kering kusam. Ah,,bukan pada si ibu aku meletakkan rasa kasihanku.

Pada hal yang bukan biasa di tangan kirinya. Ya, seorang bayi yang aku yakin belum genap 3 bulan umurnya,kecil, diam.  Kalaulah TUHAN mengijinkan diperdengarkan keluhnya, pasti dia akan bilang “Aku ga kuat di sini. Sadarlah kalau tempat yang pantas buatku adalah Baca lebih lanjut

Iklan