Kembali Pulang dan Kenangan-Kenangan

Senangnya merantau itu, selalu ada kata “pulang” sebagai ajimat. Dan, pada akhirnya, saya memilih “pulang dulu” setelah tiga tahun terakhir wira-wiri SM-3T dan PPG. Pulang dulu, karena insyaallah perjalanan akan saya lanjutkan di GGD Jilid III.

Karena judul postingnya Kembali Pulang dan Kenangan-Kenangan, maka saya akan bercerita sedikit perjalanan selama tiga tahun terakhir ini.

#1
SM-3T penempatan di Kabupaten Kepulauan Aru. Lokasi pertama di Desa Nafar, mengajar di SMP N 12 Terpadu Nafar. Desa ini sekitar dua jam perjalanan laut dari Kota Dobo. Nafar merupakan desa penghasil sopi (minuman keras dari nira kelapa) terbesar di Kepulauan Aru. Di Nafar, tidak ada listrik, sinyal Baca lebih lanjut

Iklan

Menggapai Mimpi-Mimpi yang Tertinggal

“Pendidikan layaknya pesta yang tidak semua anak negeri mendapatkan undangan

Pendidikan Anak Pelosok

            Matahari belum juga terik di sekolah pesisir ini. Udara masih terasa segar, basah, seperti dedaunan yang berselimut embun. Tapi, saya sudah berada di lapangan sekolah, memukuli bel yang mirip tabung gas elpigi ukuran 3 kg. Jam 07.15 WIT, baru satu-dua anak saja yang terlihat berada di sekitar sekolah. Padahal, peraturan yang ditetapkan adalah “siswa datang ke sekolah maksimal jam 07.15 WIB”.

            Kegiatan di sekolah selau diawali dengan agenda apel pagi. Momentum apel pagi selalu saya manfaatkan untuk melatih kedisiplinan anak-anak. Anak-anak pesisir seperti mereka, harus digembleng dengan serius cara menghargai waktu untuk bersekolah. Pada awal kedatangan saya ke sekolah tersebut, hampir 90 % siswa selalu datang terlambat ke sekolah. Itu berarti sekitar 40 siswa dari 45 siswa di sekolah itu selalu datang terlambat. Belum lagi mereka datang tanpa memakai alas kaki, tanpa membawa tas, dan beberapa anak datang tanpa mandi. Begitulah mereka. Alhasil, mereka harus menebus kesalahannya dengan berdiri menghormat pada bendera merah-putih dalam waktu yang sama dengan keterlambatannya. Atau, membersihkan sampah-sampah di sekitar sekolah.

Pendidikan bagi anak pelosok agaknya bukan hal istimewa yang harus mereka persiapkan secara matang. Bersekolah pun demikian, seperti hanya untuk mengisi sejenak waktu luang di pagi hari saja. Dan, semua pemikiran negatif tentang dunia pendidikan di masyarakat pesisir harus bisa diubah. Dari sinilah cara kreatifku mengajar dimulai: SMP Negeri 3 Samang, Kec. Pulau-Pulau Aru, Kab. Kepulauan Aru, Maluku.

Ironis

Jangan dibayangkan sekolah-sekolah di Kab. Kepulauan Aru seperti di Jawa yang bisa diakses dengan sepeda motor, mobil, atau angkutan kota lainnya. Untuk menjangkau kampung di mana sekolah itu berada, kita harus mengendarai kapal-kapal motor. Medan yang dilalui juga lautan lepas, dengan ombak besar yang menggulung nyali Baca lebih lanjut