Pergi (lagi)

Semua berlalu begitu cepat, dalam hitungan hari yang terus mengerucut hingga sisa hitungan jam saja. Semua perantau paham, bagaimana rasanya meninggalkan kampung halaman. Tapi, beginilah hidup: kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Hati selalu tentram di rumah orang tua, di tanah kelahiran. Tapi, katak dalam tempurung pun pasti ingin keluar melihat dunia. Terlalu mudah hidup jika hanya merasa yang nyaman-nyaman saja. Terkadang kita butuh jatuh untuk tahu bagaimana nikmatnya berdiri. Pun kita butuh salah untuk tahu bagaimana nikmatnya belajar. Ya. Seperti katanya, “Kamu salah, lalu seolah kamu ingin salahmu itu dibenarkan. Kamu sesali masa lalumu, kamu salahkan dirimu sendiri. Bukan, bukan begitu. Kamu salah, lalu kamu menyadari kesalahanmu. Selanjutnya kamu berjanji tidak mengulanginya dan mau belajar dari kesalahan itu. Itu yang benar.” Ah, sering pergi pun nyatanya belum bisa membuatku cukup bijak dan dewasa.

Ia…

9 tahun, dan baginya aku masihlah gadis sederhana yang sedari dulu dikenalnya. Mungkin, beberapa perubahan saja, seperti usiaku yang menua, kegelisahanku yang mendera, dan fokus-fokus hidupku yang mulai bercabang. Oh, banyak perubahan rupanya. Tapi, tidak dengan hatinya, tidak ada yang berubah. Ia teguh, mengabadikan perasaannya kepadaku yang tersimpan sejak tahun-tahun pertama perkenalannya denganku.

Selalu saja ada kejutan di antara pertemuan-pertemuan singkat kita. Mungkin, begitu indahnya takdir Tuhan. Kami, tepatnya ia, datang kepadaku setiap kali aku terjatuh. Entah dari mana dan bagaimana ia tahu, selalu saja ketika aku berada di saat-saat paling kacau dalam hidupku, ia datang. Ia, menawarkan tangannya untuk merengkuhku kembali berdiri, untuk membuatku menyadari betapa berharganya aku, dan segera menyingkirkan pikiran negatif pada orang yang membuatku terperosok begitu dalam pada lubang nestapa itu. Ia tak pernah menyuruhku mengikuti apa maunya, tapi tanpa perlu analisis mendalam pun, semua yang ia katakan adalah kebaikan: maafkan, lupakan, dan bangkitlah!

Rasanya, terlalu bodoh selama ini menganggap diriku payah, sedangkan Tuhan memberi keberuntungan begitu besar padaku. Memilikinya dalam hidupku, tentunya satu keberuntungan besar. Hanya saja, selama ini mataku terlalu buta.
IGN

Rumah bagi Hari-Hari Kalutku: LASKAR BAHASA 4

FB_IMG_14603858246525657

Terkadang, waktu terasa begitu cepat berlalu ketika kita berada di antara orang-orang yang mengasihi kita. Orang-orang yang mengasihi kita itu, selalu melukiskan warna dalam kanvas kusam hidup kita yang nyaris putus asa oleh debu. Dan, kali ini kanvasku mulai menari-nari di antara debu dan polusi ibu kota. Ia telah menemukan gairah warnanya sendiri. Terima kasih, karena telah menyelamatkan kanvas kusam ini dengan menyematkan lukisan keindahan di sana: dua ibu dan dua puluh dua saudara baruku.

Waktu tiga bulan sebenarnya terlalu singkat untuk menggambarkan kedekatanku dengan keluarga baru ini. Namun, aku tak ingin jika perkenalan-perkenalan kami menguap begitu saja seperti asap yang membumbung di langit Jakarta. Biarkan sebentar aku menuliskan ini, merangkai keabadian.

Ibu Lia dan Ibu Tuti

Ibu, adalah muara bagi derasnya arus kerinduan. Baca lebih lanjut

Pendalaman Materi Bahasa dan Sastra Indonesia

Pendalaman Materi Bahasa dan Sastra Indonesia

bagi Mahasiswa PPG SM-3T Prodi PBSI melalui Kegiatan Seminar

            Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) SM-3T dibagi atas lima kegiatan besar, yaitu: workshop Subject Specific Pedagogic (SSP), penyusunan PTK, pelaksanaan PPL di sekolah, Ujian Tulis Lokal (UTL), dan Ujian Tulis Nasional (UTN). Pada semester pertama, kegiatan yang dilaksanakan adalah workshop SSP (berupa pendalaman materi, penyusunan perangkat pembelajaran, dan peer teaching) serta penyusunan PTK. Kegiatan tersebut dibagi ke dalam enam siklus dan dibersamai oleh instruktur yang berbeda-beda pada setiap siklusnya.

            Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia LPTK UNJ beserta koordinator PPG Prodi PBSI mengikutsertakan Laskar Bahasa 4 untuk Baca lebih lanjut

Laskar Bahasa 4 Berwisata ke Ragunan

Laskar Bahasa 4 Berwisata ke Ragunan:

Pembelajaran Menyusun Teks Laporan Hasil Observasi dan Teks Fabel

  Belajar bukanlah sekadar menghafal, tetapi mengonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Berdasarkan prinsip tersebut, pada siklus ke-2, kegiatan yang dilaksanakan oleh Laskar Bahasa 4 tidak hanya workshop penyusunan perangkat pembelajaran di dalam kelas. Akan tetapi, Laskar Bahasa 4 juga melaksanakan study wisata ke Ragunan pada 5 Mei 2016. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari pembelajaran menulis teks Laporan Hasil Observasi (LHO) dan teks fabel melalui pengalaman nyata, yaitu berkunjung ke kebun binatang.

            Kegiatan study wisata ke Ragunan diikuti oleh dua puluh tiga peserta PPG SM-3T Baca lebih lanjut

Pergi

Pergi, mencari angin, menceritakan apa-apa yang tak bisa kubagikan kepada orang lain.

Pergi, menemaninya yang ingin pergi, membuang resah yang setiap hari menghimpit di batang otak.

Pergi, mengeja kesendirian.

Pergi saja.

image

Velodrome, menyusuri BPKP, mencari stasiun Jatinegara, menunggui kereta, menuju Cawang Uki, menyambangi Pinang Ranti, mampir Grogol, ke Harmoni, menepi sejenak di Monas, mengelilingi Monas mencari kawan di Balai Kota, mengikuti arus ke Dukuh Atas, menyibak malam, kembali ke Velodrome mencium aroma asrama.