Kembali Pulang dan Kenangan-Kenangan

Senangnya merantau itu, selalu ada kata “pulang” sebagai ajimat. Dan, pada akhirnya, saya memilih “pulang dulu” setelah tiga tahun terakhir wira-wiri SM-3T dan PPG. Pulang dulu, karena insyaallah perjalanan akan saya lanjutkan di GGD Jilid III.

Karena judul postingnya Kembali Pulang dan Kenangan-Kenangan, maka saya akan bercerita sedikit perjalanan selama tiga tahun terakhir ini.

#1
SM-3T penempatan di Kabupaten Kepulauan Aru. Lokasi pertama di Desa Nafar, mengajar di SMP N 12 Terpadu Nafar. Desa ini sekitar dua jam perjalanan laut dari Kota Dobo. Nafar merupakan desa penghasil sopi (minuman keras dari nira kelapa) terbesar di Kepulauan Aru. Di Nafar, tidak ada listrik, sinyal Baca lebih lanjut

Iklan

Rumah bagi Hari-Hari Kalutku: LASKAR BAHASA 4

FB_IMG_14603858246525657

Terkadang, waktu terasa begitu cepat berlalu ketika kita berada di antara orang-orang yang mengasihi kita. Orang-orang yang mengasihi kita itu, selalu melukiskan warna dalam kanvas kusam hidup kita yang nyaris putus asa oleh debu. Dan, kali ini kanvasku mulai menari-nari di antara debu dan polusi ibu kota. Ia telah menemukan gairah warnanya sendiri. Terima kasih, karena telah menyelamatkan kanvas kusam ini dengan menyematkan lukisan keindahan di sana: dua ibu dan dua puluh dua saudara baruku.

Waktu tiga bulan sebenarnya terlalu singkat untuk menggambarkan kedekatanku dengan keluarga baru ini. Namun, aku tak ingin jika perkenalan-perkenalan kami menguap begitu saja seperti asap yang membumbung di langit Jakarta. Biarkan sebentar aku menuliskan ini, merangkai keabadian.

Ibu Lia dan Ibu Tuti

Ibu, adalah muara bagi derasnya arus kerinduan. Baca lebih lanjut

Laskar Bahasa 4 Berwisata ke Ragunan

Laskar Bahasa 4 Berwisata ke Ragunan:

Pembelajaran Menyusun Teks Laporan Hasil Observasi dan Teks Fabel

  Belajar bukanlah sekadar menghafal, tetapi mengonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Berdasarkan prinsip tersebut, pada siklus ke-2, kegiatan yang dilaksanakan oleh Laskar Bahasa 4 tidak hanya workshop penyusunan perangkat pembelajaran di dalam kelas. Akan tetapi, Laskar Bahasa 4 juga melaksanakan study wisata ke Ragunan pada 5 Mei 2016. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari pembelajaran menulis teks Laporan Hasil Observasi (LHO) dan teks fabel melalui pengalaman nyata, yaitu berkunjung ke kebun binatang.

            Kegiatan study wisata ke Ragunan diikuti oleh dua puluh tiga peserta PPG SM-3T Baca lebih lanjut

Menggapai Mimpi-Mimpi yang Tertinggal

“Pendidikan layaknya pesta yang tidak semua anak negeri mendapatkan undangan

Pendidikan Anak Pelosok

            Matahari belum juga terik di sekolah pesisir ini. Udara masih terasa segar, basah, seperti dedaunan yang berselimut embun. Tapi, saya sudah berada di lapangan sekolah, memukuli bel yang mirip tabung gas elpigi ukuran 3 kg. Jam 07.15 WIT, baru satu-dua anak saja yang terlihat berada di sekitar sekolah. Padahal, peraturan yang ditetapkan adalah “siswa datang ke sekolah maksimal jam 07.15 WIB”.

            Kegiatan di sekolah selau diawali dengan agenda apel pagi. Momentum apel pagi selalu saya manfaatkan untuk melatih kedisiplinan anak-anak. Anak-anak pesisir seperti mereka, harus digembleng dengan serius cara menghargai waktu untuk bersekolah. Pada awal kedatangan saya ke sekolah tersebut, hampir 90 % siswa selalu datang terlambat ke sekolah. Itu berarti sekitar 40 siswa dari 45 siswa di sekolah itu selalu datang terlambat. Belum lagi mereka datang tanpa memakai alas kaki, tanpa membawa tas, dan beberapa anak datang tanpa mandi. Begitulah mereka. Alhasil, mereka harus menebus kesalahannya dengan berdiri menghormat pada bendera merah-putih dalam waktu yang sama dengan keterlambatannya. Atau, membersihkan sampah-sampah di sekitar sekolah.

Pendidikan bagi anak pelosok agaknya bukan hal istimewa yang harus mereka persiapkan secara matang. Bersekolah pun demikian, seperti hanya untuk mengisi sejenak waktu luang di pagi hari saja. Dan, semua pemikiran negatif tentang dunia pendidikan di masyarakat pesisir harus bisa diubah. Dari sinilah cara kreatifku mengajar dimulai: SMP Negeri 3 Samang, Kec. Pulau-Pulau Aru, Kab. Kepulauan Aru, Maluku.

Ironis

Jangan dibayangkan sekolah-sekolah di Kab. Kepulauan Aru seperti di Jawa yang bisa diakses dengan sepeda motor, mobil, atau angkutan kota lainnya. Untuk menjangkau kampung di mana sekolah itu berada, kita harus mengendarai kapal-kapal motor. Medan yang dilalui juga lautan lepas, dengan ombak besar yang menggulung nyali Baca lebih lanjut

Mandi Safar ala Warga Aru

Hari Rabu kemarin, 08 Desember 2015 bertepatan dengan perayaan “Rabu Pungkasan”, yaitu hari Rabu terakhir di bulan Safar. Entah perayaan itu dirayakan juga atau tidak di daerah lain, tapi di daerah saya selalu dirayakan. Perayaannya bukan pesta atau apa, tapi sekedar shalat sunah Rabu Pungkasan berjamaah di masjid dan doa-doa.

Dulu, ketika di Kepulauan Aru, Maluku ada perayaan unik di Bulan Safar, yaitu mandi Safar. Mandi Safar ini barangkali kalau di Jogja semacam mandi besar (padusan). Tujuannya sama, untuk menyucikan diri menyambut hari depan yang penuh berkah. Bedanya, di Aru diadakan di Bulan Safar, di Jogja (Jawa–umumnya–) sebelum memasuki hari pada Bulan Ramadan.

Mandi Safar ini adalah perayaan paling ramai di kampung-kampung. Semua orang selalu menantikan perayaan ini. Pagi hari, semua rumah mengadakan doa masing-masing dengan makanan dan masakan khas Aru. Ada buras, sinoli, papeda, olahan ayam, rusa, aneka minuman es, dll. Lalu siangnya, orang-orang keluar rumah. Semua orang berlomba-lomba menyerang orang lain dengan air. Ya, air dalam bentuk apa pun. Ada yang langsung mengguyur pakai gayung, ada yang mencampurnya dengan tinta, ada air comberan, air bekas cuci pakaian, dll. Setiap orang yang keluar dari rumah akan menjadi bulan-bulanan orang lain. Tak terkecuali kakek-nenek yang sudah jompo sekali pun. Dan, semua orang harus keluar rumah, apa pun yang terjadi. Saling serang. Baca lebih lanjut

SM-3T Melekatkan Kekeluargaan

Dua hari lalu, saya dan beberapa teman SM-3T dari UNJ, UNY, dan UPI datang takziyah ke rumah Mas Yoyok (SM-3T Angkatan V LPTK UNNES penempatan Kab. Sambas) di Magelang. Tentu saja, kami yang notabene-nya beda angkatan dan beda LPTK tidak begitu mengenal Mas Yoyok. Tapi, demi mendengar berita gugurnya saudara kami itu, kami luangkan waktu untuk mengantarkannya sampai di pembaringan yang terakhir.

Begitulah SM-3T mengajari kami arti persaudaraan dan kekeluargaan. Kami merasa berada di bawah naungan payung yang sama. Persaudaraan kami pun tidak mengenal perbedaan LPTK, perbedaan angkatan, perbedaan suku dan daerah asal, serta latar belakang pribadi masing-masing. Bagi kami, SM-3T adalah rumah, sedangkan kami semua adalah penghuninya. Dan, selayaknya penghuni satu rumah haruslah saling peduli satu sama lain.

Hal tersebut yang menurut saya sebagai salah satu alasan beberapa hari lalu teman-teman sempat mem-bully seorang saudara kami yang lalai. Bukan mem-bully istilahnya, sekedar Baca lebih lanjut

MARS GUGUSAN KEPULAUAN ARU

PhotoGrid_1445920520633

Gugusan Kepulauanku
Pulau Aru tercinta
Utara, timur, dan selatan
Aru Tengah pun serta

Tujuh kecamatan gabung tak terpisahkan
Oh Kepulauan Aru, daerahku yang kucinta

Beraneka ragam adat, kesenian, dan kebudayaanku
Peninggalan Sang Leluhur, Datuk-datukku
Semua itu membanggakan, kekayaan alamku
Sungguh menjayakan wargaku, membanggakanku

Indahlah sungguh alamku, menawan hatiku
Hasil olah mutiara, menghiasi lautku
Cendana, cenderawasih, kopra, lelemuku
Oh Kepulauan Aru, daerahku yang tercinta

(Dinyanyikan oleh Halima Patikaloba dan Safarudin Djabumir, untuk Bapak-Ibu Guru SM-3T “Kesatria Aru”)