Sebuah Patung Manusia Berkepala Bulu Ayam

Saat pertama kali kusaksikan
patung manusia berkepala bulu ayam
terbersit dalam pikiran
apa dia diciptakan untuk bahan tertawaan?

terlihat aneh!
namun memang begitu adanya
seperti aliran kehidupan kita
janggal!

ya, seperti patung manusia berkepala bulu ayam
seperti itu pula aku berkaca pada keadaan
manusia boleh sombong karena
mampu berdiri kokoh ditopang kedua kakinya
tapi tidakkah mereka sadar?
kepala dan otak mereka gampang dipermainkan
oleh angin-angin kebohongan
seperti bulu-bulu ayam yang beterbangan
-sebuah patung manusia berkepala bulu ayam-

Ingat Pancasila

01 Oktober 2011
Hari “Kesakitan” Pancasila

Rasanya baru kemarin aku menyaksikan
darah garuda mengucur
dari puting susu pejuang
yang tertembak jantungnya
oleh mata senapan penjajah

hari ini aku saksikan
darah garuda kembali mengucur
bukan dari jantung para pejuang lagi
tapi, dari kedua sudut matanya
menunduk, meratapi 5 sila
yang terpampang nista di dadanya
kemana hilangnya pesona 5 sila itu?

mungkin saja terselip diantara kutang-kutang tkw
atau, terselip diantara dawai gitar pengamen-pengamer yang semakin menjamur
bisa juga terselip diantara tumpukan sampah yang menyengat
yang jelas
tidak terselip di otak dewan-dewan di atas sana
yang membanjiri kantongnya dengan pundi-pundi rupiah
sementara garuda terus menangis darah!

 

Someone

(untuk: Leonardo Beny Prasetyo Nugroho)

Menatap langit kelabu kala
tautan cinta kita terpisah oleh waktu
sudah kau bawa pergi cintaku
dan, ini kecupan terakhir
pada bibirmu yang dingin dan basah
saat jemarimu tak lagi hangat memelukku.
Esok, kita tak akan pernah bisa bertatap kembali

Kau dan aku terpisah,
tidak lebih dari jarak antara Jogja dan Solo
namun percintaan kita kini dalam keterkutukan waktu
pun detak jantung terus menanyaiku akan arti pengorbanan,
I’m nothing without you!

Ini air mata sudah kemarau,
kulirik kau begitu damai dalam pembaringanmu
sementara aku terisak akan harap memeluk kasihmu
katamu:
“sudah kutitipkan cinta pada desir angin, sayang!
dengan begitu tak sedetik pun cintaku pernah meninggalkanmu
kau hirup kau hembus setiap waktu
kelak  di masa-masa kau merinduiku, cintaku terus mengusik, menggelitik telingamu
sama mesranya seperti saat kau sering lelap dalam pangkuanku”

-20 Januari 2012-

Tuhan Tergoda

Tuhan mulai tergoda
Dengan wanita-wanita malam
Bagaimana tidak?
Lihat saja di Pasar Kembang!
Hidup mereka lebih terjamin
Ketimbang hidup wanita solehah
Yang kerap ku dengar dia mengaji
Di langgar

Bukan masalah pahala dan dosa
Yang menjadi pertimbangan Tuhan
Tapi seberapa tebal gincu merekah di bibir
Dan lekuk tubuh yang meliuk-liuk menggoda
-27 September 2011-

Seorang Wanita Datang Padaku

Seorang wanita datang padaku
dia bertanya,
“Buat apa aku bertahan? Mengulum rasa sakit yang tertahan. Sementara di sana dia sibuk membicarakan wanita-wanita lain! Ini bukan sekedar bicara perasaan atau harga diri. Lebih jauh masalah saling mengerti rasa sakit hati. Apa aku yang terlalu hina untuk dipandang? Atau matanya telah buta pada ketulusan?”
Terpaksa aku menjawab,
“Kau sebenarnya yang buta pada banyak kebahagiaan, karena selalu mencuri pandang pada urusannya. Sekalipun kau seorang wanita mulia pastilah ada lelaki yang menghinakanmu. Bukankan kau bilang wanita tegar dalam setiap tetes air matanya? Lalu kenapa kau begitu perasa dan amat rapuh?”
Butiran air mata jatuh,
“Banyaklah bicara pada hati, bukan pada bibir kalau kau mau memahaminya,”
katanya
“Kau terlalu berharga untuk banyak bicara. Pulanglah, selimuti nelangsamu dengan doa-doa! Agar kau tahu cara memahami dirimu sendiri,”
ujarku.
Berpisah!

-20 Oktober 2011-

Hei wanita!

Hei wanita hebat yang tampak wajahmu di cerminku berkaca
sudahilah semua penyesalan dan air matamu

Tidakkah kau berpikir sejenak,
betapa sangat berharga air mata dan kesedihanmu yang
tidak semestinya kau curahkan untuk orang yang bahkan
ketika dia menyakiti hatimu dengan umpatan-umpatannyapun tak ada permintaan maaf padamu

Tidakkah kau berpikir sejenak,
berapa besar pengorbananmu yang tak terkata
untuk orang yang bahkan ketika bertemu saja
tak ada sapaan untukmu

Sudah terlalu banyak cinta dan kasih sayang yang kau tebar
hei wanita bijaksana, sudahilah saja!
Atau kau mau sampai karatan terpuruk pada pengorbanan-pengorbanan itu?

Sudahlah, bahkan dia yang mengusik harimupun tak pernah merasa betapa kau berarti baginya
Tidakkah matamu terbuka dengan sikap dan tingkahnya?
Bisa jadi kau menganggapnya malaikat
tapi kau hanya sekedar sampah baginya
Sampai dia sadar seberapa sakitnya perasaanmu karenanyapun
tak ada arti apa-apa lagi.
Sudahilah saja, simpan pahit-getir ini sebagai kenangan saja!

-15 Agustus 2011-

Ada yang hilang dari perasaanku

Ada yang hilang dari perasaanku

pun tarian-tarian luka menyertai kepergian itu

sontak jemari merogoh mencari-cari hati

ternyata lubang menganga tepat di tengahnya

seketika langit pun menyeruak menghisap semua rasa bahagia

hingga gelora amarahku ingin sekali mencekik leher air mata

Benarkah Tuhan begitu baik mencipta cinta?

dengan memeberiku Surga berhias paras elok

membalutnya dengan cerita-cerita yang menggetarkan jiwa

lalu tuhan mencuil hati malaikat untuknya

kemudian mempertemukannya padaku dalam ikatan mesra

Tetapi Tuhan terlalu pencemburu

inginkan aku bercumbu cinta dengan-Nya

hingga ku harus mengukir perasaan yang lain dalam bingkai kenangan

kata-Nya: cinta Tuhan meluasi tempurung katak

dan aku, untuk beberapa saat terguncang…

-04 Mei 2011-