Yang Perih, Mendewasakan

C360_2015-01-14-20-15-58-828

Begitu memang, “Yang perih, mendewasakan”.
Bisa jadi, karena lebih sering merasakan yang perih daripada yang manis, maka saya mengamini kata itu. Lagi pula, tidak ada yang terlalu manis dalam hidup ini. Rasa manis hanya selebar mulut kita. Begitu juga dalam perkara cinta. Mencintai bukan perkara remeh-temeh, sekalipun terlalu banyak rasa cinta bertebaran di antara hembusan angin dan kehidupan kita sehari-hari. Dan, entah selalu saja ada jembatan antara perih dan cinta.

Cinta.
Bahkan sampai umur setua ini saya masih terlalu buta padanya. Cuma sering mengiyakan kata-kata orang saja. “Cinta itu tidak melulu kamu dengan pacarmu, lebih dari itu kamu dengan Tuhanmu”. Iya. “Cinta itu rumit, seperti soal Fisika yang tiba-tiba kita lupa rumusnya”. Iya. “Cinta itu gampang saja, bertemu lelaki tampan lalu jatuh cinta”. Iya. “Cinta ki panganan opo mbak?”. Dan ini-itu testimoni tentang cinta. Bahkan sampai pada, “Mencintai tidak harus memiliki”.

Perkara mencintai, Baca lebih lanjut

sok. . .

Sekarang ini lagi marak banget yang namanya kompetisi tulis-menulis. Wuihhh…secara hadiah yang ditawarkan juga sangat menggiurkan. Maka, orang-orang mulai berduyun-duyun, lari-lari, jungkir-jempalik berlomba lomba mencari inspirasi buat tulisannya. Ada yang rawuh ke tempat Mbah marijan minta doa pendatang inspirasi dari Mak Lampirnya Gunung Merapi (hee..), ada yang semedi di pinggir Kali sambil sesekali mengikal kail (itu mah mancing neng!!), ada yang nyolong-nyolong rambut Andrea Hirata trus ditempelin pake dabeltip ke rambutnya sendiri biar kecipratan jiwa nulisnya trus bisa dapet inspirasi yahud dari rambut itu, bahkan ada juga yang sampai tidur jongkok nahan ngorok komat-kamit. Ih…segitunya ya!!!
*hadu…ngaco sangat!!*

Lepas dari itu semua, Bluk!!! jatuh deh!! Lepas kok . . .??**
Menulis itu butuh satu energi. Yah, karena sebuah tulisan yang dipondasi dengan energi yang kuat Baca lebih lanjut

Jangan bilang kau HIDUP kalau kau tak punya PEGANGAN HIDUP!!!

Sekian lama tak bersua. Hee…
Adakah di sana kau rindu padaku?????
Eleh..eleh!!!

Sekiranya kata itu yang menjadi tolok hingga aku harus mengungkapkannya.

Biar. . .

Kalian pernah merasa sakit hati karena tak dianggap ada???
Kalian pernah merasa terkucilkan karena pemikiran kalian yang rada abnormal??? (haha)
Atau kalian dendam pada orang-orang yang mengekang keputusan kalian mencari jati diri kalian???
Suatu saat pasti kalian pernah merasakannya, entah sepenuhnya atau hanya secuil saja.

Yah, itu konsekuensi hidup. Hidup itu Baca lebih lanjut

KULITINTA BUBAR????????

Haha….
Kata-kata yang sering mengiang-ngiang di seputar telingaku.
Bagi yang belum kenal Kulitinta, silakan lihat posting yang terdahulu.

Kalian tahu arti sebuah amanah????
Amanah, menurutku adalah suatu tanggung jawab yang telah orang lain beri pada kita atas dasar percaya.
yah, itu yang aku tau.
Tapi saat kau tak bisa mengemban amanha itu dengan maksimal????? Apa yang akan kalian lakukan???
*Mati aja lo!!!*

Miris tiap kali aku dengar kata Kulitinta.
Rasanya seperti menelan mentah-mentah kerikil api. Panasnya menjalar dari dada Baca lebih lanjut

Kehilangan sosok dia. . .

” Inilah saat terakhirku melihat kamu…jatuh air mataku. . .”

hiiii….

Yah, aku tak tau…rasanya pengen saja mengungkapkan semua ini. Biar!!! Biar semua orang tau!!! Betapa sedihnya aku kehilangan sosok dia. . .

Dia???? Siapakah dia????

Seorang teman yang selalu ada dalam setiap lamunanku. Seseorang yang bisa membuatku yakin bahwa aku ada. Dia sosok yang amat aku sayang, satu tingkat dibawah rasa sayangku pada orangtua dan keluarga.

Dia. Dia yang selalu menyadarkan aku, meluruskan saat langkahku melenceng dari janji-janjiku. Dia begitu berharga. Precious one!!!

Kalau teman-teman bisa mengenalnya, pasti takkan rela hapus memori bersamanya. Dia begitu indah. Anugrah indah dari berjuta anugrah yang bertebaran dari TUHAN. Dia satu dari penyemangat hidupku, motivator abadi yang tak kan rapuh dimakan waktu. Tanpa senyumnya hariku terasa gelap, kering!!

Saat aku belum tau di luar sangkarku ada panorama indah, dia telah mengetahuinya. Dia tuntun aku terbang menikmati keindaha yang pernah dia temukan. Setiap bahagianya, pasti ada aku!! Tapi…tak semua pedih yang dia rasa aku tahu. Dia sangat pintar menyembunyikan sedihnya. Sosok ceria sepanjang masa. Seorang teman yang tak hanya pintar, tapi berakhlak juga. Pantas jadi Teladan!!!

Hah!!!

Kemana aku harus mencari pengganti dirimu kawan?????

Haruskah kututupi rasa kehilangan ini??? Aku…seperti janji yang pernah terukir lewat bibir kecil kita, bahwa kita TEMAN SEPANJANG MASA.

Selalu kurindu pelukan hangatmu, pelukan yang membuatku mampu bangkit, mengusap linangan air mata. Kau satu dari sosok idolaku…

TUHAN jaga dia untukku!!!

. . .

Hari itu, Minggu 22 Maret 2009. Bangun tidur aku gak langsung beranjak, kuhirup nafas dalam-dalam….

ah!! bukan karena hari Minggu libur trus bisa seenaknya bangun siang. Satu alasan untuk itu. Karena hari itu adalah nafas terakhirku di tahun ke-16. Ya…nafas terakhir di tahun ke-16. Sambi mengingat-ingat hal apa yang sudah aku lakukan selama satu tahun ini, adakah suatu yang bisa membuatku bangga pada hidupku?? aku bertanya. Tentu ada.

Tak kuasa aku menahan air mata…(uwahh pagi-pagi mewek). Sehari itu hatiku sungguh berdebar tak terkendali. Semua aktivitas yag aku jalankan tak dapat menghilangkan ingatanku pada hari esok, hari dimana aku akan menemui diriku dengan umur yang telah bertambah satu. 17 tahun….rasanya hidup ini begitu cepat. Benarkah jarum jam penunjuk waktu tidak berjalan terlalu cepat?? Entahlah.

17 tahun, usia yang kata orang adalah usia terindah saat kita mulai beranjak dari anak-anak ke masa yang lebih berat tantangan hidupnya, yah..masa dewasa. Rasanya ngeri membayangkan harus meninggalkan saat-saat indah dulu kecil. Tambah ngeri lagi kalau membayangkan susahnya hidup jadi seorang dewasa. hah!!! Baca lebih lanjut

bukan “lelah” ini namanya…

huaaahemmmm. . .

Lagi-lagi aku terpaku dalam lamunan. Membangun sebuah alur cerita yang hanya aku dan ilusiku yang ada. Jauh…nun jauh di sana, tak seorangpun dapat mengejarku bahkan untuk menemukanku di sana.

Aku..

Lagi-lagi aku yang hidup dengan penuh keluhan.

( Padahal aku tahu tak seharusnya hidupku tercoreng-moreng dengan segala keluh, kesah yang selalu melanda hati, menebarkan benih-benih kegalauan.)

Aku..

Tak pernah terpikir dalam lamunanku hal seperti yang baru saja aku temukan ini.

Seorang ibu muda, dengan seluruh peluh, keringat membasah dari ujung rambut yang kusam, menetes..mengalir menuju arah yang pasti lebih rendah dari awal dia muncul. Lihatlah kemeja putih yang dikenakannya. Ada beberapa bekas lubang, entah sobekan karena apa. Tangannya tak lagi menenteng sesuatu nyang biasa. Yang kanan menengadah, yang kiri sibuk merapatkan lengan memegang suatu yang bukan biasa. Kakinya tak lagi mulus, kering kusam. Ah,,bukan pada si ibu aku meletakkan rasa kasihanku.

Pada hal yang bukan biasa di tangan kirinya. Ya, seorang bayi yang aku yakin belum genap 3 bulan umurnya,kecil, diam.  Kalaulah TUHAN mengijinkan diperdengarkan keluhnya, pasti dia akan bilang “Aku ga kuat di sini. Sadarlah kalau tempat yang pantas buatku adalah Baca lebih lanjut