Anak Wadonku

“Naisya . . .”

            Bulan masih saja menggantung di kegelapan malam. Kali ini tampak cantik, satu per empat lingkaran. Sementara itu, aku masih saja menggantung pada perenungan malamku. Aku selalu menyukai masa dimana aku bisa melakukan perenungan pada malam-malam yang syahdu, lho seperti malam ini. Malam syahdu bagiku adalah suatu malam dengan sedikit saja cahaya, remang-remang. Tentu saja dengan tidak banyak suara sliweran kendaraan memenuhi atmosfer. Lalu pada malam syahdu itu, udara malam yang kuhirup adalah udara tersegar yang ada di muka bumi. Udara yang mampu membuat bulu-bulu hidungku bergidik kedinginan dan melewati seluruh tenggorokan dengan lancar sampai ke paru-paru, nyes!

            Sebenarnya sudah lama aku punya rutinitas seperti malam ini. Hanya sekedar menenangkan pikiran sambil beberapa kali mengepulkan asap rokok dari bibir hitamku. Sebenarnya sudah berkali-kali juga Dokter Amalia melarangku melakukan hal-hal yang demikian, tapi toh dokter cantik itu tidak tahu. Baca lebih lanjut

Iklan

Wasiat Beringin Tua

“Hidupku terancam, mereka menggusurku paksa! Membunuh masa depanku dan anak turunku. Aku memang hidup di garis bawah, garis hina, tapi suatu saat nanti mereka akan sadar bahwa kehilangan aku dan keturunanku akan membuat mereka hidup dalam bayang-bayang bencana!”

            Suara itu mengiang-ngiang di telingaku setiap kali aku melewati perempatan jalan kecil menuju desaku. Entah halusinasiku atau memang ada sumber suara yang memperdengarkannya. Memang tidak aku temui seseorang setiap kali melewati perempatan itu, hanya di sebelah kiri perempatan tumbuh sebatang pohon beringin tua yang nelangsa. Pohonnya mulai keropos digerogoti semut-semut, daunnya hijau beberapa helai di bagian pucuk saja tapi sisanya hanya batang rapuh yang tak lagi berdaun, kering. Baca lebih lanjut

Mencintai Bidadariku, seperti Mencintai Tetesan Embun di Kala Senja

Mentari pagi mulai menampakkan kegagahannnya. Sinarnya menembus relung kecil kegundahan, menghangatkan hati yang tak henti menangis semalaman, memberikan suntikan kedamaian di jiwa anak kecil yang masih menikmati untaian mimpi itu. Anak kecil ini bukan seorang gelandangan yang tak memiliki rumah tinggal, dia juga bukan seorang anak buangan. Entah angin apa yang membawanya sampai harus tertidur lelap di emperan kios.  Tidurnya damai, beralas beberapa lembar kardus yang dipungut dari tempat sampah yang tegak berdiri di balik punggungnya. Jika dilihat dari postur tubuh dan raut wajahnya, sangat tak pantas jika anak semanis itu harus hidup di jalanan. Baca lebih lanjut

Cerita Senja

Semburat senja masih menggantung di ujung barat daya langit. Warnanya yang jingga menyilaukan setiap mata yang ingin menikmati keindahan langit sore itu. Samar-samar celoteh burung terdengar, sepertinya mereka sibuk mencari tempat peristirahatan sebelum gelap tiba, atau bisa jadi itu nyanyian kemenangan mereka sebagai pertanda habisnya hari.

Aku masih terus mengayuh sepedaku menyusuri jalanan kota sore itu, sambil sesekali kuusap peluh yang menetes dari balik jilbabku. Aku selalu mengagumi nuansa senja, berlayar bersama sepedaku menikmati kecantikan langit dengan alunan orkestra burung-burung yang sibuk terbang kesana-kemari. Begitulah setiap sore aku pulang kuliah menyusuri sepanjang jalan yang ramai dengan kendaraan, juga meriah oleh kerlap-kerlip lampu kota. Baca lebih lanjut

Jangan Lelah dalam Penantian

Sebenarnya, aku tidak menghendaki jeda ini. Pun, tidak ingin semua berjalan melambat seperti penantian yang semakin pekat. Aku percaya bahwa aku cukup kuat untuk berdiri pada posisi dan situasi yang tak kuingini. Toh, semuanya sama: pengabdian. Hanya saja, terkadang hati bergejolak untuk memuntahkan ingin.

Semoga Tuhan memberiku anugerah kuat. Sampai tiba saatnya bintang-bintang kehidupanku bersinar cemerlang. Bukankah terkadang bintang pun butuh gelap untuk tetap bersinar?

Sekali lagi, jangan lelah dalam penantian.​

Mana yang Baik Kata Tuhan

Jika benar adakalanya kehidupan yang kita lalui adalah bagian-bagian dari pengulangan, maka saat ini aku merasainya. Aku kembali ke lingkungan di mana aku pernah berada sebelumnya. Meskipun lingkungannya sama, tapi suasana sudah berbeda. Hanya saja, terkadang untuk beberapa alasan, hati ini merasai hal yang sama seperti dulu.

Setelah perjalanan panjang pencarianku usai PPG ini, akhirnya aku kembali ke tempat sepuluh tahun lalu aku berada. Tentu saja tidak usah diceritan bagaimana. Aku pernah berpikir, mungkin Tuhan tidak mendengarkan permintaanku. Akan tetapi, hal itu sungguh salah. Tuhan selalu mendengar apa yang aku pintakan, hanya saja waktu belum tepat. Maka, sekarang aku menjalani dulu apa kata Tuhan sembari menunggu segala pintaku akan dikabulkan-Nya. Seperti kata-kata orang, semua pasti akan indah pada waktunya. Baca lebih lanjut

Kembali Pulang dan Kenangan-Kenangan

Senangnya merantau itu, selalu ada kata “pulang” sebagai ajimat. Dan, pada akhirnya, saya memilih “pulang dulu” setelah tiga tahun terakhir wira-wiri SM-3T dan PPG. Pulang dulu, karena insyaallah perjalanan akan saya lanjutkan di GGD Jilid III.

Karena judul postingnya Kembali Pulang dan Kenangan-Kenangan, maka saya akan bercerita sedikit perjalanan selama tiga tahun terakhir ini.

#1
SM-3T penempatan di Kabupaten Kepulauan Aru. Lokasi pertama di Desa Nafar, mengajar di SMP N 12 Terpadu Nafar. Desa ini sekitar dua jam perjalanan laut dari Kota Dobo. Nafar merupakan desa penghasil sopi (minuman keras dari nira kelapa) terbesar di Kepulauan Aru. Di Nafar, tidak ada listrik, sinyal Baca lebih lanjut