Menyimpan Rapi, Menata Kembali

Gerimis di sore yang manis.

Aku kembali mengingat, waktu itu pernah kulangitkan doa-doa. Banyak doa. Terlampau banyak. Pikirku, tak apa. Tuhan Maha Mendengar. Tuhan tak pernah bosan bahkan, mendengar doa-doa yang terus saja kuulang. Kuulang, karena aku terlalu takut doa-doa itu tak Ia kabulkan.

Doa-doa melangit, seperti balon-balon gas, warna-warni, terbang ke udara.
Doa-doa melangit. Hatiku sempit.

Gerimis di sore yang manis.

Kepalaku semakin penuh sesak oleh harapan-harapan. Lebih sesak lagi oleh besarnya keinginan agar doa-doaku cepat terkabul. Penuh. Penuh. Penuh. Duarrr!  Balon itu meletus. Pusing kepalaku.

Pusing. Pusing. Pusing. Lama. Dan, sampai pada penemuan brilian: Kuncinya hanya menyimpan rapi, menata kembali.

Balon kembali kutiup, dengan harapan baru, dengan kekuatan baru. Bahwa, tak selamanya harapan terkabul. Tapi, satu pengingatku: harapan harus selalu tumbuh.

 

Iklan