Ia…

9 tahun, dan baginya aku masihlah gadis sederhana yang sedari dulu dikenalnya. Mungkin, beberapa perubahan saja, seperti usiaku yang menua, kegelisahanku yang mendera, dan fokus-fokus hidupku yang mulai bercabang. Oh, banyak perubahan rupanya. Tapi, tidak dengan hatinya, tidak ada yang berubah. Ia teguh, mengabadikan perasaannya kepadaku yang tersimpan sejak tahun-tahun pertama perkenalannya denganku.

Selalu saja ada kejutan di antara pertemuan-pertemuan singkat kita. Mungkin, begitu indahnya takdir Tuhan. Kami, tepatnya ia, datang kepadaku setiap kali aku terjatuh. Entah dari mana dan bagaimana ia tahu, selalu saja ketika aku berada di saat-saat paling kacau dalam hidupku, ia datang. Ia, menawarkan tangannya untuk merengkuhku kembali berdiri, untuk membuatku menyadari betapa berharganya aku, dan segera menyingkirkan pikiran negatif pada orang yang membuatku terperosok begitu dalam pada lubang nestapa itu. Ia tak pernah menyuruhku mengikuti apa maunya, tapi tanpa perlu analisis mendalam pun, semua yang ia katakan adalah kebaikan: maafkan, lupakan, dan bangkitlah!

Rasanya, terlalu bodoh selama ini menganggap diriku payah, sedangkan Tuhan memberi keberuntungan begitu besar padaku. Memilikinya dalam hidupku, tentunya satu keberuntungan besar. Hanya saja, selama ini mataku terlalu buta.
IGN

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s