Senja(ku)

Teringat kala berada di Desa Samang, Kepulauan Aru, Maluku. Setiap sore, em, setidaknya setiap sore yang bebas dari tugas angkat air, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk-duduk di dermaga, menikmati senja. Entah sejak kapan saya mulai begitu mencintai senja. Seingat saya, sejak saya mencintai cerpen-cerpen Sungging Raga.

Senja di Samang begitu menawan. Mungkin, karena ia membiaskan kerinduan akan kampung halaman, kerinduan akan orang-orang lama yang teramat rapat. Air laut di sore hari biasanya tenang, tanpa ombak. Air itu, bagaikan cermin yang maha agung. Darinya, terpancar cahaya jingga yang keemasan. Sementara itu, kapal-kapal nelayan dan nyiur kelapa yang melambai-lambai seolah menambah nuansa melankolis senja di kampung tepian laut itu. Jika bisa, ingin sekali rasanya kukemas senja semacam itu untuk kubawa pulang. Jika tidak, biarkan saya hidup dan menua di tempat seperti itu.

Duduk-duduk di dermaga selalu mengingatkanku pada sebuah memori. Mungkin benar, jika sesungguhnya kita bukan merindukan seseorang, tetapi merindukan perkataannya atau memori yang menyertainya. Dulu, kata dia, “Sudah, sampaikan saja rindumu padaku lewat laut. Biarkan ombak dan angin membawakan kerinduanmu ke pangkuanku.” Lalu, aku menjadi begitu mencintai laut. Mencintai semua yang dia katakan. Semudah itu memang saya mencintainya, seperti mudahnya saya mencintai senja.

Kali ini, senja di kampung halaman. Tapi, lagi-lagi saya justru merindukan senja di perantauan.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s