Keluarga SM-3T Jogja & Solo

image

Ini perjalanan cinta, haha. Ya, kalau bukan cinta apalagi yang bisa menggerakkan saya bangun pagi, mandi, dan sudah di warung Biyunge Angger depan Lempuyangan jam 5.30 WIB. Haha. Semua itu dalam misi mengantar sertifikat SM-3T . Misi terselubung.

Perjalan ini ke Solo menemui teman-teman SM-3T yang berdomisili di Solo, Karang Anyar, Boyolali, dan sekitarnya. Sempat dibuat nyasar oleh ‘waze’ mencari Pabrik Gula Gondang Winangun, mengagumi Masjid Al-Aqsa Klaten, dan bermacam kejadian konyol lain, semuanya kita tabras demi sampai di Solo. Lelah memang, berjam-jam duduk di jok motor, tapi melihat fajar di stasiun, melihat rel, melihat kereta, melihat senyum kawan-kawan, seolah menghapus semua lelah itu.

Ketemu teman-teman di Universitas Sebelas Maret, tidak menyangka karena lumayan banyak yang datang. Ya, meski harus saling menunggu berjam-jam. Setelah selesai prosesi cipika-cipiki, perjalanan dilanjutkan ke Kebun Teh Kemuning dan Candi Ceto. Woa perjalanan yang ekstrem demi menikmati candi di atas awan.

Malamnya, kami masih menunggu perjumpaan-perjumpaan lain di Mom Milk Manahan, sembari menceritakan ini-itu. Sudah kubilang, SM-3T selalu mengenalkanku pada orang-orang baru. Sebenarnya, baru segelintir yang saya kenal. Tapi, satu hari cukup mengeratkan kita. Haha maklum, mereka kan dari UNJ, UNY, UNSolo, UMS, dekat-dekat saja. Oke, hari ini mau ke mana lagi?

Iklan

Senja(ku)

Teringat kala berada di Desa Samang, Kepulauan Aru, Maluku. Setiap sore, em, setidaknya setiap sore yang bebas dari tugas angkat air, saya selalu menyempatkan diri untuk duduk-duduk di dermaga, menikmati senja. Entah sejak kapan saya mulai begitu mencintai senja. Seingat saya, sejak saya mencintai cerpen-cerpen Sungging Raga.

Senja di Samang begitu menawan. Mungkin, karena ia membiaskan kerinduan akan kampung halaman, kerinduan akan orang-orang lama yang teramat rapat. Air laut di sore hari biasanya tenang, tanpa ombak. Air itu, bagaikan cermin yang maha agung. Darinya, terpancar cahaya jingga yang keemasan. Sementara itu, kapal-kapal nelayan dan nyiur kelapa yang melambai-lambai seolah menambah nuansa melankolis senja di kampung tepian laut itu. Jika bisa, ingin sekali rasanya kukemas senja semacam itu untuk kubawa pulang. Jika tidak, biarkan saya hidup dan menua di tempat seperti itu.

Duduk-duduk di dermaga selalu mengingatkanku pada sebuah memori. Mungkin benar, jika sesungguhnya kita bukan merindukan seseorang, tetapi merindukan perkataannya atau memori yang menyertainya. Dulu, kata dia, “Sudah, sampaikan saja rindumu padaku lewat laut. Biarkan ombak dan angin membawakan kerinduanmu ke pangkuanku.” Lalu, aku menjadi begitu mencintai laut. Mencintai semua yang dia katakan. Semudah itu memang saya mencintainya, seperti mudahnya saya mencintai senja.

Kali ini, senja di kampung halaman. Tapi, lagi-lagi saya justru merindukan senja di perantauan.

Sahabat

Seiring perjalanan hidup yang kita lalui, selalu hadir orang-orang baru di sekeliling kita. Mereka datang silih berganti, sejalan perjumpaan dan perpisahan yang kita hadapi. Tapi, ada orang-orang di masa lalu yang kita rindui dan selalu ingin kita jumpai. Mereka itu, yang kelak kita ceritakan kepada anak-cucu kita sebagai, sahabat.

Bagaimana pun keadaan mereka saat ini, meski terkadang mereka cukup berbeda dengan yang dulu, ketulusan mereka tak pernah mengkhianati waktu. Terkadang, kita memilih lupa. Lalu, tidak menghubungi mereka sama sekali. Menganggap semua akan baik-baik saja ketika kita sudah memiliki teman-teman baru. Begitu memang manusia, selalu silau dengan apa-apa yang tampak baru. Dan, hanya sedikit saja yang mampu bertahan dengan pertemanan-pertemanan lama.

Jika kelak anak-cucu kita bertanya, apa makna sahabat, cobalah bijak untuk mengatakan yang sesungguhnya ada di antara kita dan sahabat-sahabat kita. Melupakankah kita, atau sebaliknya, mempertahankan mereka dalam ingatan kita. Dunia sudah penuh tipuan, jangan kita ikut menipu.

Berjanjilah

“Berjanjilah, untuk tidak pernah melupakan satu sama lain.” Seseorang berkata padanya. Ah, bisakah ia? Sementara sebenarnya terlalu banyak hal tentang orang itu yang ingin ia kemasi, ingin ia taruh rapat-rapat di pojok laci hatinya, ia kunci laci itu, dan ia lempar kunci itu ke sungai. Begitu kejamnya kenangan meneror setiap detik yang dimilikinya. Begitukah memang kenyataan hati yang terkhianati?
“Berjanjilah, untuk tetap mencintai meski kita sama-sama tersakiti!” Seseorang berkata padanya. Ah, semestinya tak usah ia hiraukan perkataan orang itu. Ia pasti belum pernah merasakan kepedihannya. Bisakah hati yang tersakiti bertumbuh begitu saja?
“Berjanjilah, untuk tetap tersenyum meski sebenarnya kau selalu ingin menangis!” Ia, menepis sendiri sakit hatinya.