Elegi

01 Desember.
Ia akan mengenangnya sebagai hari “malang” dalam sepanjang perjalanan kisah percintaannya. Katanya, percintaannya memang selalu payah. Barangkali, ini yang terpayah dari kepayahan-kepayahan yang sering ia katakan.

Sudah terlalu lama ia tidak menjalin cinta sejak beberapa tahun lalu ia memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan dengan seorang lelaki, katanya teman sekolahnya. Saat itu, mungkin saja bukan cinta. Ya, begitu katanya. Ia bahkan masih terlalu kanak-kanak untuk mengerti apa itu cinta.

Beberapa bulan dihabiskannya untuk meratapi, mengapa ia harus menjalankan laku yang demikian. Berkata cinta, lalu berpisah. Padahal, semestinya, dalam bayangnnya sejak kecil, bahwa ia akan mengatakan cinta satu kali saja, pada satu orang lelaki saja, lalu menikah dengannya. Selesai. Begitulah bayangan polosnya. Namun, kisah percintaan yang demikian tampaknya ada di sinetron saja.

Semenjak kegagalannya itu, ia kembali mengunci gerbang hatinya. Dalam angannya, ia tak akan pernah lagi bermain-main dengan pilihan. Maka, setiap lelaki yang datang padanya, ia tampik dengan kehalusan budi bahasanya. Ia belum menemukan yang benar-benar dipilih oleh hatinya.

Ia, tidak pernah menyiratkan sedikit pun keinginan untuk ditemani oleh lelaki. Baginya, perempuan tidak selalu butuh lelaki untuk menjadi kuat.

Dan, perkara mencintai. Ini benar-benar parah baginya. Ia terpaksa harus mengikuti skenario keluarga besarnya yang telah memilihkan lelaki untuknya. Jelas ia tidak mau. Tapi, demi kepuasan dan kebahagiaan keluarga besarnya, maka ia berkata, “Biarlah! Menikah nggak akan selama apa. Biar saja kelak aku menikahi lelaki yang tidak aku cintai, asalkan keluarga semua puas! Mengorbankan perasaan sendiri mungkin lebih mudah daripada mengorbankan perasaan orang-orang yang disayangi.” *Pernyataan ini yang kelak akan ia buktikan ketidakbenarannya*.

Belum lama ini, ia menelponku, katanya ia telah menemukan seorang lelaki yang membauat jantungnya berdetak lebih kencang. Kata orang-orang ini namanya cinta. Itu berarti, hatinya sudah memilih. Ia terdengar begitu bahagia, meski ia belum mengenal sepenuhnya lelaki itu. Katanya, bagaimana pun yang penting ia telah tahu hatinya.

Sayangnya, kisah cintanya memang tertakdir berakhir dengan kepayahan. Seperti apa yang sering ia dengungkan.

Lelaki yang dicintainya sekarang ini, meski sempat beberapa kali bersama, tapi sekarang terpisah begitu jauhnya. Pada awal perpisahannya, komunikasi di antara mereka sangat lancar. Mereka masih sering membahasakan cinta dengan kesederhanaan. Maklum, lelaki yang dicintainya ini bukan tipe orang yang berlebihan. Sama sepertinya. Tapi, akhir-akhir ini, si lelaki balik kanan, putar haluan! Pergi perlahan meninggalkannya. Yang mengganjal baginya, lelaki yang dicintainya tak pernah mengucap pamit, juga tak pernah mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa ia mengutuk semua keinginan untuk bisa bersama.

Terkadang, sebagai perempuan biasa, ia sering menangis, meratapi keadaannya yang sendirian, menunggu setiap kabar yang mungkin akan dilayangkan padanya dari lelaki itu. Tapi semua itu sia-sia. Lelaki yang dicintainya memilih kembali pada perempuannya di masa lalu. Barangkali, kini mereka tengah membangun alur percintaan yang baru lagi. Sementara ia, duduk termenung menunggu otaknya memutuskan jalan terbaik semestinya bagaimana bersikap.

Ia, sekali lagi musti merasakan sakitnya patah hati.

Meski beribu kali ia katakan bahwa ia kuat, tapi toh perempuan tak pernah benar-benar kuat ketika hatinya tergores.

Demi melihat wajah perempuan yang dipilih lelaki yang dicintainya itu, ia menahan terus-terusan linangan air matanya. Wajar jika lelaki yang dicintainya lebih memilih perempuan dalam masa lalunya. Ia istimewa. Mereka pernah menjalin hubungan yang lama dan tak kalah istimewa. Sementara dengannya, baru mengenal dalam hitungan hari yang dikalikan menjadi bulan.

Pantas saja jika lelaki yang dicintainya memilih untuk memajang paras perempuan masa lalunya daripada menyebutnya. Ya, katanya satu kali saja belum pernah ia disebut-sebut oleh leaki yang dicintainya itu. Juga, terlalu banyak sapaan, pertanyaan, dan tuntutannya menguap selayaknya embun yang sirna oleh matahari. Sementara perempuan di masa lalunya itu, teramat sering disebutkan.

Oh, perempuan mana yang tidak mendamba pengakuan dan sedikit dihargai.

Hari ini, 01 Desember. Katanya, ia benar-benar telah mengetahui, wajah perempuan yang dipajang oleh lelaki yang dicintainya di akunnya. Ya, dia adalah perempuan itu. Perempuan di masa lalu -dan masa sekarang- lelaki yang dicintainya. Perempuan yang dijemput lelaki yang dicintainya di bandara, perempuan yang menghabiskan beberapa hari pulang kampungnya bersama lelaki yang dicintainya, perempuan yang kemudian diantar kembali ke bandara, dan lelaki yang dicintainya cerita pada temannya jika “ada acara keluarga, musti dua hari di kota!”, perempuan yang -barangkali- diucapi janji untuk saling mendukung dan kelak akan bertemu lagi, lalu bebrapa hari selanjutnya segala tentang perempuan itu menghiasi akun lelaki yang dicintainya.

Perempuan ini, sesungguhnya terlalu memaksakan untuk terlihat baik-baik saja, mengumbar senyum, sibuk dengan dunia sosialnya, sedangkan kentara dari sorot matanya memendam ngilu.

Katanya  padaku, “Begini memang mencintai, Us! Terkadang kau tak mendapat balasan. Jika begitu, cukup mencintailah dalam diam. Kelak kau akan tahu nikmatnya memetik buah kesabaran!”

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s