Mandi Safar ala Warga Aru

Hari Rabu kemarin, 08 Desember 2015 bertepatan dengan perayaan “Rabu Pungkasan”, yaitu hari Rabu terakhir di bulan Safar. Entah perayaan itu dirayakan juga atau tidak di daerah lain, tapi di daerah saya selalu dirayakan. Perayaannya bukan pesta atau apa, tapi sekedar shalat sunah Rabu Pungkasan berjamaah di masjid dan doa-doa.

Dulu, ketika di Kepulauan Aru, Maluku ada perayaan unik di Bulan Safar, yaitu mandi Safar. Mandi Safar ini barangkali kalau di Jogja semacam mandi besar (padusan). Tujuannya sama, untuk menyucikan diri menyambut hari depan yang penuh berkah. Bedanya, di Aru diadakan di Bulan Safar, di Jogja (Jawa–umumnya–) sebelum memasuki hari pada Bulan Ramadan.

Mandi Safar ini adalah perayaan paling ramai di kampung-kampung. Semua orang selalu menantikan perayaan ini. Pagi hari, semua rumah mengadakan doa masing-masing dengan makanan dan masakan khas Aru. Ada buras, sinoli, papeda, olahan ayam, rusa, aneka minuman es, dll. Lalu siangnya, orang-orang keluar rumah. Semua orang berlomba-lomba menyerang orang lain dengan air. Ya, air dalam bentuk apa pun. Ada yang langsung mengguyur pakai gayung, ada yang mencampurnya dengan tinta, ada air comberan, air bekas cuci pakaian, dll. Setiap orang yang keluar dari rumah akan menjadi bulan-bulanan orang lain. Tak terkecuali kakek-nenek yang sudah jompo sekali pun. Dan, semua orang harus keluar rumah, apa pun yang terjadi. Saling serang. Baca lebih lanjut

Iklan

Cinta itu . . .

“Cinta itu memperjuangkan, bukan mengalah”. Begitu kata orang.
Setiap orang punya deskripsi masing-masing tentang cinta, begitu juga kita.

Kali ini biarkan aku yang mengalah. Meski inginku memperjuangkan, tapi hatimu sudah memilih orang lain. Biarlah aku diam, cukup dengan memperjuangkanmu dalam setiap baris-baris doa yang kulayangkan ke langit. Hanya dengan itu, caraku mendukung kebahagiaanmu.

Elegi

01 Desember.
Ia akan mengenangnya sebagai hari “malang” dalam sepanjang perjalanan kisah percintaannya. Katanya, percintaannya memang selalu payah. Barangkali, ini yang terpayah dari kepayahan-kepayahan yang sering ia katakan.

Sudah terlalu lama ia tidak menjalin cinta sejak beberapa tahun lalu ia memutuskan untuk mengakhiri sebuah hubungan dengan seorang lelaki, katanya teman sekolahnya. Saat itu, mungkin saja bukan cinta. Ya, begitu katanya. Ia bahkan masih terlalu kanak-kanak untuk mengerti apa itu cinta.

Beberapa bulan dihabiskannya untuk meratapi, mengapa ia harus menjalankan laku yang demikian. Berkata cinta, lalu berpisah. Padahal, semestinya, dalam bayangnnya sejak kecil, bahwa ia akan mengatakan cinta satu kali saja, pada satu orang lelaki saja, lalu menikah dengannya. Selesai. Begitulah bayangan polosnya. Namun, kisah percintaan yang demikian tampaknya ada di sinetron saja. Baca lebih lanjut