Mengingat

Ahmad Ihsani, kakakku yang telah damai di surga. Mungkin, kau akan kembali. Menemaniku menulis lagi. Sambil kau bernyanyi, “Lelaki dan rembulan bersatu di malam angin sepoi-sepoi. Rembulan di malam hari, lelaki pasrah hanya memandang, hatinya berat.” Aih, terkadang kita menyukai lagu, bukan karena benar-benar suka. Tapi, karena kenangan yg membersamainya.

Bagaimana malam Minggumu di surga? Apa kau sudah berhasil mengencani bidadari? Bagaimana rupa dia? Ceritakanlah padaku. Apa dia seperti perempuan-perempuan di dunia? Cantik dan hobi selfie. Atau, kau masih sama seperti dulu. Mencintai perempuan bukan karena rupanya, tapi karena hatinya. Ah, toh semua bidadari wajahnya cantik. Begitu kata ibu kan?

Ahmad Ihsani, kakakku yang telah damai di surga. Apa surga benar seperti yang dikatakan para pujangga? Di mana tak ada tempat untuk menyimpan sakit hati di sana? Atau, para pujangga itu sebenarnya hanya berimajinasi saja? Ceritakanlah padaku. Setelah kepergianku tahun lalu, aku belum mendengar apa-apa darimu. Barangkali aku terlalu sibuk dengan lelaki lain. Bagaimana tidak. Aku menemukan pelita di tengah gelapnya malam penantianku selama ini. Tapi, malam lebih pekat, dia meredup.

Ahmad Ihsani, kakakku yang telah damai di surga. Benarkah orang yang sudah mati tetap akan setia menemani orang yang dicintainya yang masih hidup?

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s