Kembali pada Permulaan

IMG_20151128_114440[1]

Kau, tentu saja juga akan abadi dalam karyaku. Dengan caranya sendiri. Karena, di atas setiap “rasa”, selalu ada Si Empunya Rasa.

Buat apa aku menyalahkan waktu? Apa lantas ia akan mengembalikan saat-saat di mana kita duduk berdua, membicarakan hal-hal sepele, yang entah kenapa meski sepele semua terasa begitu indah jika itu bersamamu? Tidak.

Kemarin, memang begitu. Aku serba ingin menyalahkan semuanya. Menyalahkan waktu, menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain yang kini lebih dekat denganmu, menyalahkan aku, menyalahkan nasibku, bahkan aku ingin menyalahkanmu juga!

Kenapa semua yang aku inginkan bersamamu tak terwujud. Aku mulai frustrasi. Aku mulai berpikir negatif pada semua rencana Tuhan. Mempertemukan kita, membuat kita saling mencintai, lantas memisahkan kita tanpa kepastian akankah kelak kita bisa melanjutkan cerita kita atau tidak. Sesingkat itu saja skenario Tuhan.

Tapi, hari ini, aku mulai harus memahami. Jalan kita tak semestinya terlalu mulus layaknya tol. Harus selalu butuh berliku untuk bisa menikmati setiap proses perjalanan. Di balik belokan yang curam biasanya ada pemandangan yang menawan. Dan, lika-liku itu, bisa jadi dari lakuku. Juga, bisa jadi dari lakumu.

Aku mulai tak lagi menyalahkan apa-apa. Bahkan ketika kau pajang sebuah foto perempuan lain sekali pun. Di situ, justru saatnya aku harus berkaca dan termotivasi. Toh, cinta bukan pengorbanan. Dan aku tentu saja tidak mau mengorbankan rasa bahagiaku hanya untuk meratapi kenapa saat ini kau justru bersama dia, bukan aku. Tentu saja terlalu kekanak-kanakan jika aku harus melakukan hal yang sama. Tiba-tiba berjalan menjauhimu entah dengan alasan apa, menemui lelaki lain, lalu berjalan dengannya.

Aku tidak lantas berlari, aku diam. Diam dalam zona amanku, di mana masih selalu ada namamu di hatiku. Menyimpannya saja, sampai kelak Tuhan menunjukkan tanda-tanda cerita kita akan berlanjut. Rasanya bagiku begitu sudah cukup. Tidak usah aku mengejar-ngejarmu lagi untuk menjelaskan ini-itu, kenapa begini-begitu. Patah hati tak harus semelankolis itu. Cukup kembali ke permulaan, bahwa di awal dulu kita bertemu dalam kebaikan. Lalu, kita merencanakan kebaikan-kebaikan. Dengan begitu, aku akan selalu mengenangmu sebagai sebuah kebaikan pula.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s