Belenggu

Saya takut, jika saya menua tanpa karya. Berdiam di tempat yang diciptakan nyaman untuk saya. Mengikuti doktrin yang selalu diarahkan untuk menguntungkan saya. Bersosialisasi dengan orang-orang yang lurus menurut mereka. Bahkan, sampai menikahi lelaki yang dipilihkan untuk membahagiakan saya.

Semua itu tidak membuat saya merasa ada.
Saya melebur bagaikan gula yang terus diaduk dalam seduhan teh panas. Diam. Patuh.

Tentu saja ini belum jadi akhir cerita. Bahkan gula yang telah menyatu dengan teh panas sekalipun masih bisa menghambar lagi.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s