Mengingat

Ahmad Ihsani, kakakku yang telah damai di surga. Mungkin, kau akan kembali. Menemaniku menulis lagi. Sambil kau bernyanyi, “Lelaki dan rembulan bersatu di malam angin sepoi-sepoi. Rembulan di malam hari, lelaki pasrah hanya memandang, hatinya berat.” Aih, terkadang kita menyukai lagu, bukan karena benar-benar suka. Tapi, karena kenangan yg membersamainya.

Bagaimana malam Minggumu di surga? Apa kau sudah berhasil mengencani bidadari? Bagaimana rupa dia? Ceritakanlah padaku. Apa dia seperti perempuan-perempuan di dunia? Cantik dan hobi selfie. Atau, kau masih sama seperti dulu. Mencintai perempuan bukan karena rupanya, tapi karena hatinya. Ah, toh semua bidadari wajahnya cantik. Begitu kata ibu kan?

Ahmad Ihsani, kakakku yang telah damai di surga. Apa surga benar seperti yang dikatakan para pujangga? Di mana tak ada tempat untuk menyimpan sakit hati di sana? Atau, para pujangga itu sebenarnya hanya berimajinasi saja? Ceritakanlah padaku. Setelah kepergianku tahun lalu, aku belum mendengar apa-apa darimu. Barangkali aku terlalu sibuk dengan lelaki lain. Bagaimana tidak. Aku menemukan pelita di tengah gelapnya malam penantianku selama ini. Tapi, malam lebih pekat, dia meredup.

Ahmad Ihsani, kakakku yang telah damai di surga. Benarkah orang yang sudah mati tetap akan setia menemani orang yang dicintainya yang masih hidup?

Iklan

Kembali pada Permulaan

IMG_20151128_114440[1]

Kau, tentu saja juga akan abadi dalam karyaku. Dengan caranya sendiri. Karena, di atas setiap “rasa”, selalu ada Si Empunya Rasa.

Buat apa aku menyalahkan waktu? Apa lantas ia akan mengembalikan saat-saat di mana kita duduk berdua, membicarakan hal-hal sepele, yang entah kenapa meski sepele semua terasa begitu indah jika itu bersamamu? Tidak. Baca lebih lanjut

Guru, Pengalaman yang Menggurui

Di sosial media, ramai sekali ucapan “Selamat Hari Guru” dan “Selamat Hari PGRI”. Ada juga yang bilang, “ini hariku”, “ini hari kita”, dll. Saya sengaja tidak iku-ikutan memberi ucapan demikian. Bukan karena lupa cara berterima kasih, tap toh tidak setiap perayaan harus dibombastiskan.

Pendidikan layaknya sebuah pesta yang tidak semua anak negeri mendapatkan undangan.

Pendidikan di Indonesia ini benar sebuah pesta. Anak-anak yang diundang datang adalah mereka yang berada di kota-kota besar, sedangkan anak-anak di pelosok tidak pernah tahu betapa meriahnya pesta pendidikan di negerinya. Di sana, kau akan temui sekolah tanpa satu pun buku pelajaran, sekolah tanpa satu pun sarana penunjang kegiatan belajar-mengajar, dan sekolah yang sering libur lantaran tidak ada guru yang hadir. Jika bukan karena gedung sekolah, bangku-bangku, dan papan nama sekolah, barangkali orang-orang tidak menyebutnya sebagai ‘sekolah’.

“Tuhan, betapa pilih kasihnya negaraku!”

Lalu, bagaimana saya harus ikut-ikutan berpesta merayakan hari guru. Sementara saya bukan siapa-siapa.

Belenggu

Saya takut, jika saya menua tanpa karya. Berdiam di tempat yang diciptakan nyaman untuk saya. Mengikuti doktrin yang selalu diarahkan untuk menguntungkan saya. Bersosialisasi dengan orang-orang yang lurus menurut mereka. Bahkan, sampai menikahi lelaki yang dipilihkan untuk membahagiakan saya.

Semua itu tidak membuat saya merasa ada.
Saya melebur bagaikan gula yang terus diaduk dalam seduhan teh panas. Diam. Patuh.

Tentu saja ini belum jadi akhir cerita. Bahkan gula yang telah menyatu dengan teh panas sekalipun masih bisa menghambar lagi.

Mengeja Lelah

12278627_10200986076211788_8090535075415673127_n

Akhirnya, dengan bantuan teman-teman di rumah, gagasan saya mendirikan taman bacaan masyarakat tidak hanya wacana semata. Di rumah saya sekarang, ada sudut baca dan sudut belajar untuk anak-anak dan masyarakat dusun pada umumnya. Dulu, di tempat pengabdian saya bisa mendatangkan lebih dari 200 judul buku atas bantuan teman-teman ICC, teman di Borneo, dan beberapa teman kuliah. Sekarang, di rumah, di kampung halaman sendiri, saya harus mampu berbuat lebih banyak lagi.

Sering sekali saya mendapat tentangan. Katanya, “buat apa sih repot-repot mikir orang lain, memangnya mereka bakal memikirkanmu juga? Mendingan sibuk ngurus diri sendiri, karir, hidup mapan, bahagia. Kamu malah habisin tenaga, waktu, pikiran, bahkan duit buat acara-acara nggak penting. Sok gabung organisasi ini-itu, sok usul ini-itu, sok seneng bantu ini-itu, hasilnya apa?” Baca lebih lanjut

Kangenka sedding

Malam ini, Madrid vs Barcelona. Aku menemanimu nonton. Ya, kau di situ, sedang aku di sini. Laut terlampau luas memisahkan kita. Pun, kata-kata kini ikut membisu. Sudah lama kau tak lagi menyambangiku. Barangkali jarak tengah menguji kita. Atau, memang kau yang sengaja mengulur jarak hingga semakin molor.

Tentu saja seperti biasa, aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam, menunggu sesekali kau berubah pikiran, lalu menghubungiku. Terkadang membayangkan keindahanmu membuatku lupa kalau aku bisa tiba-tiba saja terjungkal. Ah, Tuhan benar mempertemukan kita. Tapi, Tuhan belum mempersatukan kita. Tunggu saja … .

SM-3T Melekatkan Kekeluargaan

Dua hari lalu, saya dan beberapa teman SM-3T dari UNJ, UNY, dan UPI datang takziyah ke rumah Mas Yoyok (SM-3T Angkatan V LPTK UNNES penempatan Kab. Sambas) di Magelang. Tentu saja, kami yang notabene-nya beda angkatan dan beda LPTK tidak begitu mengenal Mas Yoyok. Tapi, demi mendengar berita gugurnya saudara kami itu, kami luangkan waktu untuk mengantarkannya sampai di pembaringan yang terakhir.

Begitulah SM-3T mengajari kami arti persaudaraan dan kekeluargaan. Kami merasa berada di bawah naungan payung yang sama. Persaudaraan kami pun tidak mengenal perbedaan LPTK, perbedaan angkatan, perbedaan suku dan daerah asal, serta latar belakang pribadi masing-masing. Bagi kami, SM-3T adalah rumah, sedangkan kami semua adalah penghuninya. Dan, selayaknya penghuni satu rumah haruslah saling peduli satu sama lain.

Hal tersebut yang menurut saya sebagai salah satu alasan beberapa hari lalu teman-teman sempat mem-bully seorang saudara kami yang lalai. Bukan mem-bully istilahnya, sekedar Baca lebih lanjut