Ingatan pada Aru dan 259 Tahun Kota Yogyakarta

11885014_10200774388559729_6013168836055315623_o

Beberapa hari lalu, (katanya) Kota Yogyakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-259. Usia yang masih belia untuk ukuran sebuah kota barometer pendidikan, budaya, pariwisata, dan kearifan lokal. Tentu saja saya tidak akan membicarakan hal-hal tersebut, karena toh banyak orang yang jauh lebih berkapasitas daripada saya untuk membedahnya. Saya hanya akan bercerita tentang: surjan, kebaya, dan ingatan saya tentang Kepulauan Aru.

Bangga bagi para civitas akademika di seluruh Kota Yogyakarta, pada hari ulang tahun tersebut mereka semua mengenakan pakaian khas Jogja. Beberapa tampak mengenakan surjan, kebaya, dan sebagainya.  Tentu saja bahagia, bisa menjadi pendidik atau peserta didik di kota kelahirannya sendiri, apalagi di salah satu kota yang (kata orang-orang) menimbulkan berjuta keistimewaan. Saya sendiri lebih dari tujuh belas tahun merasakan kenikmatan tersebut. Hanya, pemandangan itu tiba-tiba mengingatkan saya pada perjalanan satu tahun lalu di pulau nun jauh dari Kota Yogyakarta, Aru.

Bagi saya, Yogyakarta istimewa seperti istimewanya rumah orang tua saya. Tempat itu sebagai satu-satunya papan untuk memulangkan semua kerinduan saya. Ya, rindu pada kehangatan. Kehangatan yang tersimpan jauh dalam laci jiwa yang paling dalam. Juga, sebagai tempat satu-satunya yang ingin saya jadikan tujuan ketika: pulang, menyemayamkan seluruh isi jiwa saya.

259 tahun Kota Yogyakarta, saya belum sepenuhnya benar-benar pulang. Ini hanya bagian dari persinggahan saja. Karena, segalanya tentang Yogyakarta akan benar-benar menjadi istimewa bagi saya ketika saya jauh darinya. Ia menyalakan pelita pada laci terdalam dari jiwa saya sehingga tertanggap kehangatan. Tapi, kehangatan bagi laci-laci lain dalam jiwa saya tidak berada di kota ini.

Saya ikut senang mendengar banyak kawan membicarakan kebanggaan dan kebahagiaan mereka berada di Kota Yogyakarta. Bahkan, beberapa teman dari luar kota sudah merancangkan masa depan di kota ini. Jogja kini dan nanti. Begitu kata mereka.

Saya ikut senang karena kini Kota Yogyakarta semakin lengkap dengan fasilitas kehidupan yang modern. Banyak bangunan baru, banyak tempat nongkrong baru, banyak jalan dan jembatan baru. Semoga itu semua nantinya bermanfaat bagi seluruh penghuni kota. Meskipun sindiran datang dari kanan-kiri, toh mereka hanya sebatas menyindir saja. Kalau benar-benar pengap berada di kota ini, pasti mereka mengambil langkah yang lebih konkret. Pergi.

Saya ikut senang Kota Yogyakarta banyak diminati orang untuk dijadikan tempat menghabiskan hari tua mereka. Semoga rumah orang tua dan kampung saya tidak pernah tergusur oleh pendatang.

Saya ikut senang karena kualitas pendidikan di Kota Yogyakarta tinggi. Lagi, biaya hidup di sini murah. Lalu, banyak orang tua mengirimkan anak-anak mereka untuk menimba ilmu di sini. Semoga banyak guru yang mau menuju ke luar zona nyaman, bukan melulu mendatangi zona nyaman. Lalu, anak-anak yang tidak bisa ke sini mendapatkan pendidik dan fasilitas pendidikan sebaik di Kota Yogyakarta.

259 tahun Kota Yogyakarta, izinkanlah aku untuk pergi lagi.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s