Ingatan pada Aru dan 259 Tahun Kota Yogyakarta

11885014_10200774388559729_6013168836055315623_o

Beberapa hari lalu, (katanya) Kota Yogyakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-259. Usia yang masih belia untuk ukuran sebuah kota barometer pendidikan, budaya, pariwisata, dan kearifan lokal. Tentu saja saya tidak akan membicarakan hal-hal tersebut, karena toh banyak orang yang jauh lebih berkapasitas daripada saya untuk membedahnya. Saya hanya akan bercerita tentang: surjan, kebaya, dan ingatan saya tentang Kepulauan Aru.

Bangga bagi para civitas akademika di seluruh Kota Yogyakarta, pada hari ulang tahun tersebut mereka semua mengenakan pakaian khas Jogja. Beberapa tampak mengenakan surjan, kebaya, dan sebagainya.  Tentu saja bahagia, bisa menjadi pendidik atau peserta didik di kota kelahirannya sendiri, apalagi di salah satu kota yang (kata orang-orang) menimbulkan berjuta keistimewaan. Saya sendiri lebih dari tujuh belas tahun merasakan kenikmatan tersebut. Hanya, pemandangan itu tiba-tiba mengingatkan saya pada Baca lebih lanjut

Kenangan

Kenangan adalah bagian besar dari bentuk kepengecutan. Pengecut, karena ia tidak pernah datang sendirian. Selalu, ada-ada saja yang menyertainya. Ia bisa datang dari mana saja, juga dari apa saja. Ia menyentakkan kita saat menyeduh kopi, ia ada pada bau parfum seorang yang kebetulan berpapasan di jalan, pada senja yang menua, pada pantai yang mendung, pada gerimis, pada secarik kertas, atau pada album-album foto. Ia datang dalam bentuk apa saja. Tawa, luka dan nelangsa.

Ia, kenangan, blingsatan seperti setan. Datang tak dijemput, pulang tak diantar.

Karena Setiap Rindu Memiliki Muara

Bulan masih saja menggantung di kegelapan malam. Kali ini tampak cantik, satu per empat lingkaran. Bulan. Apa sih sebenarnya pesonanya? Mengapa ia selalu membawaku membuka tabir masa lalu? Lantas, aku merindu.

Sebenarnya, ada yang ingin aku tanyakan pada bulan, “Tahu kau apa arti kerinduan?” Ah! Tentu saja ia tak akan pernah benar-benar menjawabnya untukku. Tentang merindu, buat apa aku bertanya pada makhluk lain. Toh, kata cermin, aku adalah makhluk merindu yang paling berkelas.

Merindu itu membutuhkan seni, passion dan psikologis yang matang.