Yang Perih, Mendewasakan

C360_2015-01-14-20-15-58-828

Begitu memang, “Yang perih, mendewasakan”.
Bisa jadi, karena lebih sering merasakan yang perih daripada yang manis, maka saya mengamini kata itu. Lagi pula, tidak ada yang terlalu manis dalam hidup ini. Rasa manis hanya selebar mulut kita. Begitu juga dalam perkara cinta. Mencintai bukan perkara remeh-temeh, sekalipun terlalu banyak rasa cinta bertebaran di antara hembusan angin dan kehidupan kita sehari-hari. Dan, entah selalu saja ada jembatan antara perih dan cinta.

Cinta.
Bahkan sampai umur setua ini saya masih terlalu buta padanya. Cuma sering mengiyakan kata-kata orang saja. “Cinta itu tidak melulu kamu dengan pacarmu, lebih dari itu kamu dengan Tuhanmu”. Iya. “Cinta itu rumit, seperti soal Fisika yang tiba-tiba kita lupa rumusnya”. Iya. “Cinta itu gampang saja, bertemu lelaki tampan lalu jatuh cinta”. Iya. “Cinta ki panganan opo mbak?”. Dan ini-itu testimoni tentang cinta. Bahkan sampai pada, “Mencintai tidak harus memiliki”.

Perkara mencintai, saya sungguh tidak ahli.
Selama ini, saya menjalani hidup begini-begini adanya. Saya menghormati orang tua saya, saya menyayangi saudara dan keluarga, saya menemui teman-teman, saya memberi dan menerima dari orang lain, begitu-begitu saja. Kata beberapa orang, “Ya yang kamu lakukan itu bagian dari cara mencintai, Uss!”

Tapi, lebih dari itu (saat ini) saya ingin menulis tentang mencintai yang lain. Juga tentang perih yang mendewasakan.

Kenapa saya musti menulis? Curhat? Entahlah. Membingkai kenangan.

Saya memang bukan perempuan pencinta yang baik. Perkara mencintai pun saya kalah dengan anak-anak SMP masa kini. Jadi begini, pernah kadang-kadang kita merasa diri kita terlalu susah mencintai orang lain. Bisa jadi karena dulu pernah disakiti, karena menjaga diri, karena tidak mau ribet, karena tidak mau diperbudak rasa, atau apalah alasan kita masing-masing. Butuh bertahun-tahun lamanya untuk menyimpan rapat-rapat perasaan itu. Bahkan terkadang bertanya-tanya pada diri sendiri, “Jangan-jangan syaraf cinta saya sudah putus ya?”.

Tapi, sejauh kita lama menutup pintu hati kita, tiba-tiba ada rasa aneh yang muncul ketika bertemu seseorang. Rasa aneh itu seperti ada air dingin menyirami hati kita. Tiba-tiba sejuk, dan kita tersenyum. Simpel. Kita jatuh cinta.

Cinta memang tidak sesimpel itu. Tapi, buat apa lagi kita merumitkan hal yang sebenarnya sederhana. Mencintai itu sederhana. Yang istimewa adalah cara kita mempertahankan cinta itu agar selalu subur di hati.

Baiklah, ceritaya sekarang kita sudah jatuh cinta. Lantas bagaimana jadinya jika rasa cinta itu harus dibinasakan karena alasan lain? Alasan yang dinilai lebih istimewa daripada mencintai yang sederhana tadi? (“dibinasakan” terlalu lebay, “disimpan rapat-rapat”).

Atau, bagaimana jadinya jika ternyata kita bukan satu-satunya orang yang mencintai “objek” yang kita cintai tadi?Sedangkan dia yang lain itu lebih prestisius daripada kamu.

Bagaimana jika kita mencintai, tapi harus merelakan “objek” yang kita cintai itu pergi?
Tentu saja bukan untuk pergi dari hati kita, tapi pergi menemui kebahagiannya. KArena, cinta kita tak pernah main-main, selalu menghadirkan damai di hati.

Jadi bagaimana?

Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, bagi saya begini. Sekarang, anggap saja saya sedang mencintai seseorang. Sekali lagi ini hanya anggapan ya! Saya yang sudah lama menutup rapat-rapat keinginan untuk mencintai, tiba-tiba mencintai seseorang. Perasaan itu simpel saja. Saya mengagumi lalu saya jatuh cinta. Ketika saya merasakan cinta itu, saya merasa seolah-olah seluruh kebahagiaan di dunia ini telah berhasil saya serap dan saya nikmati sendiri. Sampai-sampai saya merasakan mabuk, ya, mabuk cinta. Indah.

Tetapi, tiba-tiba saya dihadapkan pada 3 pertanyaan tadi, pertanyaan-pertanyaan yang menjelma kenyataan. Lantas saya merasa frustrasi, down, “saya ini siapa? Sebutir debu yang bikin kelilipan mata, lalu minta orang buat tiupin, fuuhh, hilang!”
Tentu saja untuk pertama-tama saya patah hati dulu. Saya merasa seluruh isi bumi menindih kepala saya. Lantas saya pura-pura mati, dengan air mata berlinang di sana-sini. Lebay.
Setelah prosesi patah hati yang tidak cukup bahkan hitungan hari, saya masih saja patah hati, lagi, lagi, dan lagi. Saya rasa wajar. Kita, manusia-manusia yang terlalu diperbudak cinta, terlalu mengagungkan rasa daripada logika, wajar bersikap begitu.

Lalu, Mario Teguh datang dan berkata, “Hei, hidupmu masih terus berjalan, mau kamu down mau kamu semangat, hidupmu masih terus berjalan. Jadi, daripada menjalani hidup dengan hati yang sesak, pikiran kalut, mending kamu jalani dengan happy. Toh, mencintai tak serumit itu, mencintai itu asyik seayik bercanda!”.

Lalu, saya tertawa. Setelah membuat coretan ini, saya dan berharap saya tetap bisa mencintai dengan sederhana, tidak berlebih dan tidak membandingkan.

Sekali lagi, mencintai itu sederhana. Yang istimewa adalah cara kita mempertahankan cinta itu agar selalu subur di hati. Karena yang tumbuh di hati tidak hanya cinta, ada juga iri, sepi, sesal, dan luka.
Dan satu lagi, hidup tidak pernah benar-benar semenarik kata-kata Mario Teguh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s