Pulau Koba dan Dongeng Jabu-nya

20140320_105022

Selama tinggal di Kepulauan Aru, Maluku, saya suka mencuri-curi kesempatan untuk bisa mendengarkan cerita, entah nyata, entah dongeng dari orang-orang di sana. Bodohnya saya, saya tidak selalu ingat untuk segera menuliskannya. Padahal, saya ini tipe orang yang pelupa. Maka, saat ini akan coba saya arsipkan kenangan-kenangan tentang cerita yang berkembang di sana. Sebelum cerita-cerita itu benar-benar hilang dari ingatan saya. Semoga cerita yang saya tulis tidak salah.

Tentang Jabu
Ada sebuah pulau di Kabupaten Kepulauan Aru, namanya Koba. Konon katanya (karena saya tidak datang ke sana), desa ini adalah satu-satunya desa penghasil padi di Kabupaten Kepulauan Aru. Bagaimana bisa pohon padi sampai ke desa itu? Begini ceritanya:
Dahulu kala, ada sebuah pulau bernama Wasir. Di sana, terdapat sebuah kerajaan. Di kerajaan tersebut, sang raja memerintahkan rakyatnya untuk menanam padi. Nah, ada seorang pekerja yang sengaja menyembunyikan sebutir padi di kelopak matanya.
Singkat cerita, pekerja itu ketahuan kalau dia mencuri sebiji padi. Lalu sang raja memerintahkan prajurit untuk menangkapnya. Si pekerja itu melarikan diri ke pulau seberang, namanya Pulau Ujir. Para prajurit mengejarnya, terus mengejarnya. Dia melarikan diri lagi ke pulau sebelah, sampai di desa namanya Samang di Pulau Wokam. Prajurit masih mengejarnya. Dia terus berlari, menerabas hutan, berlari terus ke arah Desa Wokam, terus berlari dan menyeberang ke Pulau Wamar di Kota Dobo.
Dobo, kala itu menjadi pusat kota, banyak pendatang berdatangan di sana, salah satunya orang-orang Bugis. Si pekerja tadi diselamatkan oleh orang Bugis di sana. Dengan kapal milik orang Bugis itu, dia ikut berlayar sampai ke Pulau Koba. Nah, di Pulau Koba (Aru bagian selatan) inilah, si pekerja menyemai sebiji padi tadi. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan seterusnya, padi berkembang biak di sana. Maka, di pulau itulah menjadi satu-satunya penghasil padi, katanya padi yang istimewa. Istimewanya lagi, di Koba itu tidak ada orang Bugis yang boleh melihat tanaman yang mereka tanam. Jika sampai ada orang Bugis melihatnya, maka dipastikan tanaman-tanaman (hasil bumi) akan mati, lalu panen pun akan gagal. Jika orang Koba tidak sengaja berbicara dengan orang Bugis, keesokan harinya pantangan bagi mereka untuk pergi ke sawah atau kebun. Begitulah mitos di sana.
Pada setiap musim panen, masyarakat Koba melaksanakan upacara adat terbesar, namanya Jabu. Upacara ini adalah sebuah rangkaian memberikan hantaran berupa berton-ton padi ke desa-desa yang dahulu dilewati si pekerja yang membawa sebutir padi pada kelopak matanya itu. Seluruh masyarakat Pulau Koba akan mengosongkan pulaunya, menaiki sampan, ya sampan yang didayung menuju Kota Dobo, lalu berlanjut ke Ujir, Samang, dan seterusnya ke Wokam.
Dalam upacara ini, selama memasuki wilayah desa-desa yang dituju, kapal atau sampan hanya boleh didayung. Lalu sesampainya di desa yang dituju, mereka melaksanakan tari-tarian adat dan Jabu selama tiga hari tiga malam, tanpa tidur. Benar-benar tanpa tidur. Oh ya, selama melakukan perjalanan laut ini, orang-orang Koba tidak boleh melepas pandangan ke Pulau Wasir. Pamali. Ketika mereka melihat Pulau itu, maka hanya kematian yang akan mereka jumpai.
Tari-tarian, musik, dan hantaran akan diserahkan kepada pemuka adat masing-masing desa. Lalu, sebagai gantinya orang Koba mendapat kesempatan untuk melakukan Jabu. Jabu adalah semacam mengakui segala barang milik orang desa itu sebagai miliknya. Misalnya, seorang Koba menginginkan ayam milik orang Ujir, maka dia bilang, “Jabu ayam!” Lalu, mau tidak mau orang Ujir harus merelakan ayamnya diminta orang Koba tersebut. Jika menolak, maka ayam pun akan mati keesokan harinya. Katanya, yang demikian itu pernah terjadi. Begitu Jabu halal untuk semua benda yang dimiliki, termasuk perhiasan yang melekat di badan. Begitulah acara Jabu dan sepenggal dongeng yang menyertainya.
Aih, saya agak menyesal harus kembali ke Jawa sebelum Upacara Adat Jabu ini dilaksanakan. Ini upacara adat terbesar di sana. Informasinya akan segera dilaksanakan pada bulan-bulan ini.

Sumber: Seorang Guru Seni Budaya di SMP N 3 Samang, Desa Samang.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s