Dongeng Istana Pulau Wasir

20150602_110841

Pulau Wasir sekarang ini adalah salah satu pulau di mana terdapat perusahaan mutiara dan pembudidayaan ikan kerapu,lobster, juga ikan-ikan bernilai rupiah tinggi lainnya. Seperti cerita yang berlangsung turun-temurun, dahulu kala di Pulau Wasir terdapat sebuah istana. Istana tersebut dipimpin oleh seorang raja ular raksasa. Raja tersebut telah memiliki banyak istri. Akan tetapi, ia ingin memperistri seorang gadis cantik. Gadis itu tentu saja tidak mau diperistri oleh seekor ular. Tapi, pada akhirnya ia meluluskan kemauan sang raja. Tentu saja ada niatan terselubung dari kemauan gadis tersebut.
Setelah menjadi istri bungsu sang raja, tiap sore gadis itu melihat ke batas laut. Ia menyaksikan matahari menguning emas, bulat, sebagaimana senja yang manis. Ia katakana pada sang raja bahwa ia ingin sekali memiliki piringan emas yang terpampang di langit senja itu. Piringan emas yang tak lain adalah matahari.
Karena cintanya yang teramat besar pada istri bungsunya, sang raja berkeinginan besar untuk menuruti kemauan istrinya itu. Ia ingin menghadiahi piringan emas untuk istrinya. Maka, setiap sore ditempuhlah perjalanan laut bersama para pengawal dan prajurit menuju piringan emas tersebut. Setiap kali senja datang, ia yakin bisa mendapatkannya, lalu senja perlahan tenggelam. Ia kembali pulang dengantangan hampa. Begitu seterusnya berjalan berkali-kali.
Hingga pada suatu sore, sang raja memimpin perjalanan lagi. Kali ini adalah perjalanan terjauh yang ia tempuh. Ia ingin segera mendapatkan piring emas itu.Sementara itu, dari istana, sang putri memimpin seluruh rakyat dan seisi kerajaan untuk membakar semua kayu dan membuat bara api menyala. Seluruh kerajaan menyalakan bara api. Entah apa yang dimaksudkan sang putri, semua hanya mengikuti saja kemauannya.
Pada perjalanan terjauhnya ini, sang raja tersentak, ia seolah sadar dari kebodohan panjangnya. Ia tahu kalau piring emas yang dimaksudkan oleh istrinya itu adalah matahari. Hal yang mustahil ia dapat membawakan matahari kepada istrinya. Lalu ia pulang dengan geram karena merasa telah ditipu oleh istrinya.
Sesampaina di Pulau Wasir, sebelum sang putri mendengar amukan raja, ia telah memerintahkan semua rakyat untuk bersiap-siap membawakan bara api. Ketika sang raja hendak marah dan membuka mulutnya, buru-buru putri menyuruh semua orang untuk memasukkan bara api dan kayu-kayu ke dalam mulut raja, sang raja ular. Sang raja semakin geram. Ia teramat marah. Ia kibaskan ekornya berkali-kali untuk menghancurkan seluruh kerajaan beserta isinya. Pada kibasan yang kesekian kalinya, Pulau Wasir tenggelam ke dasar laut beserta seluruh penghuninya. Begitulah kerajaan Wasir berakhir.
Sampai saat ini, masyarakat sekitar meyakini bahwa masih ada kerajaan gaib di dasar laut. Setiap kali ada orang yang menyelam di daerah itu, maka mereka akan menemui mitos-mitos tersebut. Di Pulau Wasir sekarang ini ada sebuah patung putri yang berjalan dengan seekor kucing. Patung tersebut konon untuk melukiskan sang putri.

Sumber: Seorang Guru Seni Budaya di SMP N 3 Samang, Desa Samang.
.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s