Sahabat: Satriyo Wahyu Hajar

 

IMG_0029

Ini penghormatan terakhir untukmu, teman! Sebuah catatan untuk mengenangkanmu, di antara kami teman-teman yang masih bertahan sampai saat ini.

Namanya Satriyo Wahyu Hajar. Saya sendiri cuma mengenal sebatas nama itu sebelum akhirnya kita bertemu di agenda prakondisi UNJ. Ya, karena sebelum prakondisi saya ikut mengurus beberapa hal terkait kebutuhan informasi teman-teman yang dialihlokasikan dari LPTK UNY Jogja ke UNJ Jakarta, karena saya asli wong Jogja dan kebetulan kuliah di UNY.

Ketika itu, kita berkenalan di sela-sela kegiatan,

“Mas dari UNY juga to?”

“Iya, Mbak’e juga?” Jawabnya dengan logat Jawa sedikit ngapak.

“Iya. Jurusan apa? Aku Bahasa Indonesia, FBS.”

“Elektro mbak, FT. Berarti kamu kenal bla bla bla …” Dia mulai bertanya.

“Oh, iya. Aku ada teman Elektro se-angkatanmu, Rizal Achmadsyah, kenal?”

“Walah Mbak, aku cah Elektro arus lemah lho! Nggak kenal! Hahaa.” Dan obrolan kita berlanjut dengan bahasa daerah. Dia mulai ceritakan bagaimana bisa sampai ikut SM-3T.

Sejauh yang saya kenal setelahnya, Satriyo seorang yang ramah, kocak, friendly dan cenderung pekok banget. Pekok barangkali istilah Jawa yang tepat buatnya. Ia sering membual, membuat lelucon yang entah magic apa, bisa saja membuat kita tertawa. Banyak teman yang terhibur dengan ulahnya. Prakondisi di UNJ dan Pusdiklat PASKHAS TNI AU LANUD Sulaiman, Bandung barangkali yang sangat membekas di ingatan kami akan kebersamaan dengannya.

Hari ini, 16 April 2015, teman kami tersebut, Satriyo, telah pulang mendahului kami semua. Ia berpulang ke tempat sebaik-baiknya ia harus pulang. Tentu saja, dalam sebuah perantauan seperti hari ini, kami semakin tahu siapa yang sangat kami rindukan dan ke mana kelak kami akan pulang. Ya, karena kami punya rumah dan punya keluarga yang kami tinggalkan.

Ia, teman kami, Satriyo, tidak pernah benar-benar meninggalkan kami. Ia hidup di hati kami dan terus menguatkan kami menempuh beratnya jalan juang ini. Sebagai seorang pendidik, ia meninggalkan kami semua setelah menanam benih-benih kebaikan di tanah yang dijanjikan oleh mimpi-mimpi kami. Ia adalah kuntum bunga yang layu sebelum mekar. Ia adalah camar yang meninggalkan kawanannya sebelum sampai pada tujuan akhir. Akan tetapi, semuanya memang sudah berakhir baginya. Dan, kami teman-teman seperjuangannya inilah yang akan melanjutkan semua yang telah ia perjuangkan. Tentu saja karena di antara kami memiliki satu hal yang sama. Kami memiliki ibu yang sama, Ibu Pertiwi. Ibu yang menitipkan masa depan anak-anaknya di tangan kami.

Selamat jalan Satriyo! Indonesia bangga padamu. Tentu saja kami pun bangga padamu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s