Aru, Mutiara Terpendam di Pedalaman Nusantara

20140831_115918           

Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu, begitu kiranya kata yang tepat untuk melukiskan perasaan kami. Saat ini, Tuhan telah mewujudkan mimpi-mimpi yang dipeluk-Nya itu karena kami mendapat tugas pengabdian di pulau mutiara, Kabupaten Kepulauan Aru. Kami adalah dua puluh peserta SM-3T Angkatan IV LPTK UNJ. Kami diberangkatkan dari LPTK UNJ (Jakarta), tetapi sebenarnya kami adalah peserta pengalihan dari LPTK UNY (Jogja). Selanjutnya, kami menyebut diri dengan “Kesatria Aru”.

Ikatan persahabatan segera mengerat di antara kami. Tentu saja, ketika kami semua berada di rantau, sahabat-sahabat seperjuangan inilah yang hadir menggantikan keluarga. Ketika ada teman yang sakit, teman lain merawat, ketika ada teman yang kekurangan, teman lain berusaha melengkapi. Semua itu didasarkan pada sikap saling peduli dengan berlandaskan jiwa korsa. Tuhan Maha Baik, menghadirkan sahabat baru ketika kami meninggalkan sahabat-sahabat lama sepergaulan di daerah asal, karena yang berat dari merantau adalah menahan rindu.

Perjalanan menuju Kepulauan Aru ditempuh melalui udara. Dari Jakarta, kami meninggalkan pusat kota pemerintahan untuk selanjutnya menuju pulau yang entah belum bisa kami prediksikan sebelumnya. Rasa cemas dan khawatir menyelimuti keberangkatan kami. Bagaimana tidak? Beberapa pelatih ketika prakondisi di Paskhas TNI AU Lanud Sulaiman Bandung menyebutkan, Aru adalah pulau yang tak terlihat. Meski demikian, sedikit melegakan ketika mereka juga mengatakan bahwa Aru adalah pulau mutiara yang kaya akan hasil laut. Tentu saja dalam pikiran kami, pulau itu adalah secuil surga yang Tuhan turunkan ke bumi.

Selama perjalanan, kami menyaksikan langit membentang begitu luasnya, awan-gemawan bergumul, dan gunung-gunung berdiri kokoh diselimuti kabut. Perjalanan terasa begitu menyenangkan, perasaan sedih meninggalkan tanah kelahiran pun perlahan luntur oleh virtual kemegahan alam tersebut. Begitu juga rasa cemas dan khawatir, perlahan berganti menjadi kekaguman akan negeri kami yang elok. Nusantara selalu punya caranya sendiri untuk menyuguhkan kemolekannya.

Dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta kami singgah sebentar di Bandara Juanda, Surabaya. Selanjutnya, kami menuju Bandara Pattimura, Ambon. Kami transit dua hari di Ambon sembari menunggu pemberangkatan pesawat perintis menuju Kepulauan Aru. Selama transit, kami mengunjungi pusat Ambon Kota dan singgah di masjid pusat kota. Di sana, kami mendengarkan sejarah berdirinya masjid dan sepenggal kisah menyayat hati tentang pertikaian antarumat beragama di sana.

Keberangkatan dari Ambon ke Kepulauan Aru harus singgah di dua tempat, yaitu di Tual dan Saumlaki. Perjalanan udara terasa berbeda dari yang sebelumnya kami rasakan karena panorama yang tersaji nyaris hanya hutan dan lautan.

Kabupaten Kepulauan Aru merupakan pemekaran dari Maluku Tenggara. Jika dibandingkan dengan pulau Jawa, infrastuktur di daerah ini sangat minim. Di Kota Dobo misalnya, sebagai pusat kota kabupaten saja masih terdapat desa-desa yang tertinggal, baik dari fasilitas umum maupun fasilitas pendidikan. Hal semacam itu dapat kami maklumi karena memang daerah ini termasuk daerah tertinggal di Indonesia.

Di Kota Dobo, terdapat sebuah pantai nan eksotis yang masih perawan, namanya Pantai Batu Kora. Pada hari-hari biasa pantai tersebut sepi. Akan tetapi, pada hari Minggu, pantai ramai didatangi penduduk lokal. Mereka menikmati hari libur dengan bermain-main, menyalakan musik, dan berjoget bersama basah-basahan di air pantai. Selain itu, ombak yang tenang mendukung keintiman pengunjung untuk menikmati senja di antara bebatuan karang. Pantai Batu Kora terletak di Desa Wangel, di sisi utara Kota Dobo. Selain pantai ini, masih ada beberapa pantai dan dermaga di kota. Bagi kami, pantai dengan panorama indah dan lingkungan yang bersih sangatlah memukau. Di kota-kota besar di mana kami berasal, kebanyakan pantai telah dieksploitasi.

Menjadi salah satu tugas pengabdian kami selanjutnya, yakni mencerdaskan generasi muda di Kepulauan Aru agar kelak mereka mampu membangun daerahnya. Bersama mereka, kami akan berusaha mewujudkan mimpi-mimpi yang tertinggal.

Di kota Dobo, sebagian perekonomian warga ditopang dengan perdagangan dan hasil laut. Akan tetapi, sebagian besar aset perdagangan dikuasai oleh kaum pendatang. Walaupun begitu, masyarakat di sini bisa hidup secara harmonis.

Dari segi pendidikan, mayoritas guru di Kepulauan Aru memilih untuk dapat mengajar di daerah yang dekat dengan pusat kota. Oleh karena itu, persebaran guru pun tidak merata. Hanya sebagian kecil guru yang mau mendedikasikan diri untuk mengajar di kampung-kampung pedalaman. Hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi geografis dan medan yang berat untuk menjangkau perkampungan. Selain itu, di perkampungan sangat terbatas akan fasilitas pembelajaran dan motivasi sekolah yang relatif kecil. Dengan kedatangan kami, kami berharap dapat merangkul anak-anak di perkampungan untuk mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia. Karena mimpi dan cinta adalah mukjizat.

 

           

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s