Yang Perih, Mendewasakan

C360_2015-01-14-20-15-58-828

Begitu memang, “Yang perih, mendewasakan”.
Bisa jadi, karena lebih sering merasakan yang perih daripada yang manis, maka saya mengamini kata itu. Lagi pula, tidak ada yang terlalu manis dalam hidup ini. Rasa manis hanya selebar mulut kita. Begitu juga dalam perkara cinta. Mencintai bukan perkara remeh-temeh, sekalipun terlalu banyak rasa cinta bertebaran di antara hembusan angin dan kehidupan kita sehari-hari. Dan, entah selalu saja ada jembatan antara perih dan cinta.

Cinta.
Bahkan sampai umur setua ini saya masih terlalu buta padanya. Cuma sering mengiyakan kata-kata orang saja. “Cinta itu tidak melulu kamu dengan pacarmu, lebih dari itu kamu dengan Tuhanmu”. Iya. “Cinta itu rumit, seperti soal Fisika yang tiba-tiba kita lupa rumusnya”. Iya. “Cinta itu gampang saja, bertemu lelaki tampan lalu jatuh cinta”. Iya. “Cinta ki panganan opo mbak?”. Dan ini-itu testimoni tentang cinta. Bahkan sampai pada, “Mencintai tidak harus memiliki”.

Perkara mencintai, Baca lebih lanjut

Dongeng Istana Pulau Wasir

20150602_110841

Pulau Wasir sekarang ini adalah salah satu pulau di mana terdapat perusahaan mutiara dan pembudidayaan ikan kerapu,lobster, juga ikan-ikan bernilai rupiah tinggi lainnya. Seperti cerita yang berlangsung turun-temurun, dahulu kala di Pulau Wasir terdapat sebuah istana. Istana tersebut dipimpin oleh seorang raja ular raksasa. Raja tersebut telah memiliki banyak istri. Akan tetapi, ia ingin memperistri seorang gadis cantik. Gadis itu tentu saja tidak mau diperistri oleh seekor ular. Tapi, pada akhirnya ia meluluskan kemauan sang raja. Tentu saja ada niatan terselubung dari kemauan gadis tersebut.
Setelah menjadi istri bungsu sang raja, tiap sore gadis itu melihat ke batas laut. Ia menyaksikan matahari menguning emas, bulat, sebagaimana senja yang manis. Ia katakana pada sang raja bahwa ia ingin sekali memiliki piringan emas yang terpampang di langit senja itu. Piringan emas yang tak lain adalah matahari.
Karena cintanya yang teramat besar pada istri bungsunya, sang raja berkeinginan besar untuk menuruti kemauan istrinya itu. Ia ingin menghadiahi piringan emas untuk istrinya. Maka, Baca lebih lanjut

Pulau Koba dan Dongeng Jabu-nya

20140320_105022

Selama tinggal di Kepulauan Aru, Maluku, saya suka mencuri-curi kesempatan untuk bisa mendengarkan cerita, entah nyata, entah dongeng dari orang-orang di sana. Bodohnya saya, saya tidak selalu ingat untuk segera menuliskannya. Padahal, saya ini tipe orang yang pelupa. Maka, saat ini akan coba saya arsipkan kenangan-kenangan tentang cerita yang berkembang di sana. Sebelum cerita-cerita itu benar-benar hilang dari ingatan saya. Semoga cerita yang saya tulis tidak salah.

Tentang Jabu
Ada sebuah pulau di Kabupaten Kepulauan Aru, namanya Koba. Konon katanya (karena saya tidak datang ke sana), desa ini adalah satu-satunya desa penghasil padi di Kabupaten Kepulauan Aru. Bagaimana bisa pohon padi sampai ke desa itu? Begini ceritanya:
Dahulu kala, ada sebuah pulau bernama Wasir. Di sana, terdapat sebuah kerajaan. Di kerajaan tersebut, sang raja memerintahkan rakyatnya untuk menanam padi. Nah, ada seorang pekerja yang sengaja menyembunyikan sebutir padi di kelopak matanya.
Singkat cerita, pekerja itu ketahuan kalau dia mencuri sebiji padi. Lalu sang raja memerintahkan prajurit untuk menangkapnya. Si pekerja itu melarikan diri ke pulau seberang, namanya Pulau Ujir. Para prajurit mengejarnya, terus mengejarnya. Dia melarikan diri lagi ke pulau sebelah, sampai di desa namanya Samang di Pulau Wokam. Prajurit masih mengejarnya. Dia terus berlari, menerabas hutan, berlari terus ke arah Desa Wokam, terus berlari dan menyeberang ke Pulau Wamar di Kota Dobo.
Dobo, kala itu Baca lebih lanjut

Kesatria Aru

FB_IMG_1440471593844

Mungkin, beberapa dari kami tidak tahu jika ada sebutan “Kesatria” yang dilekatkan pada nama kami. Ya, barang katong seng pernah pi duduk bual-bual tentang ini. Nama itu, hanya beberapa orang saja yang mengiyakan. Ah, tidak apa, toh yang mau saya ceritakan bukan tentang nama itu, tapi tentang kami: empat puluh tiga pendidik muda SM-3T Angkatan IV yang ditempatkan di Kabupaten Kepulauan Aru. Pulau timur Indonesia inilah yang pada akhirnya menjadi saksi bisu ikatan persahabatan yang semakin hari semakin mengerat di antara kami. Tentu saja, seperti kata Dee, “tidak semua hal dapat dipaksakan, tapi mereka layak diberi kesempatan”, seperti itu juga persahabatan kami.

Penempatan SM-3T baru pertama kalinya di Kepulauan Aru. Dari Jakarta, dua puluh orang dikirimkan, sedangkan dari Makassar dua puluh tiga orang. Inilah mereka Baca lebih lanjut

Sahabat: Satriyo Wahyu Hajar

 

IMG_0029

Ini penghormatan terakhir untukmu, teman! Sebuah catatan untuk mengenangkanmu, di antara kami teman-teman yang masih bertahan sampai saat ini.

Namanya Satriyo Wahyu Hajar. Saya sendiri cuma mengenal sebatas nama itu sebelum akhirnya kita bertemu di agenda prakondisi UNJ. Ya, karena sebelum prakondisi saya ikut mengurus beberapa hal terkait kebutuhan informasi teman-teman yang dialihlokasikan dari LPTK UNY Jogja ke UNJ Jakarta, karena saya asli wong Jogja dan Baca lebih lanjut

Aru, Mutiara Terpendam di Pedalaman Nusantara

20140831_115918           

Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu, begitu kiranya kata yang tepat untuk melukiskan perasaan kami. Saat ini, Tuhan telah mewujudkan mimpi-mimpi yang dipeluk-Nya itu karena kami mendapat tugas pengabdian di pulau mutiara, Kabupaten Kepulauan Aru. Kami adalah dua puluh peserta SM-3T Angkatan IV LPTK UNJ. Kami diberangkatkan dari LPTK UNJ (Jakarta), tetapi sebenarnya kami adalah peserta pengalihan dari LPTK UNY (Jogja). Selanjutnya, kami menyebut diri dengan “Kesatria Aru”.

Ikatan persahabatan segera mengerat di antara kami. Tentu saja, ketika kami semua berada di rantau, sahabat-sahabat seperjuangan inilah yang hadir menggantikan keluarga. Ketika ada teman yang sakit, teman lain merawat, ketika ada teman yang kekurangan, teman lain berusaha melengkapi. Semua itu didasarkan pada sikap saling peduli dengan berlandaskan jiwa korsa. Tuhan Maha Baik, menghadirkan sahabat baru ketika kami meninggalkan sahabat-sahabat lama sepergaulan di daerah asal, karena yang berat dari merantau adalah menahan rindu.

Perjalanan menuju Kepulauan Aru ditempuh melalui udara. Dari Jakarta, Baca lebih lanjut

Perjalanan ke Kepulauan Aru (SM-3T Angkatan IV LPTK UNJ)

     20140828_075527      

“Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”, begitu kata sepenggal kalimat dalam sebuah novel yang pernah saya baca. Tentang SM-3T ini, saya rasa ini adalah bagian dari mimpi saya yang dipeluk oleh Tuhan. Sebentar, saya akan jabarkan seperti berikut.

Sudah sejak SM-3T angkatan I, saya merasa tertarik untuk kelak mengikutinya. Saya tulis SM-3T besar-besar di dinding samping tempat belajar. Sering ibu bertanya, SM-3T itu apa dan bagaimana. Seiring pertanyaan itu, saya selalu menjawabnya dengan gamblang, tentu saja dengan nada pengharapan yang besar untuk kelak boleh mengikutinya. Maklum, ibu sering tidak memberi izin padaku untuk pergi-pergi ke luar rumah, apalagi ini ke luar pulau yang sangat jauh dari rumah. Saya selalu yakinkan ibu, sejak SM-3T angkatan I (tahun 2011) hingga akhirnya tibalah angkatan IV (tahun 2014).

Saya baru saja yudisium pada 30 Mei 2014 kala itu. Beberapa hari kemudian saya sangat disibukkan dengan aktivitas mencari kelengkapan syarat untuk mendaftar SM-3T. Banyak syarat yang harus dipersiapkan, baik dari kampus maupun dari kelurahan, kantor polisi, dan rumah sakit. Seleksi nasional dimulai dengan tes administrasi. Pada tahap ini, diperiksa seluruh kelengkapan dan syarat pendaftaran yang telah peserta upload ke akun masing-masing di website Dikti. Peserta yang dinyatakan lolos tahap administrasi melanjutkan test online yang dilakukan serentak di seluruh Indonesia selama 3 hari. Selanjutnya, Baca lebih lanjut