Hujan Bulan Juni

Posting kali ini, meminjam judul puisi karya Sapardi, puisi yang sangat dielu-elukan seorang teman. Bisa jadi, posting kali ini juga khususon untuk dia. Semoga menghiburmu, di tengah lara yang menghimpit.

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu

Cinta itu rahasia akan kerinduan. Lantas, bagaimana kita bisa menafsirkan dalam makna cinta? Ah, sekali lagi, saya mengakui bahwa untuk perkara cinta saya begitu payah. Bukankah kamu yang selama ini sering memberiku nasihat? Tentang bagaimana memaknai cinta yang hakiki. Misalnya, pernah kamu bilang padaku, “Aku mau istiqomah pakai jilbab, Us!” Ah, entah itu percakapan kapan, Saya hanya mengingatnya samar. Apa itu bukan suatu wujud cinta? Jika bukan kamu yaang mencintai Tuhanmu, maka Tuhanmulah yang mencintaimu. Ia mengirimkan sebuah petunjuk di tengah terjalnya jalan yang sedang kau lalui. Petunjuk yang menuntunmu untuk bisa memadu cinta, bermesraan dengan Tuhan. Bukankah setelah kamu bilang begitu kamu menjadi dekat dengan kebaikan-kebaikan? Lalu, apa menurutmu cinta itu bukan kebaikan-kebaikan itu sendiri?

tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu

Saya ingat  bagaimana dulu kamu begitu memuji lelaki yang kamu bilang, “Dia baik, beda dari yang lain”. Ah, aku membatin, apa iya mencintai itu  sebatas tahu bahwa orang yang kita cintai itu baik? Eits, sekarang banyak yang baik di luar tapi di dalam hati menipu. Ah, saya bukannya mau mengajarimu untuk suudzan, tapi mencintailah dengan bijak. Jika cinta adalah sikap bijak, maka benar keyakinanku bahwa mencintai itu sulit, sesulit bagaimana untuk bersikap bijak.

tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu

Mencintailah dengan arif, seperti katamu, “Aku mencintai mamaku, bapakku, dan dua adik lelakiku”. Nah, mencintailah dengan cerdik pandai. Tentu kamu paham bagaimana itu. Kamu hanya cukup mencintai orang-orang yang pantas kamu cintai dan meninggalkan orang-orang yang tidak pantas kamu cintai. Bukan membuang, tapi bukankah masih ada banyak cara menghormati mereka yang itu selain dengan cinta?

Sudahilah tangisan, tidak perlu kamu terlalu serius memikirkan bagaimana cara melupakan. Ah, bukankah perkara melupakan adalah bagian dari suatu karunia? Tuhan tentu akan mengirimkan karunia itu. Pada jam-jam yang Ia inginkan, malaikat akan datang menghapus semua luka yang tertoreh di hatimu. Menjelmalah Hujan Bulan Juni!

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s