Ah, Sayang!

Sayang, bangun! Maukah kamu memelukku barang sekejap saja? Malam ini begitu dingin, aku takut mati kedinginan. Kecuali jika aku mati dalam dekapanmu. Ah, Sayang! Kenapa kamu mengacuhkanku? Apa kamu tak percaya kalau aku benar-benar menggigil! Apa kamu pikir aku hanya merayu saja?

Sayang, kurasai akhir-akhir ini kamu berubah. Oh, aku paham, kamu mulai lelah dengan sikapku. Ah, tapi masa sih kamu mulai lelah? Bukankah kamu selalu bilang, aku adalah satu-satunya alasanmu untuk tetap tinggal.

Sayang, kamu masih ingat kan kenapa kita bertahan hidup bersama sampai hari ini? Ya, karena kita menjaga janji masing-masing dari kita untuk mempertahankan semuanya bersama-sama. Oh, janji itu terlalu sulit untuk dipenuhi ya?

Sayang, kamu benar-benar mulai acuh! Aku tidak bisa menerima sikapmu ini! Katamu, sampai aku keriput sekali pun, kamu tetap akan mencintaiku sebagaimana kamu mencintai masa ranumku. Oh, apa kamu mau ikut-ikutan lelaki di luar sana? Mereka pandai mengagumi, tapi tak pandai meresapi kekaguman!

Sayang, kalau kamu acuh begini, aku jadi semakin yakin, benar kata Mamaku dulu. Jangan pernah kamu mencintai secara rumit, cukup kamu mencintai dengan sederhana, hingga kelak pada saatnya melepas, kamu akan melepas pula dengan sederhana. Ah, Sayang! Bagaimana bisa aku mencintaimu dengan tidak rumit?

Sayang! Ah, Sayang! Cinta bagimu rupanya, hanyalah muara pelepas penat.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s