Meluka

Tuhan, maafkan lisan yang terlalu sering melukai.

Engkau benar, selalu ajari saya memaniskan lisan, misalnya lewat mulut wanita lembut saat menimang putranya, walaupun saya sering lalai. Karena sungguh hanya dari sekecap perkataan saja, luka bisa terlalu dalam tertanam di hati. Ini bukan perkara kalah atau bodoh. Hanya tentang siapa yang punya daya dan siapa yang lemah daya. Terkadang, menjadi orang kecil itu butuh kesabaran yang lebih, misalnya ketika semua usaha keras yang telah saya lakukan tiada berpenghargaan. Sakit. Hanya itu yang mampu terucap oleh lisan saya. Betapa tidak, bahkan untuk melakukan pembelaan pun rasanya tidak berguna lagi. Saya masih berpikir keras, mengapa orang-orang yang merasa lebih di atas seenaknya saja mengata-ngatai orang-orang yang di bawah. Seolah orang-orang yang di bawah sangatlah pantas dicerca, mereka dianggap orang bodoh yang terlalu lugu untuk menyadari kebodohannya, mereka dianggap tidak lebih dari kerbau dungu yang selalu melakukan apa-apa yang “salah!”, “salah!”, dan “salah!”.

Tuhan, ajari saya menjaga lisan.

Memang lisan saya tidak suci, pun memang saya orang kecil, bodoh, dan tidak sepintar dia. Tapi, Masyaallah, ada ya lisan yang terus mencerca seperti lisannya itu? Sakit. Sekali lagi, hanya itu yang bisa terucap lirih dari lisan saya. Saya malu, karena cercaannya itu (bisa jadi) teman-teman saya sekarang memiliki persepsi yang salah pada saya, juga pada apa yang telah saya kerjakan dengan susah payah. Oke, sebenarnya siapa yang lebih tahu tentang model-model itu? Siapa yang belum membaca buku profesor itu? Sebenar-benarnya itu semua sudah saya lakukan jauh-jauh hari sebelum ada cercaan keluar bertubi-tubi dan membentak-bentak darinya. Apa dia tahu, sekeras apa saya berusaha menyajikan sesuatu yang telah saya perjuangkan selama ini? Lantas, apa dia juga tahu bagaimana cara memberi ‘sedikit saja penghargaan’ pada karya orang lain? Mari kita buktikan, siapa sebenarnya yang harus ‘kalah’ dan siapa yang sebenarnya ‘mengaku kalah dalam sejatinya kemenangan’.

Tuhan, kunci lisan saya pada kata-kata keji.

Sungguh, saya ingin setiap perkataan yang keluar dari mulut saya adalah selembut rayuan ibu ketika anaknya merajuk. Bukan seperti perkataannya, membentak, menyayat, menghujat. Mana yang lebih vatal dan vital sebenarnya, kesalahan saya atau kesalahannya yang mematikan semangat saya? Adakah kejahatan yang lebih keji dari mematikan semangat orang lain? Kemudian membuatnya terpuruk dan patah arang?

Tuhan, maafkan saya, karena hati saya terlanjur membenci. Dan Engkau Maha Paham, bagaimana susahnya menghapus kebencian. Tentu saja saya tahu, setiap luka punya waktunya sendiri untuk sembuh, juga setiap kebencian punya waktunya sendiri untuk berganti memaafkan.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s