Meluka

Tuhan, maafkan lisan yang terlalu sering melukai.

Engkau benar, selalu ajari saya memaniskan lisan, misalnya lewat mulut wanita lembut saat menimang putranya, walaupun saya sering lalai. Karena sungguh hanya dari sekecap perkataan saja, luka bisa terlalu dalam tertanam di hati. Ini bukan perkara kalah atau bodoh. Hanya tentang siapa yang punya daya dan siapa yang lemah daya. Terkadang, menjadi orang kecil itu butuh kesabaran yang lebih, misalnya ketika semua usaha keras yang telah saya lakukan tiada berpenghargaan. Sakit. Hanya itu yang mampu terucap oleh lisan saya. Betapa tidak, bahkan untuk melakukan pembelaan pun rasanya tidak berguna lagi. Saya masih berpikir keras, mengapa orang-orang yang merasa lebih di atas seenaknya saja mengata-ngatai orang-orang yang di bawah. Seolah orang-orang yang di bawah sangatlah pantas dicerca, mereka dianggap orang bodoh yang terlalu lugu untuk menyadari kebodohannya, mereka dianggap tidak lebih dari kerbau dungu yang selalu melakukan apa-apa yang “salah!”, “salah!”, dan “salah!”.

Tuhan, ajari saya menjaga lisan.

Memang lisan saya tidak suci, pun memang saya orang kecil, bodoh, dan tidak sepintar dia. Tapi, Masyaallah, ada ya lisan yang terus mencerca seperti Baca lebih lanjut