‘Sudah Waktunya’

Malam semakin memucat. Entah karena saya sedang terlalu sentimentil atau memang ‘sudah waktunya’ malam semakin memekat. Ya, tepat! ‘Sudah Waktunya’. Seperti malam ini, ‘sudah waktunya’ saya merasa perlu untuk membuat catatan ini.

Lama saya merenungi, sebenarnya sudah sejauh apa saya melangkah selama ini? Hingga akhirnya tersentak pada sebuah persimpangan, atau katakan saja tiba pada sebuah ujung ‘sudah waktunya’. Nanti, atau kelak pada akhirnya pun saya harus melewatinya. Lantas, sepuluh atau dua puluh tahun lagi saya akan kembali menuliskan ‘sudah waktunya’ dalam beberapa catatan saya.

Beberapa momentum yang pernah tercipta, yang pernah kurasakan, tiba-tiba saja datang, berkelebat. Bagaikan konvoi-konvoi pawai yang tak ada ujung dan tak ada pangkal, mereka terus mengalir memenuhi alam imaji saya. Ini bukan kali pertama. Beberapa kali pernah saya rasakan hal yang sama, datang secara tiba-tiba. Rupanya, ini adalah sebuah tanda yang Tuhan kirimkan pada saya untuk mengingat bahwa, sudah terlalu lama saya berjalan, dan banyak hal yang sudah saya lalui, lantas mau ke mana lagi saya akan pergi?

Dulu, ketika masih kecil, saya sering menangis hanya karena takut gelap, atau hanya karena melihat seekor katak meloncat mendekati kakiku. Sekarang, saat saya mulai dikatakan tumbuh menjadi wanita dewasa, saya menangis karena hal-hal yang (sebenarnya) mustahil, seperti karena saya takut kesendirian, karena saya takut kehilangan keluarga dan teman-teman saya, atau karena saya khawatir akan masa depan saya. Padahal, tentu saja kesendirian tidak pernah benar-benar saya rasakan, Tuhan selalu ada untuk saya, bahkan lebih dekat dari urat nadi saya sendiri. Juga, keluarga dan teman-teman saya tak akan pernah benar-benar meninggalkan saya. Toh, jika kita harus mendapati sebuah perpisahan, mereka tetap selalu mendoakan dan mendukung saya, baik dari dekat maupun dari jauh. Juga, kekhawatiran tak pernah benar-benar menjadi momok untuk masa depan saya, bukankah Tuhan selalu membuatkan skenario kebahagiaan bagi hamba-Nya? Diawali dengan pengenalan misalnya, lalu komplikasi, klimaks, hingga akhirnya penyelesaian. Bukankah itu sangat mengasyikkan ketika si aktor adalah diri kita sendiri? Terlepas dari bagaimana kita berperan selama ini, natural atau rekayasa. Terlepas bagaimana akhir ceritanya, sad ending atau happy ending. Pada akhirnya kita tetap harus bangga telah menjadi diri kita sendiri, memilih jalan kita sendiri dan mengakhiri cerita kita sendiri.

Esok langit akan cerah membias biru, menghapus kepekatan malam. Saat itu, akan jadi benar-benar ‘sudah waktunya’ bagi saya untuk menekuni hari-hari perjuangan saya. Karena, terlalu banyak hal yang harus diperjuangkan dalam hidup ini. Terlalu banyak pilihan yang semestinya kita pilah. Dan, saat itu nanti, akan jadi benar-benar ‘sudah waktunya’ bagi saya untuk melupakan apa yang seharusnya saya lupakan, memaafkan apa yang seharusnya saya maafkan, memberikan apa yang seharusnya saya berikan, dan menyimpan apa yang seharusnya saya simpan baik-baik untuk kelak saya buka jika memang ‘sudah waktunya’.

Malam akan jadi benar-benar pekat. Namun, jiwa kita tidak akan pernah benar-benar pucat. Karena sekarang ‘belum waktunya’ untuk semua itu. Yang kita pegang adalah: sekarang ‘sudah waktunya’ kita menyalakan gelora perjuangan untuk membinasakan pekat dalam hati kita. Hingga kita mengerti bahwa, memang kita akan selalu sampai pada apa yang dinamai ‘sudah waktunya’, ialah ketika kita telah menggenggam apa-apa yang kita perjuangkan dan pada khir yang paling akhir kita raib menuju langit dengan penuh kebanggaan.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s