Kepada Sahabat,

Malam akan jadi semakin pucat seiring percakapan kita nanti akan berlalu. Aku baru menerka-nerka letak waktu yang tepat untuk mengajakmu berbicara. Ini bukan tentang keluhku, tapi tentangmu. Ya.

Sebenarnya aku tak pernah mau berbicara begini di depanmu. Tentu saja kau akan mengira aku terlalu ‘sok’, atau aku memang benar-benar gelap mata kau katai aku bisa lebih dewasa. Entahlah. Untuk kali ini, kurelakan segala penilaianmu tentangku, baik-buruk tidak peduli. Yang terpenting, aku bisa merangkulmu dalam setiap susahmu, walaupun aku tahu kau tak pernah mau menangis di depanku. Itulah mengapa, diam-diam kutuliskan lembaran-lembaran ini untuk kau bacai.

Perkara tangisanmu semalam, ah! Aku tahu, kau teramat patah hati. Tentu saja semua itu akan menjadi berat untuk kau rasai. Tapi, tahukah kau? Setiap orang punya letak patah hati mereka masing-masing. Dan, kau juga perlu tahu, tidak semua yang terluka akan mengatakan pada orang lain jika sebenarnya ia sedang terluka.

Nah, tentang tangisanmu lagi. Sebenarnya pahit jika aku harus berkata, “tidakkah kau merasa sayang jika air matamu mengalir hanya untuk menangisi seorang lelaki?” Beberapa orang akan berpikir sepertiku, buat apa kau menangisi lelaki yang melukaimu. Sebenarnya, kau cukup mendoakan dia, mendoakannya agar bisa lebih bahagia daripadamu. Dengan begitu, tentu saja ia tak akan datang lagi untuk mengusikmu. Simple. Dan, tentang lukamu, perlahan tapi pasti ia akan sembuh dengan sendirinya. Karena, setiap luka punya waktunya sendiri untuk sembuh.

Selanjutnya, tentang pengembaraanmu. Tidak pernah ada kesalahan bagi umat yang saling menaruh rasa suka, terlebih cinta. Hanya saja, menurutku kau butuh untuk sesekali menanyakan pada hati kecilmu, apakah lelaki-lelaki yang baru saja muncul, beberapa bahkan datang dengan tiba-tiba, memang tepat untuk menjadi pelabuhan rasa kasihmu? Lantas, kau akan tahu dengan perlahan, sejatinya pengembaraan akan cinta kasih itu seperti apa.

Jauh dari semua yang kukatakan, setiap hidup adalah pilihan. Maka, cobalah untuk menghargai setiap pijakan yang kau buat. Hingga kau cukup tahu kemana lagi seharusnya kau melangkah. Semoga tidak akan pernah ada penyesalan dalam hidupmu. Karena, bahagiamu tentu tak harus terlihat sama dengan bahagia orang lain.

Sahabatku, tentu kita tak pernah tahu, siapa yang lebih baik di antara kita satu sama lain. Aku hanya sedang belajar untuk mengoreksi kesalahanku, juga mengajakmu belajar dari apa-apa yang pernah kukatakan padamu. Terima kasih.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s