Surat 3

Sani, ini mungkin akan jadi surat terakhir yang aku kirimkan.

Aku mulai lelah menungguimu tanpa kepastian. Memang benar katamu, “Tuhan Maha Membolak-balikkan Perasaan”. Jika pun ini surat yang terakhir, aku harap angin masih mau setiap hari kutitipi baris-baris puisi kerinduanku padamu. Ya, sampai maut menggiringku ke peraduannya, aku akan selalu merinduimu. Betapa tidak, kamu masih satu-satunya lelaki tempatku mengeluhkan segala penat. Kamu tahu kan, aku selalu butuh bahu untuk bersandar. Dan akhir-akhir ini, aku mulai bisa menerima masukan darimu bahwa, “jika tidak ada bahu untuk bersandar, ingatlah masih ada lantai untuk bersujud”.

Selanjutnya, aku akan belajar berhenti mendambamu kembali ke sini, berjalan beriring di sampingku. Bukannya apa-apa, aku hanya mulai sadar jika aku sudah tidak bisa lagi menjamah ragamu. Kita benar-benar tak berdaya melawan jarak dan waktu. Tentu saja aku paham, sebenarnya kamu pun tak ingin meninggalkanku secepat ini. Pun aku, sebenarnya juga tak ingin menerima kenyataan pahit bahwa kamu menjadi benar-benar meninggalkanku.

Sani,

Tidak ada hal lain yang lebih aku rindukan selain kelembutan kata-katamu yang selalu menentramkan kalutku. Juga, elusan tanganmu pada helai-helai rambutku. Sesederhana itu, tapi mampu menimbulkan daya kejut yang luar biasa hingga hiduplah kembali saraf-sarafku yang mati terhantam keputusasaan. Setelah surat ini kukirimkan, aku benar-benar harus bisa membangkitkan semangatku sendiri, tidak lagi dari kata-katamu atau elusan tanganmu. Memang benar katamu, “jangan pernah gantungkan semangat hidupmu pada orang lain, karena antara kamu dan orang lain itu, tidak akan pernah tahu sampai sejauh apa kalian benar-benar akan bersama”.

Selamat malam, Sani.

Mungkin ini akan jadi ucapan selamat malam terakhir dariku, tentu saja dalam surat-suratku untukmu. Karena, ini akan benar-benar jadi surat terakhir yang kukirimkan. Tapi, bukan ucapan terakhir untuk pengiring baris-baris puisi kerinduanku padamu. Sekeras apa aku belajar memungkiri bahwa aku tidak seharusnya merinduimu, sekeras itu pulalah kebalikan yang harus aku terima. Kita berada dalam jarak yang jauh satu sama lain, tapi rasa kita satu, menyatu dalam setiap tarikan dan desah nafas kita masing-masing.

Aku sudah belajar menuruti maumu, bukankah ini yang kamu inginkan? Katamu, aku sudah semestinya mencoba membuka diri untuk lelaki lain. Tidak melulu mengharapkanmu kembali. Aku tahu, itu bukan karena kamu tak lagi mencintaiku, tapi semata-mata kamu ingin menyaksikan kebahagiannku dari tempatmu kini berada. Lalu, aku memaksakan sebuah senyum terkembang dari bibirku mendapati jalan pemikiranmu yang seperti ini.

Bukankah ini akan jadi hal yang sangat menyakitkanku? Mengucapkan bahwa “ini surat terakhir yang aku kirimkan untukmu”. Ah, Tuhan dan kamu selalu bersekongkol, memberiku sedikit rasa sakit dahulu, yang kemudian akan berbuah manis di akhir cerita. Aku menjadi semakin mencintai Tuhan dan kamu karenanya.

Sani,

Setelah malam ini, aku akan menyibukkan diri dengan targetan-targetan baru. Tentu saja itu semata agar aku bisa sejenak melupakan kerinduanku padamu, Juga, untuk mengisi siang-malamku agar tak merenungi hadirmu. Dan, satu lagi. Aku belum bisa meluluskan permintaanmu untuk mulai belajar membagi cinta dengan lelaki lain selain kamu. Sungguh, itu akan menjadi suatu pekerjaan berat. Maka, aku akan belajar dari hal-hal kecil, sedikit demi sedikit. Karena, aku mulai lupa bagaimana caranya berbagi cinta, kecuali denganmu.

O ya, kamu baik-baik ya di sana. Cepat atau lambat aku pasti akan menyusulmu, duduk berdua di atas sana, menyaksikan orang-orang yang kita kasihi hidup bahagia. Satu lagi, katamu aku harus selalu berpikir positif pada rencana Tuhan kan? Aku sedang mengharapkan Tuhan mengabulkan doa-doaku, utamanya permohonan indah 18 Juni 2014, ah kamu tahu apa kan?🙂 Sampai jumpa lagi, aku tahu kamu akan selalu datang saat aku kalut. Meski begitu, untuk hari-hari depan, aku akan meminimalisasi kekalutan. Biar kamu semakin percaya bahwa aku tidak akan pernah mengecewakanmu. Aku selalu mencintaimu karena kamu mencintai Tuhan dan aku.

Salam.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

4 responses to “Surat 3

  1. Us, aku berterima kasih pada Tuhan yang telah menyelamatkan jantungku dari degup yang menjadi erupsi melalui kesadaran bahwa namaku dengan nama yang kamu sebut-sebut itu bedanya di awalan huruf “T”.

    Oalah “T”… “T”…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s