Surat 2

Selamat malam, Sani!

Aku harap kamu tidak bosan membacai setiap surat yang kutujukan padamu. Mungkin ini akan jadi semacam hal yang membuang-buang waktumu, tapi sungguh! Kamu tidak boleh sekali pun melewatkan surat-surat yang nantinya aku kirimkan. Bukan karena aku tak lagi punya kawan, hanya saja kamu teramat special dibanding yang lain, sungguh!

Tentang malam ulang tahunku, terima kasih atas kado yang kamu berikan. Aku sangat menyukainya. Bagaimana tidak? Kamu bingkiskan alunan-alunan lirih dendang kerinduanmu padaku. Pun dengan bingkisan sederhana, datang bersama semilir dingin sepi di sebuah tempat yang (sengaja) aku ingin lewatkan malam ulang tahunku di sana. Sepi. Aku teramat bahagia, walaupun dalam sepi. Bukankah sepi adalah kamu?

Sani,

Aku masih mengingat betul, bagaimana malam-malam sebelum perpisahan kita. Kamu selalu mendengarkan padaku sebuah lagu sederhana yang sangat kamu sukai. Aku mengenal dikau, tak cukup lama, separuh usiaku. Namun, begitu banyak pelajaran yang aku terima… . Suaramu tak begitu merdu, tapi ketulusan hatimu, tak seorang penyanyi jazz sekali pun mampu menirukan kemerduanmu.

Coba nyanyikan sekali lagi, sebaris lirik itu, Segala kebaikan, tak akan terhapus oleh kepahitan… .

Kamulah kebaikan yang tak akan pernah terhapus.

Sani,

Sampai kapan aku harus termenung dalam setiap siang dan malamku, sekedar menantimu beranjak dari pelabuhan tidurmu, menjemputku untuk melanjutkan kisah-kisah kita yang tertunda?

Jika Tuhan benar Maha Penyayang seperti yang kau katakan padaku, lalu mengapa Dia tak jua menunjukkan jalanmu pulang? Atau, setidaknya menunjukkan jalanku menuju pelukanmu.

Sebenarnya aku takut jika kamu menyengaja jauh dariku. Apa kamu pikir akan ada lelaki lain yang lebih bisa mengerti aku daripada kamu? Apa kamu pikir setiap lelaki yang ingin mendekatiku lebih baik darimu? Ah! Mana mungkin!

Atau, jangan-jangan kamu memang sudah lebih dulu tahu bahwa, Tuhan Yang Maha Baik telah memutuskan bahwa di antara kita sebaiknya terbentang jarak yang luas, melebihi samudera dan bukit-bukit. Sehingga kelak ketika Dia persempit jarak itu, akan terjadilah pertemuan Maha Dahsyat di antara kita. Oh, jika demikian, masihkah harus kupercaya kata-katamu, “Tidak ada yang lebih menginginkan kita bahagia selain Dia Yang Maha Baik”?

Sani,

Beri aku sedikit jeda, biar kucoba menghirup sekali saja nafasku tanpa mengingatmu. Berat dan mustahil. Aku katakan, kamu tak akan bisa lenyap. Maka, jangan sekali-kali menyuruhku menganggap akan ada lelaki yang jauh lebih bisa membahagiakanku daripada kamu. Jawabannya sama, tidak ada.

Kamu pasti masih ingat, aku pernah bilang, “Hidup tak melulu perkara laki-laki. Toh pada akhirnya aku akan mencari nyamanku sendiri. Menghabiskan sisa-sisa penantian akan hadirmu dalam hidup yang lebih bermakna”. Meski aku tahu, dunia akan jadi semakin keras menghimpitku, selama angin masih mau membawa baris-baris puisi kerinduanku, semua tak akan jadi masalah.

Salam, dari yang mencintaimu,

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s