‘Sudah Waktunya’

Malam semakin memucat. Entah karena saya sedang terlalu sentimentil atau memang ‘sudah waktunya’ malam semakin memekat. Ya, tepat! ‘Sudah Waktunya’. Seperti malam ini, ‘sudah waktunya’ saya merasa perlu untuk membuat catatan ini.

Lama saya merenungi, sebenarnya sudah sejauh apa saya melangkah selama ini? Hingga akhirnya tersentak pada sebuah persimpangan, atau katakan saja tiba pada sebuah ujung ‘sudah waktunya’. Nanti, atau kelak pada akhirnya pun saya harus melewatinya. Lantas, sepuluh atau dua puluh tahun lagi saya akan kembali menuliskan ‘sudah waktunya’ dalam beberapa catatan saya. Baca lebih lanjut

Surat 3

Sani, ini mungkin akan jadi surat terakhir yang aku kirimkan.

Aku mulai lelah menungguimu tanpa kepastian. Memang benar katamu, “Tuhan Maha Membolak-balikkan Perasaan”. Jika pun ini surat yang terakhir, aku harap angin masih mau setiap hari kutitipi baris-baris puisi kerinduanku padamu. Ya, sampai maut menggiringku ke peraduannya, aku akan selalu merinduimu. Betapa tidak, kamu masih satu-satunya lelaki tempatku mengeluhkan segala penat. Kamu tahu kan, aku selalu butuh bahu untuk bersandar. Dan akhir-akhir ini, aku mulai bisa menerima masukan darimu bahwa, “jika tidak ada bahu untuk bersandar, ingatlah masih ada lantai untuk bersujud”.

Selanjutnya, aku akan belajar berhenti mendambamu kembali ke sini, berjalan beriring di sampingku. Bukannya apa-apa, aku hanya mulai sadar jika aku sudah tidak bisa lagi menjamah ragamu. Kita benar-benar tak berdaya melawan jarak dan waktu. Tentu saja aku paham, sebenarnya kamu pun tak ingin meninggalkanku secepat ini. Pun aku, sebenarnya juga tak ingin menerima kenyataan pahit bahwa kamu menjadi benar-benar meninggalkanku.

Baca lebih lanjut

Surat 2

Selamat malam, Sani!

Aku harap kamu tidak bosan membacai setiap surat yang kutujukan padamu. Mungkin ini akan jadi semacam hal yang membuang-buang waktumu, tapi sungguh! Kamu tidak boleh sekali pun melewatkan surat-surat yang nantinya aku kirimkan. Bukan karena aku tak lagi punya kawan, hanya saja kamu teramat special dibanding yang lain, sungguh!

Baca lebih lanjut

Surat 1

Sani,

Apa kabar? Maafkan, aku lupa beberapa bulan ini tak menyuratimu.
Benar, selalu ada youtube untuk mengulang kisah-kisah yang terlewatkan. Hanya, tak ada satu pun kisah di sana yang bisa kujamah untuk mengetahui kisahmu yang kulewatkan. Kamu tentu paham, bagaimana kerinduan ini semakin membatu. Sayangnya, aku bukan seorang yang pandai mengumbar kerinduan. Maka, kepada angin aku titipkan baris-baris puisi kerinduan ini padamu. Entah, ia akan membawanya padamu, atau tersesat pada lelaki lain.

Baca lebih lanjut