Tentang Cinta (yang Tertunda)

tangan-pasir-loveBaiklah, saya membuat postingan ini, spesial untuk seorang teman yang meminta begini, “ayo nulis lagii sik sendu2 tapi merduuu”. Yap! Ini dia manusianya, Tata. Baiklah, semoga dia suka dengan judul yang saya sematkan🙂

Tentang cinta yang tertunda. Entah, akan jadi sendu, merdu, atau justru wagu. Bismillah, saya mulai ya!

Sengaja memilih tema “cinta”. Yap, lagi-lagi tentang cinta. Oh, bukan karena saya cah cinta yo, tapi, setahu saya selera Tata tentang sendu dan merdu ya nggak jauh-jauh dari itu.

Tentang cinta, semua orang punya persepsi sendiri-sendiri, saya juga, Tata semestinya juga. Cinta, sekali meminta definisi tentang satu kata itu, akan didapatkan banyak jawaban. Ya, begitulah cinta, memiliki pesonanya sendiri. Saya sendiri, cenderung lelah mencari tafsiran yang saya rasa paling cucok, hingga akhirnya saya tak pernah mencarinya lagi, sekedar berkata begini, “Cinta adalah rasa, rasa yang terlalu agung untuk dijadikan objek permainan”. Udah, gitu doang.

Tentang cinta, semua orang pasti pernah merasakan, sekali pun dia sadar atau tidak dan dia memahami atau tidak. Begitulah cinta, punya caranya sendiri untuk hadir, menyusup di sela-sela tarikan nafas atau di sela-sela lirikan mata. Terlalu lembut, seperti debu yang perlahan memenuhi paru-paru. Saya pernah menulis begini: “love will always come, out of nowhere”. Bisa jadi begitu, bukan?

Sebagaimana saya, sebagaimana Tata. Kita punya sedikit persamaan, tentang kisah percintaan yang cenderung picisan. Ah, semestinya bagian ini tidak saya sebutkan. Maaf jika kata “picisan” cukup menyinggung. Cenderung mainstream, memaknai cinta dari sudut pandang kekanak-kanakan. Ah, tentu saja bagian ini tidak akan saya tuliskan. Toh itu semua adalah perkara masa lalu.

Begini saja, supaya postingan ini tidak berasa curhat, saya akan memakai beberapa peristiwa yang saya ambil dari kisah milik orang lain. Deal.

Saya sering menghabiskan waktu sore hari di rumah, terkadang banyak anak datang, entah temanku, teman adikku yang SMP, atau teman adikku lagi yang SD. Sore itu, yang datang adalah teman ibuku. Di sela-sela percakapan, saya mendengar demikian (tentu sudah saya alihbahasakan ke bahasa Indonesia), “Itu, Si C masih SMP kelas dua aja sudah pacaran! Sudah dari SD kelas lima apa enam lho pacarannya, dengan si M itu!” Nah, saya kenal si C dan si M ini. Saya tahu, hukum yang diamini masyarakat adalah pacaran menjadi aktivitas manusia yang dirasa sudah cukup usia, bukan mereka yang masih belia. Oh, jika begitu, hukum terlalu kejam! Seelanjutnya, saya cuma membatin begini, “Hm, saya semestinya belajar dari mereka. Masih SMP aja sudah paham bagaimana cara menyetia. Tiga tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Saya kalah.” Begini, mereka masih kecil, tentu beda memaknai cinta dengan kita yang mengaku sudah dewasa. Bagi mereka, bisa jadi pacaran hanyalah sebatas label, di mana si C bisa lebih menjaga si M dengan modal saling percaya, berteman baik dan biarkan hubungan mengalir begitu saja. Sederhana. Yang rumit kan pacarannya orang dewasa, penuh perhitungan dan ketakutan. Bahkan untuk sekedar membiarkannya mengalir begitu saja.

Mohon maaf jika perbincangan bertemakan cinta lekat dengan hal pacaran, seperti yang saya tulis kali ini.

Saya hidup di lingkungan pedesaan, dekat dengan masyarakat desa. Tahu lah ya, bagaimana kehidupan di desa itu. Tentang bagaimana orang desa merayakan cinta, saya akan menjelaskan demikian. Cinta, bagi mereka adalah hal yang sederhana. Sesederhana pagi yang mereka isi dengan pergi ke kebun salak, bekerja, dan sore yang mereka habiskan untuk bersantai di depan televisi. Tentang romantisme, ah apa yang bisa mereka upayakan? Terkadang untuk mengingat tanggal lahir istrinya saja lupa, apalagi memberi kecupan di sela-sela ucapan selamat ulang tahun. Bagi mereka, cinta adalah hal yang tidak perlu dijadikan rumit, tinggal bagaimana sebisa mungkin mempertahankan hidup bersama dengan orang yang telah mereka pilih, membinanya hingga kelak tutup usia.

Selanjutnya, saya akan sebutkan secara cepat, beberapa fenomena lain. Cinta seorang Ayah pada anaknya, terbayang seberapa besar pengorbanan Ayah, bulir-bulir keringatnya bercucuran, demi apa? Lalu, cinta seorang guru pada muridnya yang bodoh, terbayang bagaimana guru itu legowo membanggakan dirinya yang mendidik seorang murid bodoh, sementara guru lain cenderung mencintai murid-murid brilian. Lalu, cinta seorang anak sulung pada adik-adiknya, terbayang di setiap doanya dia ingin bisa membahagiakan adik-adik, menggantikan orang tua menjadi tulang punggung keluarga. Cinta seorang sahabat pada sahabatnya yang lain, terbayang sekali pun dia pernah disakiti dan dibohongi, dia tetap setia menjaga aib sahabatnya, membiarkan hal-hal menyakitkan berlalu begitu saja. Dst. Begitu banyak bentuk dan ruang untuk menyalurkan energi cinta.

Sementara di kalangan teman sebaya, ah, terlalu kompleks jika saya tuliskan bagaimana kisah mereka memilih jalannya sendiri-sendiri dalam proses pencarian cinta, cinta sejati. Saya akan selalu kalah, atau memilih mengalah jika mendebatkan perkara cinta. Saya merasa belum makan garam dalam persoalan itu.

Tentang cinta (yang tertunda), nah! Ini baru….
Cinta, sekuat apa pun kita menggenggam, dia bisa menemukan jalannya untuk pergi. Jangan pernah berpikir bahwa, cinta akan selalu mengikuti kemana kita membawanya, karena dia memiliki kekuatannya sendiri untuk menolak dan lenyap. Sebagaimana kita pahami, dibutuhkan ketulusan yang tidak dangkal untuk mendapatkan pesonanya yang hakiki. Banyak orang lupa, cinta tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja. Mereka yang mencintai dengan biasa-biasa saja, mengumbar cinta ke siapa saja, jika sudah bosan, ganti, bilang cinta lagi ke orang yang beda, bosan, ganti lagi, dst. Sebuah tindakan kriminal. Tentu saja cinta tidak bisa  diukur dengan berapa banyak koleksi mantan kekasih.

Tentang cinta (yang tertunda), haha, jangan menganggap saya sedang mencari pembelaan dengan mengatakan demikian lantaran saya masih setia menyendiri. Bukankah mencintai adalah perkara pilihan? Lalu, saya juga Tata, memilih untuk menunda. Tentu saja yang saya maksudkan di sini adalah cinta ala kawula muda lainnya, cinta pada kekasih. Karena toh saya juga Tata memiliki cinta yang lain, cinta pada keluarga, cinta pada saudara, cinta pada sahabat, dan cinta pada apa-apa yang kita cintai, seperti Tata teramat mencintai senja dan saya mencintai David De Gea misalnya. Haha.

Seberapa lama penundaan itu, tentu kita tak pernah sak klek mematok waktu. Bagaimana bisa kita mendahului atau menolak rencana Tuhan? Bukankah perkara mendapatkan kekasih tidak pernah lepas dari campur tangan-Nya? Sudahlah, baik saya juga Tata, semakin hari semakin kebal dengan olok-olok jomblo misalnya. Kita merasa jauh lebih nyaman menjelma perempuan sunyi daripada kita menghabiskan waktu dengan kekasih yang belum tentu tepat. Juga, kita tidak pernah mengirikan orang lain yang saat ini menikmati jalinan cinta dengan kekasih mereka. Dalam hati, kita selalu merasa ikut bahagia ketika melihat orang lain (terutama orang yang kita kenal) bahagia. Tentu saja, perkara bahagia tidak bisa digarisluruskan dengan harus memiliki kekasih atau pacar. Bahagia, terlalu sederhana saat hati kita penuh dengan rasa syukur.

-Sekian-

Tata, satu hal yang kamu perlu tahu, sendu dan merdu itu adalah…. perkara yang tidak mudah digambarkan dengan kata-kata. Dia terlalu rumit untuk sekedar dikatakan sebagai gambaran kepiluan. Juga terlalu sulit untuk dikatakan sebagai sebuah kisah yang sedap didengar.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s