LCD, A Brave Class

425621_4014918051917_1686723122_nSepagi ini, mungkin ada yang sudah capek karena kesal Arsenal tidak mengantongi gol. Oh, jadi teringat, seorang cerpenis yang Gooners sejati. Saya sedang menunggu (tentu saja secara diam-diam) komentarnya setelah pagi ini. Tapi, saya tidak peduli seberapa sering ia membela club kebanggaannya itu. Saya benar-benar tidak peduli, yang saya lebih peduli adalah cerpennya bagus-bagus.

Demi apa saya menulis sepagi ini. Semestinya saya jalan-jalan menghirup udara segar kampung di kaki Merapi. Atau, menengok dapur, menikmati tarian Ibu di antara peralatan perangnya. Atau, menyalakan TV, menonton berita, em atau setidaknya saya menyimak pengajian pagi-pagi. Haha. Ya, demi apa saya menulis sepagi ini.

Baiklah, biasanya saya menulis dulu baru memberi judul. Tapi, postingan ini tadi, saya taruh judul dulu, baru mulai menulis. Em, It’s ok! Saya tinggal melanjutkan tulisan saya ini sesuai judulnyašŸ™‚

LCD, A Brave Class. Sebenarnya diksi ini saya dapat dari seorang teman, melalui koleksi videonya ketika ada semacam kontes, oh, bukan, musikalisasi puisi tepatnya. LCD, saya sendiri tidak tahu apakah ada kepanjangan dari singkatan itu. Ini semacam nama komunitas kelas, ya, sama ketika dulu di SMA masing-masing kita punya nama untuk komunitas kelas kita. Begitulah LCD, L untuk kelas besarnya, C dan D untuk kelas kecil (kelas praktik). Ini bukan di SMA, tapi di kuliahan saya sekarang.

Baiklah, saya mulai bingung bagaimana seharusnya melanjutkan tulisan ini. Biasanya, tulisan semacam ini akan dimulai dari sejarah singkat pertemuan orang-orang di dalamnya. Tentang perasaan mereka, tentang persahabatan, persaingan, kebersamaan, tentang kenangan, oh, tentu itu akan terasa sangat melankolis. Baiklah, saya akan skip bagian sejarah, karena toh semua pertemuan mahasiswa baru begitu-begitu saja. OSPEK, sekelas, kuliah bareng, ngobrol, dolan,Ā dst.

Saya baru saja putuskan, ini akan menjadi tulisan yang sangat subjektif, karena saya akan memulai untuk melakukan “pendeskripsian” terhadap orang-orang yang terlibat di dalamnya, punggawa LCD. LCD awalnya ada 36 anak (saya kepo dari data pengajuan proposal kelas). Namun, berjalannya waktu, beberapa anak–satu per satu menemukan celah di lain jalan lain, pindah kuliah. Supaya tidak ada yang terlewati, saya akan mengurutkannya sesuai NIM.

Rita Mayasari, banyak yang bilang dia paling akrab dengan saya, mungkin begitu. Akrab, sebenarnya terlihat demikian karena saya sering merepotkan Rita dengan urusan-urusan sepele, atau karena antara kita pernah bertukar cerita rahasia. Haha. Dia pribadi yang tertutup, sejauh saya tahu, banyak hal yang dia sembunyikan. Parahnya, dia tipe pemikir keras, ah, begitulah dia, terlihat tegar dari luar, tapi di dalam siapa tahu. Rita ini, satu dari beberapa yang rajin, untuk urusan kuliah dia selalu nomorsatukan. Ya, hidup adalah perkara pilihan, dia memilih untuk fokus! (Serius amat :p)

Munif Zaedun, sosok yang nyantri, satu-satunya di kelas. Saya tidak paham, mengapa dia jadi semacam public enemy, dialah muara segala pem-bully-an di kelas. Mungkin, kejahatan semacam ini yang kelak akan kita kenangkan, lalu kita tertawa. Munif, selain taat beragama, dia juga lelaki setia. Haha, tidak ada yang tidak tahu kisah cintanya dengan wanita kelas sebelah. Oh, cuma saya kurang suka, dia sering lupa bahwa terkadang dia sombong (ini kesan saya pada pertemuan terakhir dengannya).

Siti Nurfaizah, perawakannya imut, saya sering panggil dia “Dek,” walaupun semestinya saya lebih menghormati dia karena perbedaan usia, haha. Iza ini melompat-lompat seperti bola bekel, tapi sering juga anteng seperti secarik kertas yang tak tersentuh. Semoga dapat dipahami.

Welly Desi Prihantari, oh, sebelumnya saya harus menengadahkan kedua tangan memohon pada Tuhan untuk tidak sampai membahas kisah percintaannya. Haha. Dia selalu menyediakan istananya sebagai tempat pelarian saya, juga teman-teman lain di antara suntuknya iklim di kelas. Welly lebih ke tipe ceplas-ceplos, berani bertindak, apa ya namanya, attractive. Dia tidak suka memasang tameng, suka bilang suka, ndak suka bilang ndak suka.

Tinar Aditiya F., saya sampai lupa apa kepanjangan “F” di namanya itu. Awal semester III dia cabut, sepertinya pindah ke STPDN (rumor yang saya dapat dari prediksi teman-teman setelah melihat semacam logo di topi seragamnya). Adit orangnya keras, beberapa kali membawa cerita ke kelas mengaku habis berantem. Banyak yang saya tidak tahu dari dia, sejauh saya pernah mengantarnya ke rumah Bu Pintam, mendengar mereka bertukar cerita, dia bisa juga jadi anak penurut dan lembut. Terakhir kali menghubungi saya, dia tugas di Papua, lalu pindah ke Bandung, dan entah ke mana lagi, dia minta film kelas C “Bijak Tanpa Bajak”. Itu film bagus, bagus di sisi kebersamaan dalam proses produksinya, haha.

Esti Utami,sekarang dia sudah menjadi Umi yang lembut, arif, bijaksana, wkwk. Kejam, karena dia tidak pernah menceritakan perihal pernikahannya. Saya merasa sangat bersalah ketika proses penggarapan Drama kelas, saya sering memarahi dan menyuruh-nyuruh dia menyiapkan ini-itu sebagai tanggung jawabnya jadi PJ divisi konsumsi. Saya benar-benar tidak tahu, jika waktu itu dia tengah mengandung. Maaf. (Maafkan Budhe ya Iyas, Umi’mu tak jak rekoso).

Tri Yulianto, susah dibaca, terkadang dia sangat setia kawan, terkadang dia ambisius, terkadang dia keras dan marah. Tapi, yang tidak terkadang, dia sangat setia pada pacarnya. TY ini, kuliah sembari kerja, kadang dia lesu di kelas, tapi selesu apa, se-belum ngerjain tugas apa, dia tidak akan menolak janji untuk futsal, basket dan olah raga lain.

Sela Carina Tamara, terakhir ketemu dia bilang sudah turun 5kg dengan OCD nya. Ah, saya tidak mau membahas, saya cukup terpukul. Sela sering cuek, tapi dia baik. Saya kehilangan beberapa masa bersamanya.

Suharini, oh, dia sangat setia kawan (beberapa teman sangat rapat/akrab dengannya), dia juga setia menjomblo. Oalah, Mblo! Yang saya suka dari Harni, dia selalu menganggap semua beban yang tengah dia tanggung adalah perkara kecil, dia tidak pernah terlihat gugup, kecuali satu hal, ketika teman-teman mem-bully dia sama seorang kakak tingkat gelar ganda, haha. Saya sering mencuri kesempatan untuk curhat ke dia, saya suka mendengar tanggapannya yang enteng. Dia polos, beberapa pengetahuan yang ehem agak “saru” dia selalu terakhir mudengnya.

Ayuning Tyas W., saya sudah mengenalnya sedari SMP, cuma kita tidak akrab, beda kelas. Sejak SMP dia memang sangatĀ  lembut, tidak neko-neko tapi super cantik. Ah, beruntunglah mas pacarnya itu. Ayu mudah berteman, mudah berbagi cerita, dia sebenarnya keibuan (ada semacam bakat pintar mengayomi).

Rahayu Saktiningsih, dulu dia punya penyakit ekstrem, sangat mudah tertarik dengan lelaki tampan (di matanya) dan seringnya mudah patah hati, wkwk. Tapi, sekarang dia sudah menemukan penawarnya. Rahayu tipe cewek gigih, bernyali besar, walau kadang susah kontrol emosi saat marah. Selebihnya, dia baik dan menjunjung tinggi mimpi-mimpinya.

Dyah Wuri H., wanita yang lembut, gemulai, tapi suka susah disiplin waktu. Yang paling parah, dia punya kebiasaan melamun di saat berkendara. Duh, saya sudah berkali-kali mendengar cerita dia melakukan pelanggaran di jalan raya. Wuri ini pandai sekali menghafal, yang saya tahu begitu.

Heri Isnawan., oh, dia (dulu) satu-satunya teman sesama latar belakang denganku, dari STM. Ah, tapi dia membohongi saya. Ngakunya dia tidak daftar STAN lagi, tiba-tiba dia keluar untuk D1 Perpajakan. Heri kadang sok-sokan cengoh, padahal dia visioner.

Sakinta Diska S., cantik, antengĀ (di mata saya), setia kawan. Sakinta ini susah dibaca. Oh ya, dia pekerja keras juga. Ah, dia pandai menjaga hati Ibunya, kadang dia terlihat lebih bijak dari Sang Ibu. Kadang ceplas-ceplos juga. Ah, terlalu banyak kadang-nya, saya tidak begitu rapat dengannya.

Siwi Sukmawati, meletup-letup saat memperjuangkan apa yang dia inginkan. Dia suka baca, suka diskusi nulis juga, dia baik, berani mengambil sikap tegas pada apa-apa yang tidak dia suka. Siwi, cewek yang 1 hari lebih tua dari saya, tapi jarang mau dianggap lebih tua -_- Siwi asik buat cerita, bertukar informasi, dia paham bagaimana seharusnya menjadi teman yang baik, juga bagaimana seharusnya dia menyelinap menghindari orang-orang yang hanya membawa efek negatif buat hidupnya.

Jalu Anugrah, lebih belia ketimbang saya, tapi saya melihatnya lebih tua dari saya. Orangnya mandiri, punya dedikasi tinggi pada amanah yang tengah ditanggungnya. Sang wirausahawan, punya bisnis ternak ayam. Jalu, em, saya katakan saja, dalam hal kuliah, dia suka mencari jalan pintas.

Dewi Patmawati, jangan salahkan saya jika saya bilang dia centil. Oh, itu fakta, hahaaa. Dewi kadang bilang takut pada hal-hal yang menghadang di depan, tapi toh dia bisa melewatinya. Dia tipe ceplas-ceplos juga. Selebihnya, dia cewek centil yang jauh di dasar hatinya tersimpan kelembutan.

Yoga Darmawan, pindah ke HI UGM (kayaknya). Dia pendiam, cenderung ambisius tapi terpendam. Memiliki rekor skor TOEFL tertinggi di kelas. Beberapa kali melakukan penyusupan ikut kuliah kita lagi. Sekarang aktif di Persma dia, wow!

Daim Nur H., akhir-akhir ini dia raib ditelan masa, wkwk. Lelaki sibuk yang visioner. Saya jarang lihat dia ngampus, mungkin lagi tugas ke luar kota. Daim punya pilihan sendiri, jalan sendiri dalam memperoleh apa yang dia inginkan.

Giovanni Yoen W., cantik, bertalenta, suka baca, agak ceriwis dibanding yang lain, hahaa. Dia sangat setia kawan, tapi dia juga keras melawan apa-apa yang tidak dia suka. Vanni lebih ke cewek modis, tapi sederhana, tidak mengagung-agungkan bahwa dia cantik, dia tinggi, dia apalah-apalah. Dia bukan tipe cewek cantik seperti yang di luar sana, yang kemayu tidak beralasan. (Oh, saya cenderung memuji Vanni, ampuni saya Ya Allah).

Yayan Antono, apa dia tidak tahu kalau terkadang dia bisa juga bijak? Yayan ini super setia kawan, tapi suka malas ngampus, entah atas dasar setia kawan juga atau tidak, haha. Saya hanya mau usul, terkadang Yayan butuh untuk bersikap tegas, sekali pun pada dirinya sendiri. Catatan: jangan sekali-kali memancing kemarahannya, dia bisa berubah seram seperti Hulk.

Anung Setyo A., sosok aktivis pergerakan, ah, saya sering banyak menentang pemikirannya, tapi saya memilih diam. Ini kan bagian dari pilihannya. Beberapa kali kerja bareng dia, beberapa kali kecewa, hahaa. Tidak masalah, ini bagian dari proses pendewasaan. Anung sangat alim (bisa jadi), intinya dia aktvis yang supeer sibuk. Mungkin sekarang dia larut dengan aktivitas nyaleg sehingga saya sering dimarahi PA saya karena ulahnya.

Wening Prahastiyani, eih, ceplas-ceplos, suka ngece (pada tempat yang tepat), rajin juga, setia kawan, menggebu-gebu. Dia tipe teman yang sangat akrab dengan teman-teman dekatnya. Wening sangat memperhatikan kecantikan, bukankah memang seharusnya perempuan demikian? Suka di-bully masalah make up, toh dia cukup dewasa menanggapinya. Hai Wening, semalam dia bilang kangen pada saya, oh, melankolis.

Velania Devy P., lembut, cantik, tapi saya anggap memiliki permasalahan mengenai percintaan, haha. Dia tidak pernah neko-neko, sepertinya hidupnya lurus-lurus saja. Saya dulu sering bersama dia, tapi untuk urusan formal, urusan kedinasan, wkwk, sejauh yang saya tahu dia baik dan diam.

Hasan Riyadi, oh, Assalamualaikum, Hasan! Perawakannya kecil, tapi susah disembunyikan kalau akhir-akhir ini dia nuwani (terlihat tua, atau bijak ya, entah). Hasan juga aktivis. Ah sudahlah, membicarakan aktivis, saya tidak punya nyali besar.

Aulia Ratna Sari, pecinta parah Korea. Aul terlalu lembut untuk ukuran saya. Dia, oh, terkadang butuh bersikap tegas pada diri sendiri. Selebihnya, Aul baik, setia kawan, suka menolong, dan cantik.

Annisa Uswah A. I., saya tangkupkan kedua tangan sebelum mengatakan apa-apa tentangnya, saya terlalu takut dihajar. Dia tomboy, sukaĀ ceplas-ceplosnya kebablasan, sangatĀ amazing ketika memerankan tokoh Ucok, ah, Anis ya Anis. Di balik sikap keras yang dia miliki, dia baik hati, sangat baik dan peduli pada kesusahan teman. Beberapa kali saya ditelponnya, dikasih wejangan.

Azwar Rizky S., cerpenis. Ah, tapi dia rajanya kaum pengece. Em, saat ini dia adalah pangeran yang tengah dimabukĀ  cinta. Mengapa pangeran? Karena dia pemilik cinta dari seorang gadis yang (kata dia) cintanya susah ditaklukkan. Azwar paling produktif dibanding yang lain. Dia berani mengambil jalannya sendiri, meskipun entah terkadang dia tersandung, dicampakkan, dsb. Dia tetaplah dia yang mengartikan sendiri keteguhan dari sudut pandangnya.

Bekti Setyawati, ckck saya tidak mauĀ  membahas bagaimana dia rajin, bagaimana nilai-nilai A dia kantongi di DHS. Selebihnya, saya tahu Bekti tipe orang yang mudah panik, tapi dia sangat pandai dalam timing dan scheduleĀ kehidupan sehari-harinya. Semua tertata rapi, kecuali saat dia benar-benar selo atau benar-benar kalut, dia akan kehilangan kompasnya. Bekti baik, suka menolong, suka memberi solusi, juga suka makan, haha.

Evi Purnaningrum, saya jarang ikut-ikutan teman-teman memberi gelar “Mbak” pada beberapa teman, tapi pada Evi, kadang saya memanggilnya Mbak juga. Dia punya pemikiran jauh lebih bijak ketimbang saya. Evi tipe setia lho, sama mas pacar. Dia baik, sabar, cuma kadang dia lelah dan marah tak terkontrol. Saya selalu shock jika sempat baca dia mengumpat.

Feni Matus S., emak, selamat pagi! Feni baik, setia kawan, sangat! Setia pada bu kos yang aduhai galaknya nggak ketulung. Dia pantang menyerah, ya walau kadang di tengah keseriusannya ada-ada saja tingkah konyol. Selebihnya, dia teman yang asik.

Agil Sasongko Aji, Dek Agil, haha. Sejauh yang saya tahu, dia sangat mencintai sepak bola. Menurut saya, banyak teman yang salah menduga, hanya karena Agil ini kelihatannya cuek, males-malesan, dsb. Jauh dari itu, saya pernah membuktikan bahwa dia sangat loyal, suka menolong, dedikasi tinggi pada apa-apa yang ditanggungkan padanya. Dia yang menemani saya tidak tidur semalaman demi kasih support ke teman-teman Lighting. Juga memori di P4TK, uhui! Makasih, Dek Agil! Dia jauh lebih berdedikasi ketimbang orang lain yang mengaku akan berdedikasi.

Prita Dyah K., rajin iya, tapi pekok juga iya. Catatan: jangan sekali-kali memancing percakapan yang berbau “saru” dengan dia, bisa keterusan -_- Prita di akhir musim ini menjadi yang pertama mengurus skripsinya, dia memang super rajin. Dia loyal, baik, walau ceplas-ceplosnya juga sering ra ketulung.

Muis Ihsan J., duh, dia cinta Korea juga. Cenderung tertutup, diam, tapi terkadang konyol. Oke, dia satu-satunya cowok yang belum pernah ikut terjun ke lapangan futsal. Ah, jangan diteruskan. Muis baik, ceria, tapi yo jahil.

Kusuma Wardani, nah, ini yang terakhir! Akhir-akhir ini saya akrab dengan dia. Em, mungkin karena dia butuh pundak untuk bersandar, hehe. Dani tipe lemah lembut, tapi kadang pedas! Dia sebenarnya baik, suka menolong, cuma kadang kebaikannya tertutup dengan sikapnya yang kemayu, haha. Yang saya kurang setuju, dia suka grusa-grusu, ya walau saya tahu itu semata-mata caranya menyalurkan cintanya pada Mama dan adik-adiknya. Selebihnya, dia jebolan kelas bahasa pas SMA, jadi tidak salah jika di sela-sela diskusi kita, dia banyak paham pada tokoh-tokoh sastrawan, dsb. Dani, terlalu kontroversial jika saya teruskan penilaian saya tentangnya, wkwk.

Oke, fine, sudah kurampungkan “pendeskripsian” subjektif orang-orang yang terlibat di LCD. Sekarang sudah saatnya saya berkemas, mengakhiri lapak saya ini. Saya tutup dengan penggalan tulisan saya pada postingan sebelumnya:
“Dan saya bisa memahami, setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan. Hanya saja, untuk mereka (dan untuk teman-teman saya yang lain yang terpisahkan oleh jarak dan waktu) saya sediakan sebuah laci istimewa yang saya simpan rapi di sudut hati saya, kelak jika saya merindukan kalian, akan saya buka laci itu, ya sekedar untuk mengenangkan masa-masa kita ketika bersama-sama.”

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

3 responses to “LCD, A Brave Class

  1. duh gemulai lagi gemulai lagi, hahaha…
    uss… betapa aku merindukan dirimu dan teman2 LCD
    ayo ke jurusan lagi dan bertemu denganku, kau akan melihat senyum paling sumringah dari yang pernah kau lihat, hahaha…
    aaaaaai miss u sošŸ˜€

    btw, jalan2 barengnya jadi ega e?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s