Ceritai Aku, Mama!

“Mama, ceritai aku tentang masa lalumu,” putri kecilku mulai pandai berceloteh.
“Ayolah, Mama. Aku ingin tahu bagaimana hari-harimu dulu berlalu.” Dia merajuk.
Ah, putri kecilku selalu pandai mencari celah.
“Mama lagi sibuk, lain kali aja ya!” Jawabku.
“Ah, kau selalu bilang begitu, Ma! Kenapa sih? Apa Mama nggak suka mengingat masa lalu Mama?”
“Bukan begitu, mama hanya tidak mau menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu.”
“Ma, apa bagi Mama masa lalu benar-benar tidak penting lagi? Kok Mama bilang begitu?”
“Em, ya tidak semua sih, beberapa bagian saja.”
“Oke, kalau begitu ceritai aku tentang masa lalumu yang penting. Hanya yang penting dan perlu saja, Ma!” Si kecil mulai pandai bernegosiasi.
“Baiklah, harus Mama mulai dari mana?”
“Terserah Mama. Em, mungkin tentang cinta pertama Mama, hehe.”
Sial.

“Tentang cinta pertama, ah Mama sendiri tidak yakin, ingat atau tidak. Sejauh yang Mama ingat, cinta pertama bukanlah perkara yang sama dengan pacar pertama. Ya, demikian. Terlalu samar untuk Mama ingat. Kamu paham kan, ketika Mama bilang terlalu samar?”
“Yap! Berarti Mama malas untuk menceritakannya.” Katanya seraya mengacungkan jempol.
Ah, putri kecilku, dia selalu paham.
“Ma, apa benar itu kata Mama bahwa cinta pertama belum tentu pacar pertama?” Baca lebih lanjut

Iklan

Tentang Cinta (yang Tertunda)

tangan-pasir-loveBaiklah, saya membuat postingan ini, spesial untuk seorang teman yang meminta begini, “ayo nulis lagii sik sendu2 tapi merduuu”. Yap! Ini dia manusianya, Tata. Baiklah, semoga dia suka dengan judul yang saya sematkan 🙂

Tentang cinta yang tertunda. Entah, akan jadi sendu, merdu, atau justru wagu. Bismillah, saya mulai ya!

Sengaja memilih tema “cinta”. Yap, lagi-lagi tentang cinta. Oh, bukan karena saya cah cinta yo, tapi, setahu saya selera Tata tentang sendu dan merdu ya nggak jauh-jauh dari itu.

Tentang cinta, semua orang punya persepsi sendiri-sendiri, saya juga, Tata semestinya juga. Cinta, sekali meminta definisi tentang satu kata itu, akan didapatkan banyak jawaban. Ya, begitulah cinta, memiliki pesonanya sendiri. Saya sendiri, cenderung lelah mencari tafsiran yang saya rasa paling cucok, hingga akhirnya saya tak pernah mencarinya lagi, sekedar berkata begini, “Cinta adalah rasa, rasa yang terlalu agung untuk dijadikan objek permainan”. Udah, gitu doang.

Tentang cinta, semua orang Baca lebih lanjut

LCD, A Brave Class

425621_4014918051917_1686723122_nSepagi ini, mungkin ada yang sudah capek karena kesal Arsenal tidak mengantongi gol. Oh, jadi teringat, seorang cerpenis yang Gooners sejati. Saya sedang menunggu (tentu saja secara diam-diam) komentarnya setelah pagi ini. Tapi, saya tidak peduli seberapa sering ia membela club kebanggaannya itu. Saya benar-benar tidak peduli, yang saya lebih peduli adalah cerpennya bagus-bagus.

Demi apa saya menulis sepagi ini. Semestinya saya jalan-jalan menghirup udara segar kampung di kaki Merapi. Atau, menengok dapur, menikmati tarian Ibu di antara peralatan perangnya. Atau, menyalakan TV, menonton berita, em atau setidaknya saya menyimak pengajian pagi-pagi. Haha. Ya, demi apa saya menulis sepagi ini.

Baiklah, biasanya saya menulis dulu baru memberi judul. Tapi, postingan ini tadi, saya taruh judul dulu, baru mulai menulis. Em, It’s ok! Saya tinggal melanjutkan tulisan saya ini sesuai judulnya 🙂

LCD, A Brave Class. Sebenarnya diksi ini saya dapat dari seorang teman, melalui koleksi videonya ketika ada semacam kontes, oh, bukan, musikalisasi puisi tepatnya. LCD, saya sendiri tidak tahu apakah ada kepanjangan dari singkatan itu. Ini semacam nama komunitas kelas, ya, sama ketika dulu di SMA masing-masing kita punya nama untuk komunitas kelas kita. Begitulah LCD, L untuk kelas besarnya, C dan D untuk kelas kecil (kelas praktik). Ini bukan di SMA, tapi di kuliahan saya sekarang.

Baiklah, saya mulai Baca lebih lanjut

“Ndleming”

Dalam hidup ini, banyak hal yang kita sukai, tapi banyak juga yang tidak kita sukai. Begitu banyak, silih-berganti, suka-tidak suka, suka-tidak suka, dst. Ya, begitulah hidup, akan jadi lebih berwarna ketika lebih banyak hal yang kita sukai dan tidak kita sukai. Ndleming.

Bicara mengenai suka dan tidak suka sama saja membicarakan pilihan. Dan, taukah mengapa kita harus memilih? Bisa jadi memilih adalah salah satu tuntutan hidup. Lantas, seorang dari kita bisa bilang, “Ketika kita berhenti memilih, maka kita berhenti hidup.” Bisa jadi begitu, bisa juga tidak. Ndleming.

Tentang pilihan-pilihan dalam hidup, tentu saja sangat subjektif. Tapi, ada kalanya satu orang dengan yang lain memiliki pilihan yang sama, Apa itu sah? Bisa jadi sah, bisa juga tidak. Bagaimana pun juga, pilihan adalah bentuk memerdekakan diri. Ndleming.

“Setelah membicarakan tentang pilihan, apa iya kita harus menyambungkannya dengan prinsip?” Seseorang bertanya demikian. Jawab saja, bisa jadi begitu, atau tidak sama sekali. Antara pilihan dan prinsip seperti dua anak yang terlihat kembar secara kasat mata, bukan dari pengamatan yang teliti. Ndleming.

Ya sudah, kalau begitu, sudahi saja pembicaraan tentang pilihan, karena saat ini saya memilih untuk berhenti membicarakannya.