Di Negeriku Hujan Kondom

Negeriku benar-benar ajaib. Bagimana tidak? Hari ini seluruh penduduk mendapatkan anugerah yang tak terhingga nilainya. Pembagian kondom sedang dilakukan besar-besaran, lewat darat, lewat laut dan lewat udara. Ribuan kondom jatuh dari langit, tersangkut di antara kabel listrik, di pepohonan, di atap rumah, di atap perkantoran, toko-toko, lokalisasi, di atap tempat ibadah, juga di atap sekolahan dan universitas-universitas. Seluruh jalan raya sempat mengalami kemacetan hebat lantaran kondom yang memenuhi jalan. Penerbangan juga diundur beberapa jam karena jarak pandang yang amat terbatas. Seluruh udara dipenuhi kondom. Kapal-kapal di lautan mematikan mesinnya, menikmati angin sepoi yang membawa kondom-kondom beterbangan di atas dek. Hanya kereta api yang tetap beroperasi normal. Nampaknya kondom tak begitu bermasalah pada rel. Saat ini, di negeriku keadilan bukanlah dongeng semata. Semuanya jadi bahagia, kondom telah tersebar rata ke seluruh nusantara.

Anak-anak memompa kondom untuk dijadikan balon terbang. Ibu-ibu memunguti kondom untuk  disulam menjadi kerajinan tangan, tentu saja setelah menyisihkan sebagiannya dan disimpan di antara tumpukan pakaian dalam almari. Jangan ditanya siapa yang paling rajin mengumpulkan kondom-kondom, ya, bapak-bapak. Katanya, semakin banyak yang disimpan semakin menunjukkan keperkasaan mereka. Entah filosofi dari mana, nyatanya mampu menghasut bapak-bapak berlomba-lomba membanjiri rumahnya dengan koleksi kondom. Semua orang jadi kalap, mereka lupa akan reputasi, bahkan sebagian mereka lupa pada status sosialnya di masyaratak sebagai pemuka agama, pamong, pengusaha, dan jabatan mentereng lainnya. Padahal, negeriku sangat kental menjunjung tinggi perbedaan status sosial.

Di lokalisasi, beberapa wanita cantik tampak keluar wisma, membersihkan kondom yang menutupi nama wisma yang mereka huni. Sebagian yang lain mengisi siang dengan permainan tarik tambang, tentu saja tambangnya dari untaian kondom-kondom yang disimpul mati. Asik sekali mereka bermain. Kelihatannya memang mereka sudah ahli memainkan kondom-kondom. Lain di lokalisasi, lain di tempat ibadah. Kondom-kondom di sekitar sana telah hangus dibakar oleh tangan-tangan Tuhan. Seluruh jamaah bisa mengadukan keajaiban negerinya pada Tuhan dengan tenang.

Di sekolahan dan universitas, beberapa jam efektif belajar terpaksa harus dihentikan. Semua orang serentak mengabadikan momen ajaib tersebut dengan gadget masing-masing, kemudian mengunggahnya ke jejaring sosial. Seorang siswa SMP mengunggah foto di facebook dengan sepuluh jarinya yang berhiaskan kondom, sementara ada seorang siswi tersenyum cantik dengan kondom pada pita rambutnya. Siswa SMA sedikit ekstrem. Beberapa dari mereka mengunggah foto adegan tawuran dengan saling lempar kondom di twitter. Yang paling ekstrem adalah ulah para mahasiswa. Ada yang mengunggah video di youtube sebuah presentasi mengenai kajian sosiologi sastra yang mendadak berubah menjadi presentasi sejenis iklan beragam rasa yang dimiliki kondom. Ada yang mengunggah foto kantor BEM yang dipenuhi tumpukan kondom, perpustakaan yang penuh dengan kondom, juga foto sebuah kondom tersangkut di atas bendera merah-putih yang tengah berkibar di depan rektorat. Tak ketinggalan, foto-foto aktivis yang tengah menyerukan demo anti kondom, tapi justru kondom makin santer mengalir dari langit.

Benar-benar sebuah pesta rakyat yang menyita banyak waktu dan tenaga. Seluruh elemen masyarakat merayakan pesta pembagian kondom ini, kecuali Yu Jum, janda Dukuh Karangjono. Ia tampak cuek, seolah tidak ada sesuatu hal ajaib tengah terjadi. Mungkin ia tidak tertarik pada kondom lantaran ia tidak lagi bersuami. Tapi, apa ia tidak ingin membuat kerajinan seperti ibu-ibu yang lain?

Yu, kenapa nggak ikutan heboh punguti kondom kaya yang lain?” Tanyaku sembari mencomot pisang goreng.

“Alah Mas, buat apa sih? Apa iya saya mau nambal panci pakai kondom? Apa bisa lengket itu Mas? Em, apa benar-benar jadi nggak bocor kalau dilapisi kondom?” Begitu jawabnya .

“Kalau saya ikut-ikutan mungut kondom, warteg yang jaga siapa? Saya yakin satu jam lagi orang-orang itu pasti klenger. Nah, kalau sudah begitu, mereka tahu dimana tempat mengembalikan stamina, hehe, ya di warteg saya ini.” Tambahnya.

“O, jadi kamu menunggui mereka lapar ya, Yu? Terus wartegnya kepayon? Haha, licik.” Begitu timpalku.

“Lho, lha iya to Mas! Hidup ini kan sudah semestinya saling melengkapi, saling berbagi, kaya Bu Menteri sekarang ini yang lagi gencar juga berbagi. Mereka butuh makan, saya yang menyiapkan. Mereka semua butuh kondom, sedangkan saya enggak. Jadi pas. Buat apa saya ikut-ikutan mengambili apa yang tidak saya butuhkan.” Yu Jum menjawab sembari mengantarkan sepiring nasi rames pesananku.

Sambil menyantap makan siangku, aku mengurai pikiran-pikiran yang kusut. Sebenarnya ada apa dengan negeriku? Mengapa kondom bertebaran di mana-mana? Em, atau mungkin inilah jawaban Tuhan atas doa-doaku agar diberi sebuah judul penelitian. Nampaknya aku sudah mendapatkan inspirasi sekarang. Akan kuberi judul tebal pada penelitianku kali ini yang berbunyi:

Desember: Musim Penghujan, Kondom berjatuhan dari Langit, Anugerah Besar atau Bencana Besar?
(Sebuah Kajian Kondomisme Magis)

Plak! Sebuah kondom jatuh dari langit-langit warteg, pas di piring makanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s