True Love Story :)

Wus! Cah jomblo posting tentang cinta, sangarr!

True Love Story yang akan saya tulis bukan punya saya. Secara, saya sedang tidak jatuh cinta dan rasanya memang belum pernah memiliki kisah cinta yang muluk. Tapi, punya Simbok dan Pak Buyut saya. Mereka adalah nenek dan kakek buyut saya.🙂

SPM_A0707

Sejauh yang saya tahu, usia Simbok sekarang sudah di atas 90, sedangkan Pak Buyut lebih dari satu tahun lalu meninggal dunia. Justru ketika Pak Buyut sudah tiada, saya baru sadar betapa percintaan antara keduanya begitu besar. Bisa jadi, kalau dibahasagaulkan percintaannya seperti Romeo dan Juliet, hahaaa🙂

Tidak ada panggilan sayang di antara keduanya. Simbok memanggil Pak Buyut dengan sapaan “Bapakmu” dan Pak Buyut memanggil Simbok dengan sapaan “Mbokmu”. Tidak seperti kebanyakan muda-muda sekarang, baru pacaran saja sudah panggilnya “ayah-bunda”, “papa-mama”, “umi-abi”, dll. Hahaaa seolah sudah benar-benar memiliki seutuhnya sang pacar. Padahal… (Sstt tidak perlu saya teruskan, kesannya kok saya syirik, wkwk).

Sepeninggal Pak Buyut, Simbok sering cerita. Katanya, “Bapakmu ki wes mati ning kok isih sok ngemong sik urip.” Kata beliau, Pak Buyut itu sudah tiada, tetapi seperti masih mengasihi kita yang masih hidup. Beberapa kali Simbok cerita kalau Pak Buyut masih suka pulang ke rumah. Mengingatkan Simbok untuk sholat ketika lupa ketiduran. Beberapa kali, katanya. Setelah terdengar peringatan dari Pak Buyut itu, sontak bau wangi tercium, entah wewangian yang berasal dari mana. Begitu, beberapa kali saya sempat mendengarkan cerita Simbok, hal itu terus saja diulang-ulang. Terus saja Simbok menceritakan semua-mua tentang Pak Buyut.

Apa namanya jika bukan karena perasaan cinta yang begitu besar? Lantas kita selalu menceritakan pada orang lain semua hal tentang orang yang kita cintai.

Simbok, setahu saya sudah menikah di usia 18. Sayangnya, beliau tidak berjodoh dengan suami lamanya. Bahkan, sekali pun kata Simbok ia belum pernah tersentuh suami lamanya. Akhirnya mereka bercerai. Selepas perceraian tersebut, dari hasil rembug tuwo, Simbok dinikahkan dengan Pak Buyut. Apa alasan Pak Buyut mau menerima Simbok yang sudah janda? Yang bahkan usianya lebih tua dari Pak Buyut? Entah, sampai saat ini saya belum pernah menanyakan, tidak sempat menanyakan tepatnya. Bisa jadi, karena sudah “jodohnya”. Dan bisa jadi karena perasaan cinta yang besar.

Sejauh yang saya tahu, Pak Buyut tipe lelaki yang nrimo ing pandhum. Beliau tidak pernah sekali pun terdengar menyesali apa-apa yang dimiliki, sekali pun yang dimiliki itu adalah kesengsaraan hidup, serba kekurangan. Beliau tetap ikhlas dan bersyukur. Hatinya bersih, tidak pernah mencela orang lain. Terkadang, sesekali memang marah pada kami, anak-cucunya saat nakal. Atau, marah pada Simbok jika Simbok tidak bisa sabar dalam ngemong bocah-bocah. Selebihnya, Pak Buyut adalah lelaki baik yang tidak pernah merendahkan orang lain.

Sementara Simbok, menurut saya beliau adalah wanita yang memiliki kecerdasan di atas zamannya. Kenapa saya katakan demikian? Dari beberapa cerita yang pernah saya dengar, saya bisa menyimpulkan bahwa Simbok adalah wanita perkasa, mandiri, cerdas, dan gemati. Beliau tidak pernah putus asa menghadapi kerasnya perjuangan hidup di masa-masa sulit, di awal membangun rumah tangga, di masa-masa penjajahan RI atas kolonial, sekali pun beliau adalah seorang wanita. Tidak manja.

Jika kata-kata orang, “Jodoh datang untuk melengkapi kekurangan yang menjadi jodohnya.” Mungkin untuk Simbok dan Pak Buyut hal itu adalah benar.

Selanjutnya, biduk rumah tangga yang beliau berdua bangun tentu saja tidak semulus jalan tol. Teramat banyak penderitaan yang harus mereka jalani. Simbok pernah menjadi buruh ani-ani padi, Pak Buyut sempat menjadi buruh macul. Dua anak mereka yang masih kecil-kecil kala itu harus menahan lapar, sementara menunggu Pak Buyut mendapatkan pinjaman gabah. Tapi, bagor yang dibawanya kala itu tidak berisi apa-apa ketika sampai rumah. Simbok pernah pura-pura menjadi orang gila, menyilakan tapih sampai ke paha, mengacak-acak rambutnya ketika menempuh perjalanan panjang malam hari dari sebuah tempat jual-beli (entah pasar atau apa) demi menyelamatkan sedikit harta hasil berjualan. tentu saja berharap selamat sampai rumah tanpa dicopet.
Apa kabar rumah? Ya, mereka memiliki rumah yang kala itu sangat sederhana, gedhek yang kalau malam tiba beberapa hewan buas menyeruduk-nyeruduk dinding. Dengan penerangan seadanya, kala itu baru ada beberapa buah rumah saja di kampung itu. Sepi, dingin, digelayuti ketakutan-ketakutan.

Lantas, dengan kekurangan-kekurangan yang terus mendesak mereka berdua lengah dan menyerah? Tidak! Bagaimana mereka bisa bertahan, saya tafsirkan karena adanya perasaan cinta yang besar. Mereka tahu bagaimana caranya saling memberi semangat. Mereka paham bagaimana merefleksikan cinta menjadi kemuliaan-kemuliaan.

Sampai akhirnya saya lahir dari garis keturunan mereka, saya tertegun dan sangat berbangga. Bagaimana tidak? Saya memang tidak bisa menceritakan bagaimana kebesaran cinta antara Simbok dan Pak Buyut dalam barisan kata-kata indah yang sentimentil. Tapi, lebih dari itu, saya bahagia bisa mengetahui bagaimana perasaan agung itu mengalir dari orang yang dekat dengan saya. Murni, indah, membahagiakan.

Jika saya Pramoedya Ananta Toer, pastilah cerita cinta yang saya dengar dari Simbok akan saya ubah menjadi maha karya realisme sosialis. Atau, jika saya Eross Candra, pastilah akan saya ubah cerita cinta yang saya dengar dari Simbok ke dalam petikan-petikan gitar nan syahdu. Tapi, saya hanyalah saya. Cucu buyut yang hanya bisa menjadi pendengar yang baik, yang mungkin sedikit bijaksana dengan mengikrarkan bahwa kelak juga akan menjadi bagian dari si pembawa cinta yang besar, kepada orang yang saya cintai.  Seperti Simbok, yang terus memberikan cinta dan kasihnya pada Pak Buyut, dengan sebesar-besar cinta yang bisa beliau berikan.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s