Sepagi Hujan dan Kenangan-Kenangan

Hujan lebih kencang berlari ketimbang matahari. Alhasil, bumi diguyur air dari langit sepagi ini. Banyak makhluk mengeluhkan, hujan lagi-lagi datang! Membuat semua rencana tertunda, oh tidak, parah, hujan membuat semua rencana gagal total. Di sudut-sudut pasar terdengar keluhan, air mulai bikin semuanya becek. Di sudut-sudut kampus terdengar keluhan, dingin membuat mahasiswa malas belajar. Boro-boro belajar, ke kampus saja jadinya malas.

Hujan. Selalu membawa perbandingan dengan kemarau. Ya, beberapa orang lebih menyukai musim kemarau daripada musim penghujan. Beberapa yang lain lebih menyukai penghujan daripada kemarau, dengan berbagai alasan. Semua makhluk sepertinya dikaruniai Tuhan dengan anugerah yang sama, sama-sama susah mensyukuri apa yang sedang Tuhan kasih.

Sebagaimana yang lain, rasanya saya juga sama. Terkadang menjadikan hujan sebagai kambing hitam, sebagai alasan atas beberapa kekecewaan saya.

Hujan. Sebentar, saya mulai mengingat-ingat kenangan saya ketika hujan. Rasanya hujan memiliki kelebihan dalam membungkus kenangan manusia. Ya.

Seperti satu tahun lalu, hujan selalu menemani malam-malam saya bersama teman-teman Teater Layar. Latihan blocking pakai jas hujan, ambil pring buat dekorasi juga hujan-hujanan, nyopoti banner di jalanan juga basah, sendiri di kos juga karena hujan, sampai 1 jam sebelum pentas juga hujan! Mana pentasnya outdoor pula. Teringat kala itu, hujan membawa tangisan bagi seorang teman saya. Dia tumpahkan air mata di pundak saya, padahal setahu saya dia anak tegar. Ya, dia dan saya sama-sama orang belakang layar. Semua-mua berkaitan dengan kesempurnaan pentas menjadi beban yang tidak enteng. Banyak lagi kenangan tersimpan bersama keluarga LCD dan bulir-bulir air yang berjatuhan.

Masih bersama hujan. Saya pernah habiskan siang di antara rerimbunan pohon kaki Merapi, bersama teman-teman rumah, juga beberapa teman undangan istimewa. Bukan beberapa, tapi banyak yang datang. Dan sehari itu hujan jadi saksi ketulusan kami mencintai alam, menanam kehidupan.

Masa-masa sekolah dan hujan, banyak sekali kenangan berkelebatan. Saya tidak begitu yakin memilih satu yang istimewa untuk diceritakan. Seluruhnya terasa begitu istimewa. Masa merah-putih, putih-biru, putih-abu abu.

Hujan juga mengingatkan saya akan masa kecil, dimana saya sering menyengaja basah bermain bersama teman-teman kecil saya. Untuk ingatan satu ini, saya sudah lama menyadari, kenangan masa kecil perlahan memudar, banyak yang sudah terlupakan.

Hujan tahun lalu dengan tahun ini sama, masih turun dari langit. Hanya, kenangan yang membersamainya selalu berubah, juga perasaan yang menyertainya, berubah.

Sementara kenangan itu, dari tahun ke tahun sama saja penyebutannya, sebatas kenangan. Memang, hanya ingatan akan masa lalu yang terkadang berbumbu bunga-bunga indah. Lepas dari itu, terkadang juga hadir bersama cakar-cakar luka yang perih. Tapi, beberapa dari kita mengatakan, bahwa kita tak bisa bertahan hidup tanpa kenangan. Sementara yang lain mengatakan, kenangan tak pantas diingatkarena hidup itu untuk menatap maju bukan untuk menoleh ke belakang.
Terserah.
Semua manusia punya banyak kenangan. Mereka juga punya banyak laci untuk menyimpan rapi kenangannya.
Terserah.
Bukankah laci tidak selalu harus dibuka?

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s