Saya Takut Kehilangan Mereka

“Tumben malam kali ini dingin,” kata seorang ibu di depanku. “Padahal, nggak biasanya aku merasa begini dinginnya,” tambahnya. Tentu saja percakapan itu sudah saya alihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari penggalan kata tersebut. Secara, memang tempat tinggal saya di kaki gunung, dan dingin menjadi fenomena yang tidak langka. Hanya, saya jadi kepikiran, tentang “dingin” yang lain. Ya, dingin yang di dalam sini, di sudut hati saya.

Semua perempuan pastilah memiliki kelebihan dalam menggambarkan perasaan yang tengah mereka alami. Ya, karena mereka ditakdirkan sebagai makhluk perasa. Begitu juga dengan saya, yang juga seorang perempuan. Kadang, saya dengan mudah membagi perasaan senang atau sedih ke teman-teman, bahkan sering perasaan itu saya sampaikan dengan gaya lelucon. Tapi, tetap saja, perasaan yang terdalam terlalu membuat saya bisu.

Ini bukan soal “dingin” karena perasaan galau dengan percintaan, atau nelangsa karena status kejombloan yang tengah saya sandang. Bukan, bukan masalah percintaan, mantan pacar, atau hal-hal galau ala anak muda zaman sekarang. Saya katakan, saya tidak lebih baik dari mereka yang suka menggalaukan urusan percintaan, tapi bagi saya saat ini urusan itu masih bisa saya tangani dengan damai.

Saya sedang berpikir, kenapa akhir-akhir ini terasa hidup saya sepi? Lantas sepi yang saya rasakan itu segaris lurus dengan “dingin”. Saya merasa belum pernah merasakan kedinginan semacam ini sebelumnya. Bagaimana mendeskripsikannya, saya sendiri agak kacau.

Sejauh yang saya sadari, saya merasa memiliki banyak teman. Ya, banyak. Saya selalu berusaha terbuka dengan siapapun untuk sebuah pertemanan. Saya juga selalu berusaha untuk mau membantu kesulitan-kesulitan teman, mau diajak berbagi, mau menghargai mereka, dan hal-hal lain yang saya tunjukkan sebagai cerminan seorang teman sejati. Tentu saja, semua itu adalah perasaan saya. Bagaimana teman-teman saya menilai usaha saya, tentu saya tidak pernah menanyakannya.

Saya bahagia memiliki banyak teman. Tapi, benar kata orang di luar sana, “bahagia itu tidak selamanya, sedih juga tidak bisa selamanya”.  Mungkin seperti itulah yang akan saya ceritakan. Beberapa hari ini saya sempat terpikir, mungkinkah saya merasa “dingin” karena saya kehilangan keintiman saya dengan teman-teman? Bisa jadi! Setelah saya pikir-pikir lagi, akhir-akhir ini memang saya merasa jauh dengan teman-teman saya. Ya, walau mungkin bisa dikata setiap hari saya bertegur sapa, setiap hari saya bertemu mereka di kelas (untuk keluarga LCD dan teman-teman kuliah lain). Sedangkan untuk teman-teman lama, saya akui jarang memulai kontak dengan mereka. Bahkan, teman-teman lingkungan rumah, saya merasa jarang sekali menyapa mereka. Sehingga, pertemuan kita sebatas pertemuan dalam nuansa formal, kaku.

Sebagian besar teman yang kerap saya lihat, mereka sekarang memiliki teman-teman dekat sendiri-sendiri. Misalnya, si A sekarang apa-apa dengan si B, si C sekarang lengket dengan kekasihnya dan jarang mengajak saya jalan bareng lagi, si D yang dulu dekat dengan saya sekarang dekat dengan teman saya yang lain. Saya menjadi ketakutan. Saya takut, saya terlalu asyik dengan diri saya sendiri, dengan pikiran-pikiran saya sendiri, lalu saya menjadi jauh dari teman-teman saya, dan akhirnya saya kehilangan keintiman dengan mereka. Saya takut, sungguh saya takut kehilangan mereka. Tentu saja mereka tak akan pernah hilang dari label “teman saya”, tapi mereka menghilang dari kehidupan saya. Karena, terlalu banyak orang baik yang bisa mereka ajak berteman, bukan saya saja.

Saya jadi membayangkan. Akankah kelak jika saya meninggalkan teman-teman saya, mereka akan datang ke rumah saya memberi kecupan selamat tinggal. Atau karena kesibukan mereka, mereka hanya sempat menuliskan “RIP Sobat, tenang ya di sana” pada dinding facebook saya. Akankah? Atau justru tidak seorang teman pun mengantarkan saya sampai pusara saya. Saya takut. Saya takut kehilangan mereka.

Saya tahu, dengan menjadi orang baik maka saya punya banyak teman. Saya tahu itu. Makannya, sampai detik ini saya selalu berusaha menjadi orang baik, terlepas itu menjadi baik atau tidak di mata orang lain. Saya sangat membenci kesendirian. Sebaliknya, saya sangat menghendaki hidup saya ramai, banyak teman singgah di sana-sini selama saya hidup. Saya benar-benar takut. Saya takut kehilangan mereka.

Saya benar-benar takut. Saya takut kehilangan mereka. Saya takut tidak ada lagi teman yang saya sms pertama kali ketika saya bahagia, atau ketika saya ingin mengabarkan duka.  Saya takut tidak ada lagi teman yang mengajak saya melepas penatnya hidup dengan sedikit tamasya. Saya takut. Saya takut tidak ada yang istimewa dari saya, sehingga mereka memilih teman lain yang lebih istimewa. Saya takut ketika saya merasa “dingin” tidak ada satu orang teman pun yang menawarkan kehangatan pada hati saya. Saya takut. Saya benar-benar takut kehilangan mereka.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s