Mesin Motivasi #2

Saya tidak begitu yakin memberi judul untuk postingan 2x terakhir dengan “Mesin Motivasi”. Em, sebenarnya subjektif sekali. Akan tetapi, saya akan tetap melanjutkannya, setidaknya untuk postingan kali ini.

Setelah mencoba berdamai dengan ego, mencari cara untuk tetap selalu mensyukuri apapun yang terjadi pada saya (tentu saja pada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan saya), dan belajar bersikap dewasa nrimo ing pandum, maka yang harus saya sadari selanjutnya adalah bahwa saya tidak pernah benar-benar hidup sendiri, sesepi apapun yang saya rasakan tentunya. Saya tidak pernah sendiri dalam setiap kesulitan-kesulitan dan masalah. Tentu saja selalu ada Tuhan yang membelai kelelahanku, ada orang tua yang setia menyayangiku, ada saudara (adik/kakak), keluarga besar, ada teman dan sahabat. Mereka tidak pernah benar-benar meninggalkan kita tentunya, dalam keadaan separah apapun kita.

* Tuhan. Tuhan akan selalu jadi muara setiap keluh dan harapan kita. Entah kita sering mengingatNya atau tidak. Tuhan akan selalu hadir dalam setiap kesendirian kita. Entah kita sadari atau tidak, Tuhanlah yang membuat kita sebenarnya menjadi lebih kuat setelah apa-apa yang kita lewati.

* Orang tua Dalam hal ini, saya merasa beruntung masih memiliki orang tua yang lengkap, juga yang kandung, juga yang setiap hari bisa saya temui di rumah. Tentu saja banyak teman saya yang tidak seberuntung saya. Bagi saya, orang tua menjadi sosok yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Bagaimana tidak? Tentu saja sepanjang usia saya yang sudah 21 ini, semua pembelajaran kehidupan saya dapat dari beliau berdua. Ya, terkecuali ilmu-ilmu eksak yang saya dapat di sekolahan, itupun beberapa juga saya bisa tahu dari tuntunan beliau berdua juga. Saya tidak pernah mengatakan bahwa orang tua saya selalu memanjakan saya (dan dua adik saya), tapi beliau berdua selalu saja punya cara supaya anak-anaknya bisa hidup nyaman, berpikiran dewasa dan matang dengan atau tanpa pembelajaran langsung. Artinya, banyak teka-teki yang disuguhkan sehingga saya (dan dua adik saya) memahami sesuatu. Ya, orang tua bagian terpenting yang memotivasi hidup saya.

* Saudara (adik/kakak) Saya punya dua adik, secara otomatis saya kelak harus bisa membuat hidup dua adik saya lebih beruntung dari saya, baik dari segi finansial, ilmu, atau hal lain. Seperti itulah pemikiran semua kakak di dunia ini, saya rasa. Antara saya dan dua adik saya terpaut usia yang jauh, 8 tahun dan 14 tahun. Hal itu menyebabkan saya sering frustrasi tidak bisa mengajak dua adik saya mendiskusikan beberapa masalah yang semestinya harus kita pecahkan. Tapi, toh saya tetap bahagia memiliki mereka. Em, sementara sosok kakak, saya memang selalu menginginkan memiliki seorang mas. Sebenarnya saya punya, tapi dia sudah tiada. Dan saya sering menghadirkan sosok mas saya itu setiap kali saya butuh untuk mendapatkan sebuah solusi. Saya sering membayangkan dia datang pada saya. Mengajak saya mendiskusikan ini-itu, lalu menawari saya beberapa jalan keluar. Ya, saya tahu, semua itu tentu saja hanya ilusi, dan sebenarnya semua jalan keluar yang saya dapat adalah dari diri saya sendiri.

* Keluarga besar Saya ini orang desa, dan saya merasa bahagia bahwa sebagian besar sanak-saudara saya ada dalam satu kampung. Itu berarti saya tidak pernah merasai kerinduan pada keluarga besar seperti yang teman-teman saya rasakan. Memalui persaingan-persaingan sehat, misalnya “Wah si Mas A sudah sukses bisnis” atau “Mbak, keponakan banyak yang besok minta tolong kamu lho”, atau yang lain, tentu semacam itu jadi motivasi juga.

* Teman dan sahabat Saya tidak bisa memungkiri bahwa, lingkungan sangat mempengaruhi etos semangat saya. Em, misalnya begini: saya terlalu sering bertemu dengan teman-teman yang memiliki semangat hidup yang tinggi, yang visioner dan mandiri. Secara otomatis dalam diri saya merasa bahwa mereka bisa kenapa saya nggak bisa! Nah, seperti perasaan semacam itulah, bahwa kebanyakan saya termotivasi justru dari sikap teman-teman saya. Juga sahabat. Saya tidak pernah katakan yang mana teman yang sangat mempengaruhi, apa mereka yang spesial? Bagi saya semua teman dan sahabat adalah spesial. Mereka memiliki daya kejut masing-masing yang tidak bisa saya samakan.

Selebihnya, saya tahu bahwa, setiap mesin tidak akan mampu bekerja tanpa ada penggeraknya. Sejauh apapun orang lain teramat penting di mata saya, sekuat apapun mereka selalu menyemangati saya, pada akhirnya jika saya menutup mata dan pikiran saya, tentu saja semuanya tak ada gunanya. Mesin motivasi itu akan mati ditelan ego.

-yang berdamai dengan ilusi-

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s