Mesin Motivasi #1

Belum lama, mungkin baru dua malam kemarin, saya iseng mengulang kebiasaan lama: memutar radio sebelum tidur. Pas banget badan lagi pegel, pikiran lagi ruwet, hidup juga lagi kesepian (haha), rasanya butuh cari pencuci otak biar fresh! Alhasil, saya dengarkan radio saja. Jadi teringat masa lalu, suka denger radio, terus suka sms-sms request lagu. Seneng banget rasanya pas mas/mbak penyiar membacakan sms saya yang biasanya suka saya selipi kata-kata gombal atau puisi-puisi, ihiw! Nostalgia, dek! Em, lanjut… Dua malam kemarin itu, saya dengar semacam motivasi-motivasi gitu. Biasanya saya nggak begitu suka menyimak kata-kata dari sang motivator. Em, entah kenapa, semenjak saya dengar dari teman saya ungkapan semacam ini, “Hidup tak semudah omongane Mario Teguh” saya mulai mengamininya. Tapi, malam itu saya cuma sekilas dengar, itu pun bukan Pak Mario yang bilang, bahwa “Kita tak akan pernah merasa bahagia jika hati kita kotor, penuh dengan pikiran-pikiran buruk dan prasangka-prasangka buruk terhadap hal-hal di luar diri kita, bahkan terhadap hal-hal di dalam diri kita, apapun itu!” Intinya begitu. Dan, eng-ing-eng untuk alasan apapun itu, saya tidak bisa mengelak dari pernyataan tersebut.πŸ™‚ Saya akan belajar untuk menerapkan itu dalam hidup saya ke depan, ini serius! Hahaaa.

November kali ini akan jadi pengingat untuk November-Novemberku tahun-tahun depan, jika saya masih ada umur. Kenapa? Sumvah, ini November yang ceria dalam nestapa, wkwk. Tentu saja saya tidak akan ceritakan di sini, ih wow masa curhat di blog, hahaaa (padahal biasane yo ngono, tulisane ra ono sik berbobot, curhat thok). Em, bagaimana pun juga, saya sudah belajar bahwa setiap orang tentu punya masalah sendiri-sendiri. Dan untuk apapun masalah itu, pasti mereka punya jalan pikiran sendiri-sendiri untuk mencari solusi. Bukankah kita hidup karena ada masalah??πŸ™‚

Ini akan jadi sebuah postingan yang nano-nano rame rasanya.
Dua minggu ini saya rajin menyambangi perpustakaan kampus. Oh, puji Tuhan! Perpustakaan kampus sekarang mulai rame kaya pasar. Tidak seperti dulu ketika saya masih maba. Dulu, perpus yang teman-teman saya sering menyebutnya UPT itu seringnya sepi, apalagi di lantai dua dan tiga (atau perasaan saya saja, entahlah). Yang main ke sana pasti mahasiswa-mahasiswa yang paham bahwa perpus itu tempat yang tenang. Beda dengan sekarang, saya sering menemukan beberapa cewek merumpi cekakak-cekikik di antara rak-rak buku, belum lagi ada pasangan-pasangan sejoli yang mesra di perpustakaan, ih! Ini yang paling membuat saya jadi sensitif, hahaaa. Setelah saya pahami perlahan-lahan, saya mulai sadar, yang namanya tempat umum ya terserah orang-orang yang mau make’ to, mau anteng mau rame kan hak asasi mereka. Tentu saja yang penting adalah rasa tepo seliro, dan ngrumangsani di tempat apa kita sedang berada dan bagaimana seharusnya sikap kita.πŸ™‚

Saya sudah katakan sebelumnya, ini akan jadi sebuah postingan yang nano-nano rame rasanya.
Apa kamu pernah berpikir bahwa, terkadang dengan tekanan-tekanan yang setiap hari kamu terima kamu akan benar-benar semakin kuat? Atau, justru kamu mendapat celah untuk bisa ambruk??

Sekali lagi, ini akan jadi sebuah postingan yang nano-nano rame rasanya.
Saya akan segera mengakhiri postingan ini supaya tidak semakin nano-nano. Em, di akhir postingan ini saya mulai merasa kalau tulisan-tulisan saya akhir-akhir ini tidak berbobot, em, walau sebenarnya dari dulu-dulu masih dipertanyakan letak bagusnya tulisan saya sebenarnya di mana. Saya merasa semakin hari saya semakin kurang produktif, padahal usia saya semakin tua saja. Untuk hal ini, tentu saya tidak bisa menyalahkan keadaan atau lingkungan yang sekarang sedang menjadi tempat saya menjalani kehidupan. Mengapa? Karena saya selalu tercekoki dengan pendapat bahwa “yang terjadi adalah yang terbaik”. Tapi, sekali lagi, saya tidak bisa mengamini bahwa yang terjadi adalah yang terbaik jika apa yang kita rencanakan banyak terhambatnya. Sehingga saya akan katakan, “yang terjadi adalah yang terbaik. Terbaik ketika kita sudah berusaha keras tapi hasilnya belum memuaskan dan kita bisa belajar dari kesalahan. Terbaik jika yang kita lakukan bermanfaat, tidak menyakiti Tuhan dan orang lain”. Pada akhirnya, saya akan benar-benar mengakhiri posting nano-nano ini, sekian.

-Yang bedamai dengan ilusi-

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s