De-wa-asa

Dewa-asa, dew-a-sa, dewasa.
“Menjadi dewasa, berarti semakin sedikit alasan kita untuk bisa tersenyum”. Ya, itu sepenggal dialog yang saya dengar dari sebuah film. Bagi saya sendiri, teramat sulit mengatakan bahwa saya memang sudah dewasa. Terkadang, saya merasa beberapa kali bisa bersikap laiknya orang dewasa. Misalnya, pernah suatu waktu saya menyembunyikan perasaan jengkel dan atau sedih di depan orang lain, seolah memang saya baik-baik saja. Malahan, saat seperti itu saya sok menasihati atau menghibur teman dengan geguyon yang suka saya ciptakan. Entah itu bagian dari sikap seorang dewasa atau bukan, tapi bagi saya, menyembunyikan keruwetan pribadi di depan orang lain adalah sikap dewasa. Kita percaya bahwa kita sendiri akan mampu menyelesaikan konflik pribadi tanpa harus diumbar ke orang lain. Walau begitu, kadang-kadang saya tidak sekuat apa yang saya pikirkan.

Sekali lagi, saya sebenarnya juga belum memahami secara “pasti” konsep dewasa menurut pandangan orang-orang. Bagi saya, menjadi dewasa terkadang bisa cukup sederhana, tapi terkadang juga kompleks. Yang saya amini adalah bahwa dewasa itu bukan masalah usia semata. Dan, belajar untuk berpikiran dewasa tidak bisa dipelajari dalam situasi formal melalui SK-KD atau KI-KD di dalam kelas. Akan tetapi, kita sebagai pribadi perlu berinteraksi langsung dengan orang lain, dengan masalah, dengan alam, bahkan dengan ideologi atau imaji kita sendiri.

Apakah dewasa kemudian identik dengan kesendirian? Identik dengan perasaan sepi? Saya juga belum paham bagaimana “pasti”nya menurut orang-orang. Sejauh yang saya tahu, menjadi dewasa berarti berani mengambil langkah-langkah dalam hidup secara mandiri. Nah, dari pembangunan sikap kemandirian itu mungkin mendorong kita untuk berpikir bahwa: memang menjadi dewasa itu siap untuk kesepian. Apa-apa sendiri. Punya masalah disimpan sendiri, punya keinginan yang belum tercapai disimpan sendiri, dll. Kenapa bisa demikian? Seperti yang kita tahu bahwa setiap orang punya masalah sendiri-sendiri, hanya saja kita tidak selamanya bisa mngetahui apakah masalah yang sedang orang lain hadapi seberat yang sedang kita hadapi

🙂 Sudah-sudah, saya paham bahwa semua orang memiliki pemikiran tentang kedewasaan sendiri-sendiri. Pun dengan bagaimana mereka akan memilih jenis kedewasaan itu, apa bentuknya. Tidak masalah. Kalau bagi saya, menjadi dewasa ya menjadi si dewa asa🙂 Ya, asa ada di tangan kita sang dewa asa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s