True Love Story :)

Wus! Cah jomblo posting tentang cinta, sangarr!

True Love Story yang akan saya tulis bukan punya saya. Secara, saya sedang tidak jatuh cinta dan rasanya memang belum pernah memiliki kisah cinta yang muluk. Tapi, punya Simbok dan Pak Buyut saya. Mereka adalah nenek dan kakek buyut saya. πŸ™‚

SPM_A0707

Sejauh yang saya tahu, usia Simbok sekarang sudah di atas 90, sedangkan Pak Buyut lebih dari satu tahun lalu meninggal dunia. Justru ketika Pak Buyut sudah tiada, saya baru sadar betapa percintaan antara keduanya begitu besar. Bisa jadi, kalau dibahasagaulkan percintaannya seperti Romeo dan Juliet, hahaaa πŸ™‚

Tidak ada panggilan sayang di antara keduanya. Simbok memanggil Pak Buyut dengan sapaan “Bapakmu” dan Pak Buyut memanggil Simbok dengan sapaan “Mbokmu”. Tidak seperti kebanyakan muda-muda sekarang, baru pacaran saja sudah panggilnya “ayah-bunda”, “papa-mama”, “umi-abi”, dll. Hahaaa seolah sudah benar-benar memiliki seutuhnya sang pacar. Padahal… (Sstt tidak perlu saya teruskan, kesannya kok saya syirik, wkwk).

Sepeninggal Pak Buyut, Simbok sering cerita. Katanya, “Bapakmu ki wes mati ning kok isih sok ngemong sik urip.”Β Kata beliau, Pak Buyut itu sudah tiada, tetapi Baca lebih lanjut

Sepagi Hujan dan Kenangan-Kenangan

Hujan lebih kencang berlari ketimbang matahari. Alhasil, bumi diguyur air dari langit sepagi ini. Banyak makhluk mengeluhkan, hujan lagi-lagi datang! Membuat semua rencana tertunda, oh tidak, parah, hujan membuat semua rencana gagal total. Di sudut-sudut pasar terdengar keluhan, air mulai bikin semuanya becek. Di sudut-sudut kampus terdengar keluhan, dingin membuat mahasiswa malas belajar. Boro-boro belajar, ke kampus saja jadinya malas.

Hujan. Selalu membawa perbandingan dengan kemarau. Ya, beberapa orang lebih menyukai musim kemarau daripada musim penghujan. Beberapa yang lain lebih menyukai penghujan daripada kemarau, dengan berbagai alasan. Semua makhluk sepertinya dikaruniai Tuhan dengan anugerah yang sama, sama-sama susah mensyukuri apa yang sedang Tuhan kasih.

Sebagaimana yang lain, rasanya saya juga sama. Terkadang menjadikan hujan sebagai kambing hitam, sebagai alasan atas beberapa kekecewaan saya.

Hujan. Sebentar, saya mulai mengingat-ingat kenangan saya ketika hujan. Rasanya hujan memiliki kelebihan dalam membungkus kenangan manusia. Ya. Baca lebih lanjut

Saya Takut Kehilangan Mereka

“Tumben malam kali ini dingin,” kata seorang ibu di depanku. “Padahal, nggak biasanya aku merasa begini dinginnya,” tambahnya. Tentu saja percakapan itu sudah saya alihbahasakan ke Bahasa Indonesia. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari penggalan kata tersebut. Secara, memang tempat tinggal saya di kaki gunung, dan dingin menjadi fenomena yang tidak langka. Hanya, saya jadi kepikiran, tentang “dingin” yang lain. Ya, dingin yang di dalam sini, di sudut hati saya.

Semua perempuan pastilah memiliki kelebihan dalam menggambarkan perasaan yang tengah mereka alami. Ya, karena mereka ditakdirkan sebagai makhluk perasa. Begitu juga dengan saya, yang juga seorang perempuan. Kadang, saya dengan mudah membagi perasaan senang atau sedih ke teman-teman, bahkan sering perasaan itu saya sampaikan dengan gaya lelucon. Tapi, tetap saja, perasaan yang terdalam terlalu membuat saya bisu.

Ini bukan soal “dingin” karena perasaan galau dengan percintaan, atau nelangsa karena status kejombloan yang tengah saya sandang. Bukan, bukan masalah percintaan, mantan pacar, atau hal-hal galau ala anak muda zaman sekarang. Saya katakan, saya tidak lebih baik dari mereka yang suka menggalaukan urusan percintaan, tapi bagi saya saat ini Baca lebih lanjut

Mesin Motivasi #2

Saya tidak begitu yakin memberi judul untuk postingan 2x terakhir dengan “Mesin Motivasi”. Em, sebenarnya subjektif sekali. Akan tetapi, saya akan tetap melanjutkannya, setidaknya untuk postingan kali ini.

Setelah mencoba berdamai dengan ego, mencari cara untuk tetap selalu mensyukuri apapun yang terjadi pada saya (tentu saja pada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan saya), dan belajar bersikap dewasa nrimo ing pandum, maka yang harus saya sadari selanjutnya adalah bahwa saya tidak pernah benar-benar hidup sendiri, sesepi apapun yang saya rasakan tentunya. Saya tidak pernah sendiri dalam setiap kesulitan-kesulitan dan masalah. Tentu saja selalu ada Tuhan yang membelai kelelahanku, ada orang tua yang setia menyayangiku, ada saudara (adik/kakak), keluarga besar, ada teman dan sahabat. Mereka tidak pernah benar-benar meninggalkan kita tentunya, dalam keadaan separah apapun kita. Baca lebih lanjut

Mesin Motivasi #1

Belum lama, mungkin baru dua malam kemarin, saya iseng mengulang kebiasaan lama: memutar radio sebelum tidur. Pas banget badan lagi pegel, pikiran lagi ruwet, hidup juga lagi kesepian (haha), rasanya butuh cari pencuci otak biar fresh! Alhasil, saya dengarkan radio saja. Jadi teringat masa lalu, suka denger radio, terus suka sms-sms request lagu. Seneng banget rasanya pas mas/mbak penyiar membacakan sms saya yang biasanya suka saya selipi kata-kata gombal atau puisi-puisi, ihiw! Nostalgia, dek! Em, lanjut… Dua malam kemarin itu, saya dengar semacam motivasi-motivasi gitu. Biasanya saya nggak begitu suka menyimak kata-kata dari sang motivator. Em, entah kenapa, semenjak saya dengar dari teman saya ungkapan semacam ini, “Hidup tak semudah omongane Mario Teguh” saya mulai mengamininya. Tapi, malam itu saya cuma sekilas dengar, itu pun bukan Pak Mario yang bilang, bahwa “Kita tak akan pernah merasa bahagia jika hati kita kotor, penuh dengan pikiran-pikiran buruk dan prasangka-prasangka buruk terhadap hal-hal di luar diri kita, bahkan terhadap hal-hal di dalam diri kita, apapun itu!” Intinya begitu. Dan, eng-ing-eng untuk alasan apapun itu, saya tidak bisa mengelak dari pernyataan tersebut. πŸ™‚ Saya akan belajar untuk menerapkan itu dalam hidup saya ke depan, ini serius! Hahaaa.

November kali ini akan jadi pengingat untuk November-Novemberku tahun-tahun depan, jika saya masih ada umur. Baca lebih lanjut

De-wa-asa

Dewa-asa, dew-a-sa, dewasa.
“Menjadi dewasa, berarti semakin sedikit alasan kita untuk bisa tersenyum”. Ya, itu sepenggal dialog yang saya dengar dari sebuah film. Bagi saya sendiri, teramat sulit mengatakan bahwa saya memang sudah dewasa. Terkadang, saya merasa beberapa kali bisa bersikap laiknya orang dewasa. Misalnya, pernah suatu waktu saya menyembunyikan perasaan jengkel dan atau sedih di depan orang lain, seolah memang saya baik-baik saja. Malahan, saat seperti itu saya sok menasihati atau menghibur teman dengan geguyon yang suka saya ciptakan. Entah itu bagian dari sikap seorang dewasa atau bukan, tapi bagi saya, menyembunyikan keruwetan pribadi di depan orang lain adalah sikap dewasa. Kita percaya bahwa kita sendiri akan mampu menyelesaikan konflik pribadi tanpa harus diumbar ke orang lain. Walau begitu, kadang-kadang saya tidak sekuat apa yang saya pikirkan.

Sekali lagi, saya sebenarnya juga belum memahami secara “pasti” konsep dewasa menurut pandangan Baca lebih lanjut

Pagi dan Sebatang Coklat

Kisah pagi, dengan sebatang coklat.
Nikmat apa lagi yang kau cari?
Secangkir kopi hangat?
Ya.

Agaknya, kau tak pernah merasa puas
Pada apa-apa yang sudah kau genggam.
Bagaimanalah aku bisa puas,
Kau, tak mau juga kurengkuh.

Lantas, kau putus asa?
Hanya karena, kau merasa kesusahan?
Tidak.
Aku punya semangat berlapis baja.
Ah, apa iya?

Jadi?
Kau akan berlari atau diam begini saja?
Sudah kukatakan,
Aku ingin berhenti sejenak,
Menyeruput kopi.
Ah! Kopinya tak ada.

Nah! Kau lagi-lagi kecewa,
Pada apa-apa yang belum bisa kau punyai.
Ya.
Itu manusiawi.

Manusiawi kau bilang?
Lihat! Orang lain tak seburuk kau.
Mereka bahkan jauh lebih nelangsa daripada kau!
Oh begitu, aku baru tahu.

Toh lebih banyak orang yang tidak pernah dihinggapi rasa nelangsa.
Tentu kau tak tahu itu, bukan?
Aku tahu, karena mereka sudah punya segalanya.
Tak seperti aku.

Astaga! Harus bagaimana aku mengajarimu untuk tahu makna kehidupan?
Haha, kau tak perlu berbuat apa-apa.
Diamlah di situ, biarkan aku belajar sendiri.
Aku akan tahu sendiri bagaimana caranya.

Tentu saja aku akan diam.
Kau yang akan datang padaku, kan?
Iyalah! Sudah kukatakan, pribadiku memang buruk, tapi semangatku berlapis baja.
Ya, aku tahu.

Maka, aku akan benar-benar diam, kau pasti datang padaku.
Semoga, dalam perjalananmu kau dapat mengerti,
Bagaimana mestinya kau bersikap, pada kehidupanmu yang berat.
Sampai jumpa.
Rengkuhlah aku, karena aku adalah impianmu.