Saya Tidak Sedang Jatuh Cinta

Hai🙂
Sebelumnya, itu judul postingnya nyinyir banget! Terlalu panjang dan alay, hahaaa.
Jadi begini, seharian tadi, entah kenapa kok hidup saya dipenuhi dengan hal-hal yang bersentuhan dengan puisi. Rasanya jadi kayak balik ke semester III belajar puisi dengan Prof. Suminto A. Sayuti, asik!

Kuliah perdana Penulisan Kreatif Sastra di akhir pertemuan ada semacam game. Intinya dosen meminta semua mahasiswa mencipta sebait puisi. Apa? Mencipta puisi secara spontan tanpa ritual? Ini sangat menyiksa! (Ternyata tidak cuma saya yang merasa kesulitan, beberapa teman terlihat cengengas-cengenges saja bukannya nulis puisi). Dalam hati saya berkata, “Bu Dosen, saya butuh untuk merasa jatuh cinta sehingga saya bisa mencipta sebait puisi.” Dan beberapa detik kemudian, “Apakah saya bisa memastikan kalian semua telah selesai membuat sebait puisi?” Kata Bu Dosen sembari mengelilingi kita. Zzzttt banyak yang belum selesai. Hingga pertanyaan yang sama berulang tiga kali, baru kita semua sudah selesai. Bait pertama puisiku begini:
Aku mencintaimu
dalam teduh pandanganku
dalam diamku yang bisu
Tentu saja aku tahu
mencintaimu, aku tak perlu menjadi sesuatu

Settelah satu bait tercipta, permainan dimulai. Satu, dua, tiga, … kertas diputar. Sampai tiba di suatu hitungan dan berhenti. Tugas kita selanjutnya adalah membaca puisi teman yang kita dapat, dengan aturan motif-motif baju. Misal: yang membaca puisi mahasiswa yang berbaju batik. Lalu dibacalah puisi di kertas yang kita pegang. Belum selesai sampai di situ, kita harus membuat bait ke-2 untuk melanjutkan puisi tersebut. Kebetulan seorang teman bernama Feni yang mendapat puisiku. Ia melanjutkan begini:
Apakah sesuatu itu akan ada
Apakah sesuatu itu akan menggodaku
Apakah sesuatu itu akan menjadi kita satu
Entahlah…hanya sesuatu yang tahu

Aturan permainan diulang lagi, kertas berputar. Giliran kita melanjutkan bait ke-3. Kebetulan seorang teman bernama Iza yang melanjutkan puisiku, begini:
Aku tak perlu jadi sesuatu
Jika hanya untuk mencintaimu saja,
aku harus menghapus sesuatu dalam diriku
karna aku tahu
sesuatu seperti apa yang menjadikan kita ada

Pada alur ke-2 dan ke-3 setiap puisi siap-siap dilanjutkan dengan tidak bertanggung jawab. Setiap penulis (awal) harus legowo dengan ke-authis-an teman dalam melanjutkan bait-bait puisinya. Mungkin beberapa puisi pada akhirnya tercipta sesuai keinginan penulis. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan banyak oknum yang ngawurr. Alur ke-4, hitung lagi dan berhenti. Sekarang saatnya memberi judul. Kebetulan seorang teman bernama Hasan memberi judul pada puisi saya dengan kata yang fenomenal: SESUATU

Tak hanya sampai di situ, sepulang dari kuliah saya kembali ikut ke PPM Dosen di KEMENAG DIY. Di sana sedang dibahas penilaian otentik pembacaan puisi. Mengupas puisi karya Chairil Anwar, Sajak Putih.

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka,
Antara kita mati datang tidak membelah

Di rumah, malamnya, entah mengapa, saya merasa lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Sebenarnya saya pengin menulis sebuah puisi. Mungkin saya terlalu lelah memikirkan beberapa deadline yang masih juga mengawang. Akhirnya, saya putar pembacaan puisi WS Rendra dan Afrizal Malna. Hari ini hidupku penuh puisi🙂

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s