Mencintai Mentari

Malam ini, ada sepenggal tulisan pendek diantara kebimbangan menyusun laporan PPL dan editing naskah siswa. Em, memang seharusnya kita mencintai “menulis”, apapun itu bentuknya dan bagaimanapun waktunya, entah luang entah mendesak.

Semburat senja menghiasi langit sore, kala kita duduk berdua di tepi danau, memandang pada air, pada bayangan kita sendiri. Kau tak pernah bosan rupanya, mengajakku ke tempat yang sama, dengan waktu yang rata-rata sama juga, sore hari ketika langit biru beradu dengan orange. Pernah suatu kali, aku mengusulkan padamu untuk menghabiskan sore di tempat lain. Di pinggiran rel kereta api misalnya. Tentu saja pemandangan akan lebih indah, banyak manusianya, bukan hanya memandang air tenang yang membias wajah sendiri. Tapi, kau tidak suka rupanya. Katamu, di dunia ini sudah terlalu banyak hal yang ruwet, jadi mencari ketenangan adalah obat penawarnya. Sebenarnya, aku tidak mutlak menyalahkan pemikiranmu itu. Terkadang memang kita butuh untuk berdiam sejenak, menghitung detik berganti secara perlahan dengan perasaan hati yang adhem-ayem.

Pada akhirnya, waktulah yang teramat sadis memisahkan kita, menyisakan seberkas kenangan antara aku, kau, senja, dan danau. Bagiku, mengenalmu adalah satu hal indah dalam hidupku. Bagaimana tidak? Tentu kau masih mengingat awal perjumpaan kita. Memang, tidak ada yang istimewa, hanya perkenalan biasa. Kau memanggil lelaki yang sedang menggandeng tanganku, kalian bersapa akrab, rupanya kalian teman dekat. Lantas lelaki di sampingku mengenalkanku padamu. “Hai” begitu yang bisa mewakili kegugupanku ketika mata kita saling beradu. Aku belum pernah melihat mata lelaki seteduh itu sebelumnya. Lantas, waktu berjalan begitu cepat, antara kita pun berteman semakin dekat, melebihi pertemananku dengan lelaki yang menggandeng tanganku sewaktu kita bertemu dulu. Entah, sihir apa yang kau pakai.

Aku masih belum tahu, malaikat apa yang sebenarnya ada dalam dirimu. Dulu, sewaktu aku masih kecil, ibuku sering menceritakan padaku tentang malaikat. Kata ibu, salah satu malaikat adalah jelmaan ayah yang sudah tiada. Ia memiliki tubuh yang selalu memancarkan cahaya. Wajahnya tampan, dan matanya teduh. Kata ibu, kelak ketika aku dewasa, aku akan bertemu dengan malaikatku, seperti dulu ketika  ibu bertemu dengan malaikatnya itu.

Lalu, bagaimana dengan hubungan kita? Seperti teka-teki silang, pilih yang mendatar atau yang menurun, semua jawaban harus saling berpadu huruf dengan jawaban yang lain. Begitulah hubungan kita, susah diterjemahkan. Begitu juga dengan penilaianku terhadapmu, susah diungkapkan. Membicarakan hal-hal tentangmu seperti memaksa penyumbat masuk ke dalam mulutku. Tentu kau paham mengapa bisa kukatakan begitu. Aku bukan tipe wanita yang rapuh, yang selalu membutuhkan lelaki sebagai sandaran. Kau juga bukan tipe lelaki melankolis, yang selalu mengumbar cerita mengharu-biru tentang beratnya hidup yang kau jalani.

Kita berteman sebatas keindahan antara danau dan senja. Dan sekarang, antara aku dan kau harus tunduk pada kehendak waktu. Dimana kita harus berpisah. Melupakan kisah antara aku, kau, senja, dan danau. Kini, aku harus belajar mencintai mentari, bukan lagi memuja senja seperti yang selalu kita lakonkan bersama. Mencintai mentari, seolah-olah kau ada di sampingku, menuntunku memahami nilai keindahannya, persis seperti ketika kau menunjukiku cara mencintai senja.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s