Saya Tidak Sedang Jatuh Cinta

Hai πŸ™‚
Sebelumnya, itu judul postingnya nyinyir banget! Terlalu panjang dan alay, hahaaa.
Jadi begini, seharian tadi, entah kenapa kok hidup saya dipenuhi dengan hal-hal yang bersentuhan dengan puisi. Rasanya jadi kayak balik ke semester III belajar puisi dengan Prof. Suminto A. Sayuti, asik!

Kuliah perdana Penulisan Kreatif Sastra di akhir pertemuan ada semacam game. Intinya dosen meminta semua mahasiswa mencipta sebait puisi. Apa? Mencipta puisi secara spontan tanpa ritual? Ini sangat menyiksa! (Ternyata tidak cuma saya yang merasa kesulitan, beberapa teman terlihat cengengas-cengenges saja bukannya nulis puisi). Dalam hati saya berkata, “Bu Dosen, saya butuh untuk merasa jatuh cinta sehingga saya bisa mencipta sebait puisi.” Dan beberapa detik kemudian, Baca lebih lanjut

Mencintai Mentari

Malam ini, ada sepenggal tulisan pendek diantara kebimbangan menyusun laporan PPL dan editing naskah siswa. Em, memang seharusnya kita mencintai “menulis”, apapun itu bentuknya dan bagaimanapun waktunya, entah luang entah mendesak.

Semburat senja menghiasi langit sore, kala kita duduk berdua di tepi danau, memandang pada air, pada bayangan kita sendiri. Kau tak pernah bosan rupanya, mengajakku ke tempat yang sama, dengan waktu yang rata-rata sama juga, sore hari ketika langit biru beradu dengan orange. Pernah suatu kali, aku mengusulkan padamu untuk menghabiskan sore di tempat lain. Di pinggiran rel kereta api misalnya. Tentu saja pemandangan akan lebih indah, banyak manusianya, bukan hanya memandang air tenang yang membias wajah sendiri. Tapi, kau tidak suka rupanya. Katamu, di dunia ini sudah terlalu banyak hal yang ruwet, jadi mencari ketenangan adalah obat penawarnya. Sebenarnya, aku tidak mutlak menyalahkan pemikiranmu itu. Terkadang memang kita butuh untuk berdiam sejenak, menghitung detik berganti secara perlahan dengan perasaan hati yang adhem-ayem.

Pada akhirnya, waktulah yang teramat sadis memisahkan kita, menyisakan seberkas kenangan Baca lebih lanjut

Materi Tema 1: “Gemar Meneroka Alam Semesta”

BFuxfEyCEAAGBez.jpg largeHai, salam πŸ™‚
Untuk siswa-siswi kelas X IPA 1, X IPA 2, dan X IPA 3 SMA N 1 Sleman tahun 2013/2014, terima kasih telah memberi memori indah untuk Mbak Uss. Tawa, ceria, juga terkadang nakal kalian tidak akan pernah saya lupakan, saya simpan indah dalam bingkai kenangan. Bagi saya, kalian adalah mutiara cemerlang, kalian seperti nyala api yang meletup-letup penuh gairah. Sampai kapan pun, kalian tetap jadi mutiara, satu hal yang teramat berharga keberadaannya. Maafkan saya jika banyak salah, maaf jika selama proses belajar-mengajar banyak hal yang membuat kalian tidak nyaman, pun dengan begitu banyak tugas yang harus kalian tunaikan. Kemarin, boleh jadi saya yang berdiri di depan kelas kalian, empat atau lima tahun lagi tentu saja kalian yang berdiri di sana. Tetap semangat, tetap sehat dan saling menghargai πŸ™‚
Sampai jumpa pada kesempatan yang lain, mungkin kalian mau main-main ke UNY, atau main-main ke Turi, silakan πŸ˜€

Baiklah, untuk sedikit materi pada tema 1 “Gemar Meneroka Alam Semesta” yang pernah kita ulas bersama bisa kalian download di sini. Untuk soal Ulangan Harian 1, bisa kalian download di sini.

Tresno Jalaran Saka Kulino

559278_737234336302505_657976550_n

Cie, judulnya sangar! Tresno jalaran saka kulino yang kalau dibahasaindonesiakan kurang lebih seperti ini: rasa cinta muncul karena terlalu sering bertemu. Sebelumnya, tresno yang saya maksud di sini bukan antara seorang cowok yang jatuh cinta pada seorang cewek, tapi lebih pada rasa tresno sebagai seorang teman, sahabat, atau konco. Postingan kali ini, saya persembahkan untuk teman-teman “Amoeba” KKN-PPL UNY dan UIN 2013 SMA N 1 Sleman. Kenapa untuk mereka? Karena saya ingin menyatakan pada mereka bahwa saya tresno, hahaaa. Mungkin malam ini mereka sedang tepar karena aktivitas sekolah seharian tadi yang sangat padat. Namun, saya akan tetap melanjutkan catatan ini.

Baiklah, setiap orang pasti bahagia memiliki banyak teman, begitu juga saya. Saya ini tipe anak yang mudah membuka diri untuk pertemanan, ya walau saya banyak cengohnya sih. Bahkan, saya punya prinsip, biarlah saya tidak memiliki pacar dulu asalkan saya memiliki banyak teman, itu jauh lebih membahagiakan. Dan, kali ini episode pertemanan saya bersama teman-teman KKN-PPL, teman yang untuk beberapa bulan terakhir ini paling dekat dan paling sering ketemu (ya iyalah wong nggak ketemunya cuma Hari Minggu aje!) .

Awal perjumpaan saya dengan mereka ya karena ada program KKN-PPL itu. Em, terima kasih untuk UNY ya! Masih ingat dulu ketika semester 5 ruwet-ruwetnya persiapan pentas drama sudah harus online rebutan lokasi PPL. Alhasil, alhamdulillah saya dapat sesuai keinginan yaitu di SMA N 1 Sleman. Awalnya di benak saya cuma kepikiran begini, KKN di sekolahan yang dekat dengan rumah kan asik, saben hari pulang kampung, irit. Saya tidak pernah berpikir terlalu abot besok teman KKNnya kaya apa, asik-asik apa nggak, mudah sosialisasi apa nggak, dll. Semua mengalir saja. Hingga akhirnya kami mulai kenalan via group fb, lalu Baca lebih lanjut

Ngamplah

Baru tiga bulan ini saya dengar istilah “Ngamplah”. Awalnya penasaran juga, “apasih ngamplah itu?” Jadi, itu kosakata datang dari seorang teman KKN-PPL jurusan Matematika dari Wonogiri. Jadi itu, kalau di Jogja ngamplah adalah muspro, sesuatu hal yang sia-sia belaka. Jadi, ceritanya, siang ini kita-kita PPL SMA N 1 Sleman juga lagi pada ngamplah. Para calon guru ini tidak punya pekerjaan ngajar karena hari dipakai untuk kegiatan lomba-lomba siswa dalam rangka lustrum. Alhasil, semuanya pada autis dewe-dewe.

Oh, kok malah curhat.
Oke, kembali ke judul, ngamplah. Begini indahnya kalau bangsa itu punya banyak dialek kedaerahan. Kadang, dari satu kosakata kita bisa gunakan utnuk main-main, geguyon, atau untuk menghangatkan suasana. Bahkan, ketika misuh ada juga yang suka pakai kosakata dari daerah lain. Bicara soal ngamplah, soal kesia-siaan, Baca lebih lanjut

Bersyair

Sajak Kepada Mantan Guru SMA N 1 Sleman

Β Ini hari semakin menepi pada tepian sepi

hingga tiada kata mampu mengurai rasa

namun, sepenggal sajak ini

kupersembahkan padamu, wahai pahlawan umat

Β 

Seorang anak kecil datang padamu

dengan langkah gontai berharap menggapai asa

sungguh tiada daya anak kecil itu

tanpa lembut belaianmu, wahai penggenggam ilmu

Β 

Engkau hadir laksana seberkas cahaya

penerang pada gelap hati para siswa

Kau tuntun kami meraih cita-cita

terima kasih untuk seluruh jasa

tentu kami tidak akan lupa

Kemarin sore dapat tugas PPL untuk bikinkan puisi di lustrum, itu hasilnya. Alibinya karena terburu-buru dan banyak tugas lain, maka digawe sebisanya saja. Padahal, emang nggak bisa coy!

Bicara soal puisi, saya jadi ingat kenangan sekitar satu tahun yang lalu.Β  Mahasiswa semester 3 PBSI semua kudu menempuh mata kuliah Apresiasi puisi. Nah, karena pementasan baca puisi ditiadakan oleh pihak jurusan, maka kelas kami (LCD) berinisiatif membuat forum baca puisi sendiri saben Rabu sore po ya, pokoknya ada satu sore yang kelas kumpul-kumpul di hutan pinus UNY buat bersyair. Rasanya bahagia aja, bisa bacain puisi karya sendiri di depan Baca lebih lanjut

Pertanyaan

indexSelamat sore πŸ™‚
Ini pulang PPL, pisan-pisan nulis ah!
Sebenarnya saya juga masih bertanya-tanya di dalam hati, “Apa yang mau saya tulis? Sementara tugas yang harus saya selesaikan begitu banyak!” Nah, begitu lho biasanya saya berkomentar kalau mau nulis apa, atau mau baca apa. Ujung-ujungnya pasti kepentok masih banyak tugas kuliah, tugas KKN, atau tugas organisasi yang harus saya kerjakan. Lantas, saya menunda upaya untuk belajar menulis, atau sekedar membaca novel ataupun cerpen yang entah sudah saya beli sejak berapa tahun yang lalu. Mungkin tulisan ini, bisa sedikit menyadarkan saya, dan membuktikan bahwa saya bisa tidak menjadikan aktivitas menulis dan membaca itu hanya dilakukan di waktu senggang saya. Akan tetapi, justru waktu yang saya luangkan untuk menulis atau membaca. Jadi, nanti saya akan mendapatkan sebuah pernyataan semacam ini: “Luangkanlah waktumu untuk belajar menulis atau membaca (apapun itu), bukan belajar menulis atau membaca cukup di waktu luangmu saja”.Β  πŸ™‚ Karena sudah mendapatkan pernyataan semacam itu, maka saya tinggal belajar konsisten. Yap! Berat sekali tentunya di “konsisten”nya itu.

Saya tidak akan melanjutkan tulisan tentang belajar konsisten itu. Takutnya malah jadi sok menggurui. Parahnya, kalau sudah sok menggurui gitu, eh eh sayanya malah nggak bisa memegang Baca lebih lanjut