Jodohku Masih Disimpan Tuhan

imageskkBarusan saya coba cek tulisan-tulisan saya di blog ini yang sudah-sudah lampau. Ada perasaan semacam “Wuh, sangar! Aku di masa muda bisa nulis kaya gitu.” Ada juga komentar semacam, “Idih, alay ya aku dulu, hoek!” Hahaaa.

Sebenarnya pengin, kapan-kapan nulis sebuah renungan setelah membaca novel, atau cerpen apa gitu. Untuk saat ini sepertinya belum bisa saya lakukan. Terlalu banyak hal mengganggu yang belum bisa saya uraikan. Em, untuk saat ini, akan saya penuhi dulu keinginan untuk membicarakan seputar: cinta dan jodoh.

Sebelumnya, selamat Hari Pramuka 14 Agustus 2013, Satyaku Kudharmakan, Dharmaku, Kubhaktikan.

“Semoga jodohku datang sebelum akhir tahun ini.” Begitu status fb seorang teman yang pernah kubaca. Pertama-tama, saya agak nggak suka kalau baca status fb yang isinya semacam doa atau pengharapan apalagi ditujukan kepada Tuhan. Akan tetapi, saya selalu mengingat bahwa semua itu adalah hak asasi manusia untuk mengeluarkan pikiran. Begitu. Lanjut tentang jodoh, saya sendiri sampai usia yang sekarang sudah menginjak 21 masih saja belum terpikirkan lebih dalam soal jodoh. Bagaimana mau mikir jodoh, kkn-ppl saja belum selesai, skripsi apa kabar? Heheee. Kalaupun terpaksanya ada yang tanya tentang pacar, jodoh, atau cinta, saya jawab sebisanya saja. Sebisa saya ngeles bahwa saya lebih nyaman untuk menjalani hari-hari ini sendiri saja, tanpa seorang pasangan yang banyak orang menyebutnya: pacar. Kenapa? Em, sebenarnya saya dulu pernah punya seseorang yang banyak orang menyebutnya: pacar. Itu pengalaman pertama saya, merasakan asmara yang anak-anak muda lainnya rasakan di masa mereka jaya. Itu juga tidak bertahan lama, cuma sekitar 1 tahun 1 bulan saja. Dan, bagi saya, satu tahun itu cukup untuk membuat saya banyak belajar tentang bagaimana rasanya punya pacar, bagaimana rasanya menjadi anak muda seperti yang lain. Padahal, dulu saya punya keinginan bahwa, misalpun juga saya punya pacar, saya tidak ingin seperti anak-anak muda yang lain, yang mudah berganti-ganti pacar, mudah bilang cinta sama dia, sama dia. Akan tetapi, saya mengharapkan sebuah hubungan yang ada tanggung jawab dan komitmen. Bukan apa-apa, saya cuma tidak bisa membayangkan saja, semisal kelak saya sudah bersuami, lantas suatu saat saya harus bertemu dengan mantan-mantan pacar saya. Ih! Kenapa saya bilang banyak belajar saat itu, karena memang dalam satu tahun itu saya bisa membedakan banyak hal, juga pada akhirnya saya bisa tahu bahwa: punya pacar justru tidak membuat kita lebih baik, apalagi dalam menjaga diri sebagai seorang wanita. Lantas, saya putuskan untuk mengakhiri hubungan yang orang-orang menyebutnya: pacaran. Sebenarnya saya merasa bersalah juga, memutuskan sepihak ikatan itu, apalagi mengingat kata-kata yang pernah saya atau dia ikrarkan. Tapi, namanya sudah ya sudah kan? Dan semua harus disudahi dengan baik-baik. Juga, semua kata yang pernah diikrarkan harus diyakini bahwa tidak kekal adanya.🙂 Sampai saat ini, saya belajar banyak untuk ikhlas, dan saya bisa ikhlas lho! Ikhlas akan semua kenangan baik manis atau pahit, ikhlas pada semua hal baik itu indah atau menyakitkan, baik itu terungkapkan atau cukup dirasakan dalam hati. Pada akhirnya luka akan punya caranya sendiri untuk sembuh, juga kenangan punya waktunya sendiri untuk terlupakan.

Sesudah tentang itu, lantas apa lagi yang musti saya katakan? Saya belajar tidak pernah iri hati pada teman-teman saya yang langgeng membina hubungan dengan pacarnya. Karena memang untuk saat ini saya tida kepengin punya pacar. Saya juga tidak merasa iri hati dengan teman-teman saya yang sudah menikmati indahnya bahtera pernikahan, menikmati bahagianya memiliki suami dan anak. Saya hanya berdoa dan berpikir untuk kelak jika tiba waktunya saya juga akan merasakan sebahagianya mereka, bahkan jauh lebih bahagia dari mereka.

Saya selalu memiliki keyakinan bahwa: jodoh ada di tangan Tuhan. Tapi, saya juga percaya bahwa: jika jodoh tidak diusahakan, maka Tuhan tidak akan menunjukkan. Lantas, saya mulai berpikir, “Bagaimana saya bisa menemukan seseorang yang pasti dia itu adalah jodoh saya?” “Apakah jodoh selalu datang dari orang-orang yang dekat dengan keseharian kita?” “Bagaimana saya bisa mempersiapkan diri saya sebelum jodoh menjemput saya?”, dll. Em, secara hemat saya, begini: Tuhan menciptakan segala sesuatu itu secara berpasang-pasangan. Maka, setiap makhluk di dunia ini tentu saja memiliki jodohnya masing-masing. Jika ada yang mudah dalam mendapatkan jodoh, pasti juga ada yang sulit dalam mendapatkan jodoh. Setiap perjuangan dan usaha itu berbanding lurus dengan hasil.  Lebih hematnya lagi, terutama untuk diri saya sendiri: Wanita yang baik berjodoh dengan laki-laki yang baik. Maka, untuk memperoleh laki-laki yang baik, saya harus senantiasa memperbaiki diri dulu. Tentu saja, Tuhan tahu dimana letak batas usaha saya. Pada akhirnya, tawakal adalah ikhtiar tertinggi🙂

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s