Aku, Senja, dan Sebuah Pelajaran

Sejak mengenal puisi, aku jadi sering ketemu sama “senja”. Diksi yang satu itu kerap banget dipakai sama penyair-penyair. Entah, aku juga nggak paham apa alasannya. Mungkin, memang dari sisi good looking-nya ya. Secara, senja emang cantik, bukan begitu?🙂

Antara aku dan senja kali ini,  tidak jauh beda dengan senja yang sebelum-sebelumnya. Hanya saja, tadi itu aku mendapatkan satu pelajaran hidup berharga. Em, kalau boleh, akan aku buatkan cerita fiktifnya seperti di bawah ini.

Matahari baru saja menuju peraduannya, sinar senja berhias aroma buka puasa. Jam dinding menunjukkan pukul 17. 05 WIB. Riuh anak-anak menunggu waktu berbuka sembari melempar-lempar petasan, dar! cedar! cethar! Suasana Ramadhan di desa memang indah, kesannya lebih damai dan harmonis dibandingkan di perkotaan yang  macet.

Sementara itu, Mbok Yem masih saja sibuk dengan urusan mencari nafkah. Bukannya menyiapkan menu berbuka puasa, ia justru sibuk menata salak-salak dari tenggok ke keranjang. Melihat seseorang lewat di depannya, ia menghentikan pekerjaannya. “Mau kemana Mbak Us?” Tanya beliau. “Ini mau beli korek Mbok, pengin nyumet petasan juga kaya anak-anak, hehe.” Jawabku. “Masih sibuk aja Mbok? Kok nggak istirahat sudah mau buka puasa ini,” lanjutku. Muka Mbok Yem yang sumringah mendadak berubah. Agaknya ada yang salah dengan pertanyaanku. “Ini masih harus menata salaknya Mbak Us, lare-lare minta dibelikan ini-itu. Maklum anak kecil, nggak tau kebutuhan orang tua kalau mau lebaran gini. Apa-apa maunya dituruti saja.” Begitu keluhnya. Aku jadinya speechless, cuma bisa membalas dengan senyuman.

Langit seolah sepakat menyuguhkan latar yang syahdu untuk percakapanku ini, tiba-tiba mendung. Aku belum beranjak dari tempat berdiriku, Mbok Yem sepertinya masih ingin melanjutkan bicaranya. Aku menunggu saja. “Kemarin itu, adik saya ngasih uang ke anak-anak. Terpaksanya saya pakai dulu, Mbak. Ini baru pertama kali saya pakai uangnya anak-anak. Rasanya sedih sekali. Tapi, mau bagaimana lagi. Kebutuhan banyak banget, pemasukan nggak ada. Salak sudah jarang, nggak ada yang lain lagi.” Begitu ceritanya. “Em, ingkang sabar, Mbok. Anak-anak Mbok juga tidak rewelan kok, pasti bisa memahami kebutuhan ibunya'” kataku berusaha menentramkan. “Tadi yang tengahan sudah ribut minta ini-itu. Yang bontot juga ikut-ikutan rewel. Yang gedhe dewe dari kemarin sudah uring-uringan. Duh, saya sampe bingung mau gimana. Saya nggak tega lihat mereka sedih, tapi saya juga belum bisa belikan apa-apa. Masa mau belikan baju lebaran musti ngutang, Mbak. Saya malu.” Begitu sambungnya.  Seketika hujan deras di hatiku. Di luar, langit pun mulai dililit rintik-rintik hujan.

Begitu sekilas cerita fiktif dari pelajaran hidup yang aku dapat sore tadi. Sebenarnya, agak susah juga mengungkapkan apa yang aku rasakan setelah kejadian itu. Bahwa, tidak banyak yang bisa aku sampaikan itu karena akunya yang memang susah cerita, takutnya terkesan menggurui.  Semuanya sederhana, seorang ibu yang mengeluhkan belum bisa membahagiakan anak-anaknya karena keterbatasan finansial. Sesederhana cerita dari berbagai penjuru negaraku dengan kisah yang mirip-mirip dengan Mbok Yem. Aku jadi kepikiran, bagaimana ya besok kalau aku sudah jadi ibu? Pasti trenyuh jika melihat anak-anakku belum bisa aku buat bahagia. Tapi, bagaimanapun juga, sebagai seorang anak, aku jadi paham perjuangan orang tua untuk anaknya ibarat sikil kanggo tangan, tangan kanggo sikil, awan kanggo bengi, bengi kanggo awan Begitu ruwet dan sangat keras.

Menatap lagit kala hujan jatuh,

perih menitik air mata, hati mulai tak lagi teduh.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s